Media Bina Iman Katolik
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
yesaya.indocell.net
Edisi Mei 2013
KALENDER LITURGI: MEI 2013
PENYUCIAN AKHIR - PURGATORIUM
dikutip dari: Katekismus Gereja Katolik #1030 - 1032
Siapa yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya, memang sudah pasti akan keselamatan abadinya, tetapi ia masih harus menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga.Gereja menamakan penyucian akhir para terpilih, yang sangat berbeda dengan siksa para terkutuk, purgatorium [api penyucian]. Ia telah merumuskan ajaran-ajaran iman yang berhubungan dengan api penyucian terutama dalam Konsili Firence dan Trente. Tradisi Gereja berbicara tentang api penyucian dengan berpedoman pada teks-teks tertentu dari Kitab Suci.
"Kita harus percaya bahwa sebelum pengadilan masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu, karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seseorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, 'di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak' (Mat 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, yang lain di dunia lain" (Gregorius Agung, dial. 4,39).
Ajaran ini juga berdasarkan praktik doa untuk orang yang sudah meninggal, tentangnya Kitab Suci sudah mengatakan: "Karena itu [Yudas Makabe] mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya" (2 Mak 12:45). Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.
"Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya (Ayb 1:5), bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka" (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41,5).
CATATAN DARI SUATU JIWA DI API PENYUCIAN
Seorang biarawati yang disebut sebagai Suster M. de L.C. mempunyai hubungan yang luar biasa dengan Suster M.G., seorang biarawati dari biara yang sama yang telah meninggal dunia. Dua setengah tahun setelah kematiannya, Suster M.G. menampakkan diri dan mengatakan bahwa ia sedang berada di api penyucian, dan bahwa adalah rencana Allah agar Suster M. de L.C., melalui penderitaan dan doa-doanya, akan meringankan dan pada akhirnya membebaskan Suster M.G. dari tempat silih itu. Berikut kutipan catatan Suster M. de L.C. "Ketika jiwa meninggalkan tubuh, ia mendapati dirinya dalam suatu terang yang membingungkan dan dalam sekejap mata jiwa melihat seluruh kehidupannya dihamparkan di hadapannya, dan melihat ini, jiwa tahu apa yang pantas baginya, dan terang yang sama ini memaklumkan hukuman bagi jiwa. Jiwa tidak melihat Allah akan tetapi dikuasai oleh kehadiran-Nya. Jika suatu jiwa bersalah sepertiku, dan karenanya, pantas pergi ke api penyucian, jiwa dihimpit begitu rupa oleh beban kesalahan-kesalahan yang masih harus disilih, hingga jiwa melemparkan dirinya ke dalam purgatorium. Hanya pada waktu itulah orang mengerti Allah dan kasih-Nya bagi jiwa-jiwa dan betapa mengerikannya kejahatan dosa di mata Keadilan Ilahi … Keadilan Allah menahan kita di purgatorium, dan kita pantas untuk itu, namun demikian kerahiman-Nya dan hati kebapaan-Nya tiada meninggalkan kita di sini tanpa penghiburan sama sekali. Kami dengan berkobar merindukan persatuan sempurna dengan Yesus, dan Ia merindukannya sedalam kita … Di purgatorium ada jiwa-jiwa yang sangat bersalah namun mereka bertobat, dan sekalipun demikian dosa-dosa tetap harus mereka silih, mereka diteguhkan dalam rahmat dan tak lagi berdosa. Mereka disempurnakan sebagaimana jiwa dimurnikan secara bertahap di tempat silih ini."
"Mengenai waktu pembebasan kami, kami tak tahu apa-apa. Andai saja kami tahu bilamana akhir dari penderitaan kami akan tiba, itu akan menjadi suatu kelegaan besar, suatu sukacita bagi kami, akan tetapi tidak, tidak demikian. Kami tahu pasti bahwa penderitaan kami berkurang dan persatuan kami dengan Allah menjadi semakin dekat, akan tetapi kapan harinya (itu menurut perhitungan duniawi, sebab di sini tidak ada hari) kami akan dipersatukan dengan Allah, mengenai itu kami tidak tahu sama sekali; itu rahasia."
"Pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman banyak jiwa-jiwa meninggalkan tempat silih dan pergi ke surga. Juga, oleh suatu rahmat istimewa dari Allah pada hari itu saja, segenap jiwa-jiwa menderita, tanpa terkecuali, beroleh bagian dalam doa-doa umum Gereja, bahkan mereka yang berada di purgatorium besar. Meski begitu kelegaan tiap-tiap jiwa adalah sesuai dengan ganjarannya. Sebagian menerima lebih, sebagian kurang, akan tetapi semua merasakan manfaat dari rahmat luar biasa ini. Banyak jiwa-jiwa menderita menerima satu pertolongan ini saja di sepanjang tahun-tahun panjang yang mereka lalui di sini dan ini karena keadilan Allah. Akan tetapi, bukan pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman kebanyakan jiwa-jiwa pergi ke surga. Melainkan pada malam Natal." (Lebih lanjut, silakan baca "Catatan dari Suatu Jiwa di Api Penyucian.")
JIWA-JIWA DI API PENYUCIAN MEMBUTUHKAN PEERTOLONGAN KITA
Padre Pio menceritakan kisah berikut kepada Padre Anastasio. “Suatu sore, kala aku seorang diri di tempat paduan suara untuk berdoa, aku mendengar gemersik jubah dan aku melihat seorang biarawan muda sedang sibuk dekat altar. Tampaknya biarawan muda itu sedang membersihkan kandela dan merapikan jambangan-jambangan bunga. Aku pikir dia adalah Padre Leone yang sedang merapikan altar, dan karena saat makan malam telah tiba, aku menghampirinya dan mengatakan, `Padre Leone, marilah kita santap malam, sekarang bukan saat yang tepat untuk membersihkan dan merapikan altar.' Tetapi suatu suara, yang bukan suara Padre Leone, menjawab, `Aku bukan Padre Leone.' `Siapakah engkau?' tanyaku. `Aku seorang saudaramu yang menjalani novisiat di sini. Aku ditugaskan untuk membersihkan altar sepanjang tahun novisiat. Sungguh sayang, seringkali aku tidak menyampaikan penghormatan kepada Yesus saat aku melintas di depan altar, dan dengan demikian tidak menghormati Sakramen Mahakudus yang disimpan dalam tabernakel. Karena keteledoran yang serius ini, aku masih tinggal di purgatorium. Sekarang, Tuhan, dengan kebajikan-Nya yang tak habis-habisnya, mengirimku ke sini agar engkau dapat mempercepat saat di mana aku dapat menikmati Firdaus. Tolonglah aku.' Aku yakin bahwa aku bermurah hati kepada jiwa yang menderita itu ketika aku berkata, `Engkau akan berada di Firdaus esok pagi, ketika aku merayakan Misa Kudus.' Jiwa itu pun berteriak, `Sungguh kejam!' Lalu ia menangis dengan sedihnya dan lenyap. Keluh-kesah itu meninggalkan suatu luka yang dalam di hatiku yang aku rasakan dan akan terus kurasakan sepanjang hidupku. Sesungguhnya aku dapat segera mengirimkan jiwa menderita itu ke surga, tetapi aku menghukumnya untuk melewatkan semalam lagi dalam api penyucian.”
DEVOSI KEPADA JIWA-JIWA DI API PENYUCIAN
Apabila berbicara mengenai menyelamatkan jiwa-jiwa di dunia lain, orang perlu menyebut St Gertrude Agung. Ia dilahirkan di Eisleben, Thuringia, Jerman, pada tahun 1256. St Gertrude membaktikan diri demi mengejar kesempurnaan dan menghabiskan waktunya dalam doa dan kontemplasi. Pada usia 26 tahun ia mulai dianugerahi penglihatan-penglihatan adikodrati dan pengalaman-pengalaman mistik. Riwayat hidup dan wahyu-wahyunya mencatat banyak percakapannya dengan Tuhan kita di mana Ia menyingkapkan kerinduan-Nya yang mendalam untuk melimpahkan kerahiman-Nya kepada jiwa-jiwa dan mengganjari bahkan perbuatan baik yang paling remeh sekalipun. Mengenai penderitaan, Tuhan kita berkata kepadanya, "Apabila manusia, sesudah memberikan pengobatan bagi penderitaannya, dengan sabar karena kasih kepada-Ku menanggung apa yang tak dapat disembuhkan, ia memperoleh ganjaran gemilang."
Mengenai komuni sesering mungkin, Yesus mengatakan kepada Gertrude: "Mereka yang telah sering menyambut-Ku di dunia akan lebih mulia di surga. Di setiap komuni Aku menambahkan, Aku menggandakan kekayaan yang merupakan kebahagian Kristiani di surga!"
