YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Suara Gembala   |   Warta eRKa   |   Yang Menarik & Yang Lucu   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Warta eRKa
Gereja Katolik Roh Kudus


  Kisah Dua Ekor Katak
  Laut Mati
  Roh Kudus: Jiwa Gereja Yang Hidup
  Matias: Anugerah dari Allah
  Doa Rosario: Sederhana Tetapi Menyimpan Pesan yang Ampuh
  Yesus yang Bangkit: Terang Terus - Terus Terang
  Bila Anda: Sulit Mengasihi, Sukar Mengampuni, Pandanglah Salib itu...!
  IMLEK: Apa Makna Iman Buat Kita?
  “Tuhan, Aku Stress...!!!”
  “Aku Tak Menemukan Tuhan di sana”
  Pencinta versus Aktivis
  Apa Jadinya...?


    Kisah Dua Ekor Katak
(Hidup itu sebuah berkat, bagikanlah)

Di bawah ini tulisan T.C. Hamlett, suatu kisah indah dengan bahasa yang sangat sederhana tetapi kaya dengan pesan kehidupan:

Dua ekor katak terjatuh ke dalam sepanci susu
(atau demikianlah apa yang saya dengar).
Pinggiran panci itu berkilat dan curam - susunya dalam dan dingin.
“Oh, apalah gunanya?” kata katak no.1, “Sudah nasib, tidak ada yang menolong. Selamat tinggal temanku, selamat tinggal dunia yang menyedihkan!”
Dan dengan berurai air mata, ia pun tenggelam.
Tetapi katak no. 2, dengan sikap yang lebih gigih, terus mengayuh dalam kepanikan,
sambil membersihkan wajahnya dan mengeringkan matanya yang keciprat susu.
“Paling tidak aku akan berenang sebentar,” katanya
(atau demikianlah yang saya dengar),
“Dunia tidak akan terbantu banyak, jika ada satu lagi katak yang mati.”
Satu dua jam ia terus mengayuh dan berenang.
Tak sedikit pun ia mengeluh, melainkan terus mengayuh dan berenang,
dan berenang dan mengayuh,
kemudian ia berhasil melompat keluar dari susu yang telah menjadi mentega!

Dua pesan yang perlu ditangkap adalah bahwa pertama, keputusasaan, apa pun alasannya, hanya akan membuat orang tidak berkembang, terus mengeluh dan memprotes, bahkan undur
atau mati; tetapi ketekunan dan kesabaran selalu membuahkan hasil. Kedua, dukungan dalam hidup bersama bagaikan roh yang memberi kekuatan dan daya untuk berjuang.

Di awal bulan Kitab Suci ini, kita menyaksikan pelantikan para pengurus lingkungan. Semoga Sabda Tuhan selalu menjadi inspirasi dan kekuatan bagi mereka dalam melayani. Dan semoga oleh pelantikan di hadapan jemaat ini, para pengurus dan umat bisa terus-menerus menumbuh-kembangkan dalam kebersamaan umat semangat guyub-rukun dan bersaudara. Sambil mengucapkan terima kasih atas kesediaan, kata bijak ini kembali boleh disebut: “Apabila anda duduk di bawah pohon yang rindang, ingatlah selalu akan orang yang telah menanamnya.” Memang manusia siapa pun tidak memulai kehidupan ini dari titik nol. Selamat melanjutkan pelayanan ini. *pgorys


    Laut Mati

Di Palestina ada dua laut yang sangat berbeda. Yang satu dinamakan Laut Galilea, yakni sebuah danau yang luas dengan air yang jernih dan bisa diminum. Ikan dan manusia dapat berenang dalam danau tersebut. Danau itu juga dikelilingi oleh ladang dan kebun hijau. Banyak orang mendirikan rumah mereka di sekitamya. Yesus pun beberapa kali berlayar di danau tersebut.

