YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Suara Gembala   |   Warta eRKa   |   Yang Menarik & Yang Lucu   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
In Memoriam :
Rm JOHANNES MARIA HEIJNE, SVD
Romo Johannes Maria Heijne SVD, terakhir menjabat Pastor Paroki Gembala Yang Baik, Surabaya, meninggal dunia pada Hari Raya Pentakosta, 30 Mei 2004, pukul 13.45, di negeri Belanda. Jenazahnya disemayamkan di Kapel Zorgcentrum Zuiderhout, Teteringen, Belanda, di mana almarhum menikmati masa pensiun dan menghabiskan masa tuanya.

Selain ramah, akrab, dan penuh perhatian terhadap `domba-dombanya' almarhum Romo Heijne dikenal sebagai penggagas dan pembangun beberapa bangunan gereja di Surabaya. Di antaranya, Gereja Katolik Gembala Yang Baik, Jln. Jemur Andayani X/14 (14 September 1982), Gereja Katolik Salib Suci di Tropodo (14 September 1988), Gereja Katolik Sakramen Maha Kudus di Pagesangan (14 September 1995), serta mempersiapkan pembangunan Gereja Katolik Roh Kudus di Rungkut (1997). Berikut sedikit catatan untuk mengenang Romo Heijne, yang telah menikmati kebahagiaan abadi di Rumah Bapa.

CITA-CITA JADI MISIONARIS

Henricus & Theodora Heijne
Johannes Maria Heijne lahir di Leiden, Belanda pada tanggal 18 Mei 1921. Ia adalah anak ketiga dari tujuh orang bersaudara, putra pasangan suami-istri Henricus Heijne dan Theodora Maria Esman. Ia mempunyai seorang kakak laki-laki dan seorang kakak perempuan serta empat adik perempuan. Seminggu setelah kelahirannya, atau pada tanggal 25 Mei 1921, si mungil Jan, demikian nama panggilannya, dipermandikan dengan nama permandian Johannes.

Sejak kecil, Jan sudah bercita-cita menjadi missionaris. Maka, ia minta dibelikan perlengkapan misa. Dan kemudian bersama adik-adiknya, si Jan kecil bermain misa-misaan. Perilaku dan keinginan Jan untuk menjadi imam, diketahui juga oleh sang ibu tercinta. Dan sang ibu mendukung cita-cita sucinya dengan doa-doa yang tekun. Ayahnya yang meninggal pada tahun 1978 adalah seorang karyawan di sebuah toko koperasi. Sedangkan ibunya yang dipanggil Tuhan dua tahun kemudian (1980), adalah seorang ibu rumah tangga yang baik.

Berkat doa-doa yang kuat dari sang ibu, akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1946, Johannes Maria Heijne ditahbiskan menjadi Imam di Teteringen, bersama 15 orang imam lainnya.

Sejak kecil Jan Heijne gemar sekali bermain bola. Begitu kuat kegemarannya akan sepak bola, hingga ketika orang tuanya hendak mengantar ke Seminari Menengah, demi memenuhi keinginan Jan menjadi imam, ia bertanya, “Apakah di seminari ada lapangan sepak bolanya? Kalau tidak ada, ya, tidak usah masuk saja!” ceritanya di Surabaya beberapa tahun silam. Syukur, Seminari Menengah di Soesterberg pada tahun 1933 itu memang ada lapangan bolanya. Kalau tidak, barangkali kita tidak akan kenal Pastor J. Heijne. Unik juga.

Dan memang, hampir semua aktivis Paroki Gembala Yang Baik, Surabaya mengetahui bahwa Romo Heijne sangat gila bola. Beliau tak pernah melewatkan kesempatan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola di televisi, sekalipun itu berlangsung lewat tengah malam. Terutama pertandingan Liga Italia, Liga Inggris, kejuaraan tingkat Eropa, atau Piala Dunia. Apalagi, bila yang bertanding itu tim nasional Belanda.