Dalam penglihatan-pengkihatan lain Tuhan kita mengungkapkan kerinduan-Nya agar orang berdoa bagi jiwa-jiwa menderita di purgatorium. Tuhan kita menunjukkan kepada Gertrude sebuah meja dari emas yang di atasnya terdapat banyak mutiara berharga. Mutiara-mutiada ini adalah doa-doa bagi jiwa-jiwa menderita. Pada saat yang sama sang santa melihat jiwa-jiwa dibebaskan dari penderitaan dan naik ke surga dalam bentuk percikan-percikan cahaya dalam berbagai bentuk.
Yesus mengatakan kepada St. Gertrude, "Aku menerima dengan teramat senang apa yang ditawarkan kepada-Ku demi jiwa-jiwa menderita, sebab Aku rindu tak terkira mereka - yang untuknya Aku bayar dengan harga begitu mahal - ada dekat-Ku. Dengan doa-doa jiwamu yang penuh kasih, Aku terdorong untuk membebaskan seorang tahanan dari api penyucian sesering engkau menggerakkan lidahmu untuk mengucapkan sepatah kata doa!"
Dalam penglihatan lain, Tuhan memberikan kepada St Gertrude doa yang akan membebaskan 1.000 jiwa dari purgatorium setiap kali doa didaraskan dengan penuh kasih dan devosi:
"Bapa yang Kekal, aku persembahkan kepada-Mu Darah Mahasuci Putra IlahiMu, Yesus, dalam persatuan dengan semua Misa yang dipersembahkan di segala penjuru dunia pada hari ini, demi segenap jiwa-jiwa menderita di purgatorium, demi para pendosa di mana saja, demi para pendosa dalam Gereja Semesta, mereka yang dalam rumahku sendiri dan dalam keluargaku. Amin."
Apakah 1.000 jiwa sungguh dibebaskan dari purgatorium? Para teolog mengatakan bahwa kita tidak dapat pasti mengenai jumlah yang tepat. Akan tetapi kita tahu bahwa Tuhan kita merujuk pada keampuhan doa-doa kita yang dipanjatkan demi jiwa-jiwa menderita ini. "Seribu" jiwa dibebaskan dapat berarti lebih dari yang dapat kita hitung, lebih dari yang berani kita mohon.
St Gertrude digelari "Agung" sebab devosinya kepada Hati Yesus Yang Mahakudus dan jiwa-jiwa terkasih di purgatorium.
JIWA-JIWA MEMBALAS KITA BERLIPAT GANDA
Kisah nyata yang menyentuh hati berikut ini terjadi di Paris pada tahun 1817.
Seorang pembantu rumah tangga, yang mempunyai kebiasaan saleh meminta intensi Misa setiap bulan bagi jiwa-jiwa di api penyucian, jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit; ia kehilangan pekerjaannya.
Setelah sembuh dan diijinkan pulang, ia pergi ke gereja untuk berdoa, di mana ia teringat bahwa ia belum memintakan intensi Misa bagi jiwa-jiwa menderita untuk bulan itu. Akan tetapi, berhubung ia telah kehilangan pekerjaan, ia tak lagi mampu meminta intensi Misa sebab itu akan membuatnya membelanjakan seluruh sisa uang yang masih dimilikinya. Setelah ragu, ia menyerahkan juga uang itu untuk stipendium Misa.
Saat meninggalkan gereja, ia berjumpa dengan seorang pemuda yang tampaknya berasal dari kaum bangsawan. Tak disangka si pemuda bertanya apakah ia membutuhkan pekerjaan dan memberinya alamat sebuah rumah yang sedang membutuhkan pembantu.
Setibanya di rumah tersebut, sang pemilik rumah, yang baru saja kehilangan pembantunya, tercengang siapakah gerangan yang tahu bahwa ia sedang membutuhkan pembantu. Sementara menggambarkan ciri-ciri sang pemuda yang dijumpainya di gereja, si pembantu melihat sebuah lukisan diri si pemuda yang digantung di tembok. Mendengar penjelasan si pembantu, nyonya rumah berseru, "Itu puteraku, yang meninggal dua bulan yang lalu!"
Maka keduanya pun sadar bahwa Allah hendak mengganjari amal kasih si pembantu rumah tangga itu dan menyingkapkan kuasa perantaraan suatu jiwa yang menderita. (Taken from "Life After Death" by Luis and Gustavo Solimeo)
Yang Tetap:
Belum menemukan informasi yang Anda butuhkan? Silakan pergunakan fasilitas Google Search untuk mempermudah pencarian dengan mengetikkan kata kunci, misalnya “perpuluhan”.
Kontak Webmaster : yesaya@indocell.net
Website Media Bina Iman Katolik YESAYA
Sejak November 2000
Last updated : Mei 2013
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||