Laut yang lain dinamakan Laut Mati. Sungguh sesuai dengan namanya, segala sesuatu yang ada di dalamnya mati. Aimya sangat asin sehingga orang jatuh sakit bila meminumnya. Danau itu tidak ada ikannya. Tak ada sesuatu pun yang tumbuh di tepiannya. Dan tak seorang pun ingin tinggal di sekitar danau ini karena baunya tidak sedap.

Yang menarik tentang kedua laut itu adalah bahwa ada satu aliran sungai yang mengalir ke keduanya.

Apa yang membuat keduanya berbeda? Bedanya adalah danau yang satu menerima dan memberi; sedangkan danau yang lain hanya menerima dan menyimpan.

Sungai Yordan mengalir ke permukaan Laut Galilea dan mengalir keluar dari dasar danau itu. Danau memanfaatkan air Sungai Yordan, lalu meneruskannya kepada danau lainnya untuk juga memanfaatkannya. Sungai Yordan juga mengalir ke Laut Mati, namun tidak pernah keluar lagi. Laut Mati secara egois menyimpan air Sungai Yordan bagi dirinya sendiri. Hal itulah yang membuatnya mati. Karena ia hanya menerima dan tidak memberi.

Jika kita hidup hanya untuk diri atau kepentingan sendiri, hidup kita menjadi tidak bermutu, tidak berkualitas, mati seperti Laut Mati. Dia mati karena tidak memberi diri. Sebaliknya, jika kita membagikan hidup untuk banyak orang, hidup kita menjadi lebih bermutu. Dalam Kristus kita memperoleh makna terdalam dari hidup itu sendiri, maka seperti Laut Galilea atau disebut juga Danau Genesaret, kita alirkan rahmat dan berkat kehidupan itu juga kepada orang lain.


    Roh Kudus: Jiwa Gereja Yang Hidup

Gereja mengimani Roh Kudus sebagai pribadi ketiga dari Allah Tritunggal. Hal ini terungkap dalam syahadat iman Gereja, “Aku percaya akan Roh Kudus.” Kata “roh” dalam bahasa Ibrani disebut “Ruah” dan dalam bahasa Yunani dipakai kata “Pneuma” yang berarti angin, nafas, hembusan. Kata “pneuma” juga bisa berarti kehidupan, jiwa atau roh. Dalam bahasa Latin kata “roh” diterjemahkan dengan kata “spiritus” atau dalam bahasa Inggris “spirit” yang berarti roh, jiwa atau semangat.

Dari pengertian roh atau ruah, dapat dipahami bahwa roh adalah daya dinamis yang memberi kekuatan, semangat dan energi yang menciptakan, menghidupkan, membaharui dan menggerakkan. Kata pneuma juga dipakai dalam dunia filsafat Yunani. Aristoteles misalnya, melihat pneuma sebagai nafas kehidupan yang menjiwai semua makhluk hidup. Stoa melihat pneuma sebagai daya kehidupan yang paling menentukan segala sesuatu yang ada bahkan termasuk Allah sendiri.

Pandangan tentang pneuma dalam filsafat Yunani sebagai daya yang menghidupkan ini mirip dengan pandangan Kitab Suci. Kendati demikian tidak berarti bahwa pneuma dalam filsafat sama dengan pneuma dalam Kitab Suci. Keduanya memiliki perbedaan yang sangat mendasar.

Pertama, dalam filsafat, pneuma dilihat sebagai prinsip imanen dari segala yang ada dan berasal dari manusia, sedangkan pneuma dalam Kitab Suci adalah sebagai daya kehidupan yang dianugerahkan dan dicurahkan oleh Allah (bdk Mzm 104:29-30, Ayb 34:14-15).

Kedua, Kitab Suci memandang pneuma bersifat transendens, mengatasi manusia dan dunia. Sementara dalam filsafat Yunani pneuma sebagai sesuatu yang terikat dengan dunia, bersifat materi dan bukan sebagai pribadi Ilahi. Inilah perbedaan mendasar pneuma dalam filsafat dengan pneuma dalam Kitab Suci.

