YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Suara Gembala   |   Warta eRKa   |   Yang Menarik & Yang Lucu   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 50 Tahun VII / 2005 - 11 Desember 2005
SUARA GEMBALA

Yohanes Pembaptis:
Antara Kesabaran & Warta Pertobatan


Ketika Tomas Alva Edison menemukan bola lampu listrik yang sangat mempengaruhi perkembangan dunia, guru sekolahnya di masa kecil merasa heran dan menyesal. Sebab, dulu justru dialah yang mengeluarkan Edison dari sekolah karena menganggap anak ini bodoh, nakal dan sulit berkosentrasi. Sesudah dikeluarkan dari sekolah, hari-hari Edison ditemani oleh sang ibu yang dengan sabar mendampinginya; hasilnya, anak yang dianggap bermasalah itu ternyata menyimpan keingintahuan yang begitu tinggi dan memiliki otak yang jenius. Kesabaran ibunya telah memberi peluang pada Edison untuk bertumbuh dan berkembang secara luar biasa. (Baca kisahnya dalam “Ny. Edison, di mana pun anda berada, terima kasih!”)

Iman mengajarkan bahwa Allah jauh lebih sabar terhadap kita manusia. Tuhan memberi kesempatan demi kesempatan kepada manusia untuk bertumbuh dan berkembang, sepanjang manusia menyerahkan diri kepada-Nya. Gagasan ini sejalan dengan seruan Yohanes Pembaptis yang kita dengar di Masa Adven ini.

Siapa Yohanes Pembaptis? Alkitab menyebut Yohanes Pembaptis sebagai “saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu.” Orientasi / perhatian saksi adalah apa yang ia bawakan / wartakan. Ketika saksi mulai berbicara tentang dirinya / kepentingannya, maka perannya sebagai saksi kabur / hilang. Yohanes sendiri memperkenalkan diri sebagai “suara yang berseru di padang gurun”. Hakekat dari suara adalah menggema, mengumandang, menyapa serta menyentuh siapa saja; yang tergerak akan menanggapi, yang tidak tergerak akan masa bodoh. Yohanes menyadari sungguh bahwa dia hanyalah utusan. Kesadaran akan identitas inilah yang membuat Yohanes sabar dalam pewartaan dan tegas dalam prinsip pelayanannya.

Apa yang dikatakan Yohanes Pembaptis? Inti dari pewartaan Yohanes adalah seruan pertobatan, yakni membersihkan hati (mengakui dosa) dan menata sikap hidup (meluruskan jalan). Dalam diri Nabi Yesaya, warta pertobatan mengandung unsur “pengharapan” (nubuat), sedangkan dalam diri Yohanes Pembaptis, warta pertobatan sudah tidak lagi menampilkan unsur nubuat, tetapi Yohanes justru memperlihatkan kepada kita siapa itu Mesias; kemudian ia mengarahkan bagaimana kita harus bersikap dalam menyambut kehadiran Sang Mesias. Perubahan sikap hidup adalah salah satu tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar jika orang ingin selamat. Maka di Masa Adven ini dua sisi persiapan perlu mendapat tempat yang seimbang, yakni persiapan lahiriah dan persiapan batiniah seseorang.

Apa pesan bagi kita? Kita perlu menyadari bahwa ajakan pertobatan ini dialamatkan kepada semua orang. Benar bahwa Allah kita adalah Allah yang sabar dan berbelas-kasih. Kesadaran ini bukan membuat orang berkompromi dengan jalan hidupnya yang salah, tetapi
justru menjadi cambuk untuk memberanikan orang meresapi hidupnya secara lebih mendalam.

St. Paulus berpesan, agar menjadi orang Kristen sejati kita perlu memiliki tiga syarat ini: menjadi manusia gembira - bersaksi dalam doa - dan tahu bersyukur. Orang yang sadar dalam iman akan bersukacita atas karunia yang ia terima; orang yang sadar akan iman, senantiasa menjalin hubungan yang akrab dengan Tuhan dalam doa, doa menjadi kekuatan baginya dalam pergumulan hidup tiap-tiap hari; akhirnya orang yang sadar akan iman, tidak lupa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan.

Semoga antara harapan dan warta pertobatan Yohanes, setiap kita menemukan jalan untuk berbalik kepada TERANG yang menghantar langkah sampai pada damai sejahtera.


Rm. Gregorius Kaha, SVD