Sebagai daya Ilahi yang menghidupkan, Roh Kudus adalah sebagai jiwa Gereja. Artinya Roh Kudus adalah penggerak dan pemberi kehidupan bagi Gereja. Dari pengertian dasar ini kiranya dapatlah dikatakan juga bahwa Roh Kudus adalah daya dinamis yang memberi kekuatan, semangat dan energi yang menciptakan, menggerakkan, menghidupkan dan membaharui kehidupan Gereja.

Roh Kudus mempunyai peranan yang sangat sentral dalam kehidupan Gereja. Tanpa Roh Kudus, Gereja tidak mungkin dapat tumbuh dan berkembang. Roh Kudus adalah jiwa Gereja yang hidup. Sebagai jiwa Gereja yang hidup, Roh Kudus sangat menentukan seluruh pertumbuhan dan perkembangan kehidupan Gereja, sejak dari Gereja Perdana hingga kini dan pada akhir zaman nanti.


    Matias: Anugerah dari Allah

Pertama-tama kita mengucapkan selamat kepada Wilayah Matias (juga saudara-saudari kita), yang hari ini tanggal 14 Mei, merayakan pesta pelindungnya: Santo Matias.

Siapa itu Matias? Nama Matias, kemungkinan adalah singkatan dari kata Mattatias, yang berarti “anugerah Yahwe”. Menurut kisah, Matias bersama dengan Yusuf Barsabas dicalonkan sebagai pengganti Yudas Iskariot. Penggantian itu dilaksanakan menjelang Pesta Pentakosta. Setelah berdoa dan membuang undi, maka Matias yang terpilih untuk menjadi saksi bersama rasul yang lain. Kenapa Matias? Dalam Kis 1: 21, kita temukan alasannya “orang yang senantiasa datang berkumpul dengan kami, selama Tuhan Yesus bersama dengan kami yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus terangkat ke surga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.”

Dari sini nampak dua unsur penting yang patut kita renungkan secara khusus ketika kita merayakan pesta Santo Matias ini: Pertama, unsur sejarah; menjadi rasul mesti ada landasan yang kokoh, artinya mesti ada pengalaman pribadi tentang Yesus Kristus sehingga orang tersebut sungguh-sungguh percaya. Dan pengalaman pribadi ini, harus tumbuh dan berkembang dalam kebersamaan dengan murid-murid yang lain. Kedua, unsur kesaksian; ini menjadi konsekwensi dari pengalaman dengan Yesus. Maksudnya pengalaman hidup perlu diwartakan / dibagikan bukan supaya orang menonjolkan diri tetapi supaya kasih Yesus menjadi lebih nampak bagi banyak orang.

Peranan Matias dalam kelompokYesus? Kalau konteks panggilan Matias seperti yang digambarkan di atas maka jelas bagi kita peran yang dimainkan oleh Matias dalam komunitas para rasul itu. Pertama, penerus kedudukan dan perananYudas, yakni ambil bagian secara penuh dalam seluruh suasana kehidupan bersama mereka. Dan kedua, menjadi saksi kebangkitan Yesus di tengah dunia.

Saudara-saudari, Matias walaupun merupakan rasul pengganti, dia tidak merasa minder. Kadang posisi cadangan membuat orang merasa tidak nyaman; merasa diri tidak mampu karena itu hanya cadangan. Pesta Matias Rasul memberi pesan pada kita bahwa dalam karya pewartaan / kesaksian tidak ada cadangan; setiap orang memang diundang dan dipanggil untuk melayani. Itulah yang membuat Matias berani berjuang secara gigih dalam karya kerasulan. Semoga semangat ini menjadi juga bagian tak terpisahkan dari hidup dan karya mereka semua yang berpelindungkan Santo Matias.


    Doa Rosario: Sederhana Tetapi Menyimpan Pesan yang Ampuh

Seorang guru agama datang kepada seorang nabi dan berkata: “Ada sebuah keluarga kenalan saya, mereka tidak mempunyai anak. Mereka meminta saya untuk bertanya dan meminta kepadamu!” Nabi itu berkata: “Sejauh saya tahu, Tuhan tidak akan mengaruniakan anak bagi keluarga itu!”

Beberapa tahun kemudian, guru agama tadi mengunjungi lagi keluarga kenalannya itu. Ternyata mereka sudah memiliki dua anak yang manis dan lucu-lucu. Ketika guru agama itu bertemu lagi dengan sang nabi, dia pun berkata: “Dahulu engkau mengatakan bahwa Tuhan tidak akan mengaruniakan anak kepada keluarga kenalanku. Tetapi ternyata sekarang mereka malah memiliki dua anak!” Sang nabi menjawab: “Pasti doa seorang suci telah `mengubah' rencana Tuhan itu!”

Maka bertanyalah guru agama kepada keluarga kenalannya bagaimana mereka bisa memperoleh anak. Keluarga itu menjawab singkat: “Kami telah berdoa kepada Tuhan bersama Bunda Maria dan Ia mengabulkan doa kami!”

Sekarang kita memasuki bulan Mei, bulan Maria, kita menyadari bahwa sejarah penyelamatan umat manusia tidak lepas dari peran Bunda Maria (= Bunda Yesus). Seorang anak apapun statusnya dia lahir dari rahim seorang ibu. Sehingga sejahat apapun seorang ibu terhadap anaknya, sesederhana apapun seorang ibu bagi anaknya, dia tetap seorang ibu. Yesus Putra Allah itu lahir dari rahim Maria. Ini sesuatu yang nyata, sejarah yang tidak bisa disangkal. Saya berkeyakinan, kalau saya mengakui kehadiran Yesus, tetapi tidak mengakui keberadaan Maria, saya tidak menghargai sejarah. Kita boleh mengamati bahwa ada satu dua orang Katolik setelah mendengar komentar miring tentang penghormatan terhadap Bunda Maria dalam gereja, dengan begitu cepat goncang keyakinannya dan mengatakan: itu keliru! Apa yang keliru? Kehadiran Maria keliru? Tidak! Bunda Maria ada. Dia melahirkan Yesus. Mungkin cara penghormatan kepadanya yang keliru.

Maka di bulan Maria ini, selain berdoa bersama Bunda Maria, kita juga diajak untuk selalu mengevaluasi penghormatan kita. Bunda Maria bukan Allah, maka devosi atau penghormatan terhadap Bunda Maria pada akhirnya harus menghantar kita untuk hadir di hadapan kemuliaan Allah.

Bisa saja orang menilai doa rosario merupakan sesuatu yang sederhana, statis dan menjenuhkan, tetapi jangan lupa kuasa doa ini terjadi terus-menerus dari generasi ke generasi; misteri doa ini menjadi buah bibir dari zaman ke zaman.

Jadi, kalau kita diajak untuk berdoa rosario pertama-tama bukan supaya kita memperoleh bukti-bukti tentang misteri itu, tetapi lebih sebagai ungkapan diri untuk bersama Bunda Maria berjalan menuju tujuan kekal dengan iman dan penyerahan diri yang total kepada kehendak Allah. Tuhan telah memberikan bakat dan hidup kepada kita untuk dikembangkan, untuk kita olah dan pada waktunya semuanya itu akan dipertanggung-jawabkan.

Maka dalam konteks penghormatan, jagalah supaya cara devosi kita kepada Bunda Maria tidak keluar dari inti ajaran iman. Karena cara devosi yang keliru justru tidak menumbuh-kembangkan iman, tetapi menyesatkan iman kita sendiri.


    Yesus yang Bangkit: Terang Terus - Terus Terang

Tidak ada saksi mata yang melihat langsung “bagaimana” Yesus bangkit; serdadu penjaga
makam pun tidak. Bahkan mereka disogok untuk memberi keterangan palsu tentang misteri ini. Semua kisah dalam Injil berfokus pada “akibat” dari kebangkitan. Batu penutup makam terbuka; kubur yang kosong; kain kafan yang terbungkus rapi; malaikat yang mengatakan; semua itu adalah akibat bukan bukti.

Maka bagi yang tidak percaya: ini adalah sandiwara kebohongan; bagi yang percaya: ini adalah dasar dari pengharapan akan hidup yang baru. Kalau demikian bagaimana dengan sikap imanmu? Kepada Thomas yang meminta bukti Yesus katakan: “Engkau percaya karena melihat Aku, berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya.”

Perayaan yang berpuncak pada Paskah ini membangun kesadaraan dalam diri kita bahwa: ternyata menderita bagi orang lain adalah sesuatu yang sangat sulit; berkorban untuk kepentingan banyak orang dianggap bukan zamannya lagi, apalagi harus tunduk dan “membasuh kaki” orang atau melayani orang lain itu lebih sukar lagi. Orang lebih suka dilayani daripada melayani.

Semoga kebangkitan Yesus menghalau kegelapan dosa dan membawa cahaya atau terang bagi langkah hidup masing-masing kita. Semoga api iman kita terang-terus dan kepercayaan kita juga dibangun atas sikap terus-terang. Saudara-saudari, Yesus kita memang luar biasa! Selamat Paskah!


    Bila Anda: Sulit Mengasihi, Sukar Mengampuni, Pandanglah Salib itu...!

Seorang petani memelihara seekor elang dan beberapa ekor ayam di sebuah perkebunan besar. Aneh bin ajaib elang dan ayam itu hidup sangat rukun. Tetapi ada yang lebih aneh, setiap kali petani itu bersiul memanggil si elang, burung itu datang dan hinggap di tangannya; begitu jinak. Tetapi ketika ia memanggil si ayam, binatang itu menjauh dan terkesan sangat hati-hati.

Lalu, si elang berkata kepada ayam, “Kamu bangsa ayam tidak tahu berterima kasih. Setiap kali kita diberi makan; tetapi ketika dipanggil, kamu menjauh. Lihat kami bangsa elang; kami burung liar, tetapi kalau dipanggil, kami datang; itulah ungkapan terima kasih kami kepada tuan yang merawat kita.” Si ayam menjawab, “Hai burung elang, kamu bangsa elang tidak takut mendekat karena kamu tidak pernah melihat elang goreng, sedangkan kami setiap hari melihat ayam goreng di rumah ini.”

Kalau kita diajak untuk mengasihi, bukan karena setiap hari orang lain memberi makan pada kita; tetapi karena kita melihat kasih yang tulus dan jujur akan membawa orang kepada sukacita. Mengasihi orang lain dengan hati tulus tidak selalu mudah. Maka setiap kali anda masuk ke rumah Tuhan, anda melihat SALIB yang besar terpancang di depan altar. Sadarkah anda bahwa Salib itu pernyataan kasih paling agung dari Tuhan? Di balik salib itu anda bisa menemukan pesan: ternyata mengasihi perlu pengorbanan.

Maka kalau anda sulit mengasihi, sukar mengampuni, atau tidak gampang memaafkan, pandanglah dalam-dalam salib itu dan katakan dalam doa, “Tuhan semuanya karena kasih-Mu pada kami. Amin.”


    IMLEK: Apa Makna Iman Buat Kita?

Pada zaman dahulu, di Cina ada banyak desa. Setiap tahun pada musim semi, orang-orang desa sibuk menanam padi. Pada musim gugur mereka memanen. Hasil panen disimpan dalam lumbung sebagai persiapan menghadapi musim dingin. Tetapi setiap musim dingin tiba, penduduk desa dilanda kecemasan dan ketakutan karena kehadiran makhluk aneh yang sangat mengerikan. Di kepalanya ada lima tanduk tajam; sepasang matanya menyorot, gigi dan kukunya juga tajam. Makhluk ini sangat kuat. Kalau dia berjalan, bukit-bukit dan rumah-rumah roboh diinjaknya. Lebih gawat lagi, dia suka menangkap dan memakan manusia. Orang-orang desa memperhatikan bahwa makhluk itu hanya muncul setahun sekali. Dia datang pada malam Tahun Baru dan menghilang tepat tengah malam. Orang-orang desa menyebut makhluk itu Nian, yang artinya tahun. Pada malam Tahun Baru, semua orang desa mengunci diri dalam rumah. Mereka berdoa semoga mereka selamat dari serangan Nian.

Ketika Tahun Baru tiba. barulah mereka berani keluar rumah. Mereka yang lolos dari maut merasa sangat bersyukur dan saling mengucapkan, “Gong Xi! Gong Xi! Selamat! Selamat!” Orang-orang desa mengadakan perayaan selama lima belas hari. Setelah itu mereka mulai bekerja dan menanam padi lagi. Sepanjang tahun mereka sibuk, tetapi ketika Tahun Baru hampir tiba, mereka kembali dikecam ketakutan.

Setelah bertahun-tahun menjadi sasaran Nian, orang-orang desa tak tahan lagi. Mereka berkumpul untuk mencari jalan keluar. Mereka ingin mengusir Nian selama-lamanya dari desa mereka. Tetapi bagaimana caranya? Ada yang mengusulkan agar Nian dibunuh saja. Tapi usul itu ditolak oleh orang-orang yang menganggap Nian sebagai “utusan Tuhan”. Mereka takut Tuhan marah jika makhluk itu dibunuh. Orang-orang desa itu jadi kebingungan. Mereka tak dapat mencapai kata sepakat. Beruntung ada Guru Zhao. Dia dengan tegas mengatakan bahwa Nian adalah makhluk jahat, bukan utusan Tuhan. “Tuhan memberkati dan melindungi kita. Dia tak mungkin mengirim makhluk seperti Nian untuk membunuh kita,” kata Guru Zhao. Guru Zhao benar, orang-orang desa juga setuju. “Agar dapat mengusir Nian,” ujar Guru Zhao, “kita harus mencari tahu, apa yang ditakutinya”

Semua orang berpikir keras. “Aku bertemu Nian tahun lalu,” kata pria berjubah biru. “Tapi dia tidak menyerangku karena aku mengenakan ikat pinggang merah.” “Pengalamanku lain lagi,” cerita pria berjubah cokelat. “Tahun lalu aku menyalakan petasan. Nian rupanya takut mendengar bunyinya, lalu dia kabur.” “Kupikir Nian takut pada benda apapun yang berwarna merah,” tambah pria lain. “Dua tahun lalu aku memasang lampion dan kain merah di atas pintu rumahku. Nian tidak menyerang rumahku. Tetapi dia menghancurkan rumah-rumah tetanggaku yang tidak dilindungi lampion dan kain merah.” Seorang pemuda berkata, “Aku dan teman-temanku menari Barongsai pada malam Tahun Baru. Ketika melihat Nian, kami memukul-mukul gong dan tambur dengan lebih keras. Nian ketakutan dan lari ke hutan.” “Sekarang kita tahu apa saja yang ditakuti Nian,” kata Guru Zhao. “Nian takut pada benda-benda berwarna merah, petasan, dan bunyi gong serta tambur. Jadi mulai sekarang, menjelang tahun baru setiap rumah harus memasang lampion dan kain merah. Juga menyediakan petasan. Sementara para pemuda bersiap-siap mengusir Nian dengan tarian Barongsai.”

Orang-orang desa itu pulang dan bersiap-siap. Para ibu membuat ikat pinggang merah untuk seluruh anggota keluarga mereka. Para ayah memasang lampion dan kain merah di atas pintu rumah mereka. Para pemuda membentuk kelompok-kelompok Barongsai dan berlatih memukul gong serta tambur.

Malam Tahun Baru tiba. Semua orang sangat bersemangat. Mereka memakai ikat kepala atau ikat pinggang merah. Bapak-bapak membawa senjata seperti pedang, tombak, busur dan anak panah. Anak-anak membawa petasan. Mereka semua sudah siap untuk mengusir Nian. Sekarang orang-orang desa tidak takut lagi pada Nian. Mereka bertekad untuk melawannya. Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba! Nian datang! Orang-orang desa segera menyalakan petasan. Semuanya meledak dengan bunyi yang memekakkan telinga. Gong dan tambur dipukul keras-keras. Pedang dihunus dan tombak siap ditikamkan. Nian sama sekali tak menduga dirinya akan diserang secara mendadak begitu. Dia mengerang kesakitan ketika pedang dan tombak bertubi-tubi menghujam tubuhnya, dia berlari pulang ke tempat asalnya. Orang-orang desa sangat gembira. Mereka bernyanyi dan menari sepanjang malam. Gong dan tambur ditabuh tak henti- hentinya. “Gong Xi! Gong Xi!” mereka saling memberi selamat dengan penuh sukacita. Sejak itu, setiap tahun baru, orang-orang Cina menghiasi rumah mereka dengan lampion dan kain merah. Mereka juga merayakan Tahun Baru dengan tarian Barongsai dan petasan. (Disadur dari “Nian is Coming” - SSPuang).

Minggu depan Tahun Baru Imlek; banyak gereja juga merayakan Misa dengan nuansa Imlek. Gereja kadang dihiasi dengan dekor bernuansa merah, bahkan ada yang pakai barongsai; apa yang mau kita usir? Tidak, pertanyaan itu keliru. Yang patut ditanyakan adalah “apa makna iman buat kita?” Jawaban: ungkapan rasa syukur dan terima kasih kita dalam kebersamaan yang dibangun dari pelbagai latar belakang, sekaligus kesempatan berbagi cerita tentang kebahagiaan iman.


    Tuhan, Aku Stress...!!!

Tuhan Yesus, aku stress,
pelajaranku jeblok, otakku kacau.

Di rumah tak bisa belajar dengan tenang,
orangtua adu mulut, cekcok tiada henti.

Di sekolah teman-teman pada teler,
mereka acuh terhadap masa depan dan diri sendiri.

Lalu apa yang harus kuperbuat?
Untunglah ada Engkau.

Aku rindu menjumpai-Mu, setiap hari, setiap pagi,
hanya itu yang dapat mendatangkan pengharapan serta penghiburan bagiku.


Demikian kutipan sepenggal doa seorang remaja ketika ia datang kepada Yesus.

Tuhan hadir dan tinggal di tengah-tengah kita. Di Hari Natal ini, kita berkumpul bersama merayakannya dengan penuh sukacita, “Di Betlehem telah lahir bagimu seorang Juruselamat, datanglah dan sembahlah Dia.”

Katakan sekali lagi “Tuhan aku rindu Engkau tinggal dalam hatiku. Bantulah kami untuk lebih menghargai kehidupan ini”. Itulah doa kita di Hari Natal, di depan palungan sang Juruselamat.


    “Aku Tak Menemukan Tuhan di sana”

Seorang astronot dan seorang dokter bedah otak sedang berdiskusi mengenai keberadaan Allah. Kata si astronot, “Telah berulang kali aku terbang melampaui batas-batas langit, tetapi tidak pernah kujumpai malaikat, apalagi Tuhan.” Sang dokter bedah otak menyambung, “Sudah berpuluh-puluh otak aku operasi, tetapi tak pernah aku jumpai apa yang disebut sebagai `pikiran' dalam otak pasien, padahal setiap hari aku menyaksikan hasil dari pikiran-pikiran itu.”

Memang banyak problem hidup manusia yang tidak selalu dapat dijawab dengan ilmu pengetahuan. Orang cerdik pandai atau orang bijak sekali pun belum tentu sanggup menemukan Allah dalam hidupnya. Mengapa? Karena perjumpaan dengan Allah lebih membutuhkan hati yang terbuka, siap mendengar dan percaya akan penyelenggaraan-Nya dalam hidup. Kemampuan dan kepandaian manusia saja tidak cukup untuk berjumpa dengan Tuhan.

Hati yang terbuka menjadi kunci perjumpaan itu. Dan hati macam ini justru jauh lebih gampang ditemui dalam diri orang-orang sederhana, yang senantiasa melihat hidupnya sebagai hadiah dari Tuhan. Banyak orang yang pandai cenderung melihat hidup sebagai karya mereka sendiri. Memang manusia sering melihat kehadiran Tuhan dalam hal / peristiwa-peristiwa yang besar dan hebat; kadang orang lupa menemukan Tuhan yang sangat dekat dan tinggal dalam hatinya.

Pesan bagi kita yakni sediakan waktu dan sadarilah bahwa Tuhan ada di sini bersamamu: Dalam hatimu, Dia ada.


    Pencinta versus Aktivis

Antoni de Mello punya kisah indah: seorang aktivis kembali pada gurunya untuk menanyakan, terang macam mana yang masih ia butuhkan. “Terang untuk mengetahui perbedaan antara seorang pencinta dan seorang aktivis. Seorang pencinta mengambil bagian dalam suatu simfoni,” kata sang guru. “Dan seorang aktivis?” tanya si aktivis. “Seorang aktivis sibuk dengan bunyi genderangnya sendiri!” jawab sang guru.

Dalam Injil kita baca: YESUS - Gembala Yang Baik - di tengah kesibukan-Nya dalam karya pelayanan dan pewartaan kasih, selalu menyediakan waktu (= mencari tempat yang sunyi) untuk menjalin relasi dengan BapaNya. Yesus tidak tenggelam dalam kesibukan karya / pelayanan, melainkan senantiasa memberi arti baru pada karya / pelayanan itu dengan berdoa.

Dunia kita dewasa ini ditandai dengan berbagai macam kesibukan. Semua orang sibuk dengan caranya masing-masing. Masih ada waktukah bagi kita untuk duduk berbincang-bincang dengan keluarga? Doa bersama, makan bersama, atau sekedar rekreasi bersama? Atau kita sudah terlalu sibuk hingga hal-hal kecil seperti itu kita rasa hampa / hanya buang-buang waktu saja ?

Kesibukan menggerogoti sendi-sendi hidup bersama hingga membuat orang selalu berorientasi pada kepentingan dan kepuasaan diri sendiri. Bahkan kita pun perlu bertanya: Masih ada waktukah bagi diri kita sendiri untuk bersama dengan Tuhan? Kadang kita begitu sibuk dengan diri sendiri, lalu kita lupa bahwa tanpa Tuhan semuanya itu sia-sia; akhirnya kita hanya menjadi seorang aktivis kehidupan yang sibuk dengan bunyi genderangnya sendiri.


    Apa Jadinya...?

Tuhan begitu baik pada kita; Ia memberkati, melindungi dan membimbing kita setiap hari. Sayang, sering kita menyakiti hati-Nya dengan pikiran-pikiran, tutur kata dan perbuatan-perbuatan kita yang kurang pantas dan kurang berkenan pada-Nya. Kita coba merenungkan jalan pikiran di bawah ini:

Apa jadinya,
kalau hari ini Tuhan tidak memberkati kita
karena hari kemarin kita tidak bersyukur atas berkat-Nya ?
Apa jadinya,
kalau Tuhan berhenti membimbing kita,
karena hari ini kita tidak taat pada perintah-Nya?
Apa jadinya,
kalau kita tidak pernah melihat kuntum,
karena kita protes atas hujan yang diturunkan-Nya ?
Apa jadinya,
kalau Tuhan mengambil Kitab Suci,
karena kita enggan membacanya?
Apa jadinya,
kalau Tuhan berhenti mengasihi kita,
karena kita menolak mengasihi orang lain?
Apa jadinya,
kalau Tuhan menolak doa kita,
karena kita tidak mau menjawab panggilan-Nya untuk melayani?
Apa jadinya,
kalau Tuhan hanya memberikan rahmat
sebesar persembahan yang kita berikan kepada-Nya?

SYUKUR karena Tuhan masih setia dan selalu memberi kesempatan pada kita untuk memperbaiki diri. Apakah kita masih mau menyia-nyiakan kesempatan berahmat ini? Saudara, banyak orang ingin mengubah dunia atau ingin mengubah orang lain, tetapi ia tidak mau mengubah diri, akibatnya dunia kita makin keras dan rasa sayang kita satu sama lain makin tipis digerogoti egoisme dan kepentingan diri sendiri.