Selain sepak bola, Romo Jan Heijne SVD juga penggemar berat olahraga tinju dan balap sepeda. Seperti sepak bola, beliau juga tidak mau melewatkan kesempatan untuk menyaksikan pertandingan tinju maupun lomba balap sepeda, terutama Tour de France.

40 HARI TIDAK MELIHAT DARATAN


“Famili dan para sahabat, saya berangkat untuk melaksanakan perjalanan tugas misi. Sertailah saya dengan doa-doa harian yang pendek, namun mengarah menuju surga.”

Pater J.M. Heijne, SVD
Flores - Indonesia Timur


18 Desember 1948

Dua tahun dua bulan setelah ditahbiskan menjadi imam, yaitu pada tanggal 18 Desember 1948, dengan menumpang kapal `Madura', Romo Jan Heijne SVD yang masih berusia 27 tahun berlayar menuju Indonesia. Sejak meninggalkan pelabuhan Ijmuiden di negeri Belanda, hingga tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada tanggal 28 Januari 1949, selama 40 hari mereka berada di laut tanpa melihat daratan. Hal ini disebabkan kapal harus berputar lewat sebelah barat benua Afrika, tidak boleh berlayar masuk melewati Terusan Suez, karena situasi di sana sedang gawat. Bayangkan, betapa jenuh dan meletihkan!

DOA dan CINTA

tahun 1960
tahun 1965
Almarhum Jan Heijne SVD seorang yang rendah hati dan mencintai umatnya. Ada banyak contoh yang bisa disebut. Kalau kita memperhatikan boks riwayat hidup singkatnya tentang karya-karya pastoral disebutkan: `turut melaksanakan', dan `turut membangun' Gereja. Ketika ditanya bukankah Romo Heijne yang membangun gereja-gereja tersebut? “Bukan! Bukan saya yang membangun!” katanya tegas. “Jangan bilang saya yang mendirikan. Saya tidak bisa membangun sendiri tanpa umat, tanpa panitia pembangunan, para penyumbang, dan juga tidak boleh lupa itu para tukang yang bekerja melaksanakan pembangunannya.”

Contoh lain. Ketika ditanya tentang suka dukanya selama 50 tahun menjadi imam, Romo Jan Heijne SVD merasa senang dan bahagia boleh turut bekerja untuk Kerajaan Kristus di dunia ini. Dukanya: merasa dirinya tidak berhasil menjadi seorang imam yang saleh-suci. Karena itu, beliau memohon maaf kepada Tuhan Yang Maharahim, dan juga kepada seluruh umat Allah untuk segala kelemahan, kemalasan, cinta diri dan keduniawian selama 50 tahun imamat. Begitu ungkapan polosnya saat Pesta Emas Imamatnya di Surabaya. Lho, bukankah kharisma Romo begitu kuat, lagi pula sangat dicintai umat? “Ya, tetapi saya merasa diri tidak saleh, banyak kelemahan dan kekurangan, malas dan suka cinta diri. Jadi, saya tidak boleh menyombongkan diri. Apalagi di hadapan Allah, kita sama sekali tidak boleh menyombongkan diri!” jawabnya dengan tekanan kata yang khas.

Tentang perhatian dan cintanya kepada umat, dapat disebutkan antara lain beliau mengenali satu per satu, siapa saja yang rajin menghadiri misa harian. Bagaimana keadaan umatnya, terutama kaum lemah dan kecil, selalu menjadi perhatiannya. Cintanya kepada umat beroleh sambutan dari umat. Boleh dikata, seluruh umat Paroki Gembala Yang Baik (dan tentu saja paroki lain di mana almarhum pernah melayani) juga sangat mencintai dan menyayangi Rm Jan Heijne SVD - meskipun ada saja umat yang merasa kurang puas terhadap beberapa kebijakannya.

Ketika Romo Jan Heijne SVD menderita sakit, banyak umat meneteskan air mata haru bercampur prihatin. Dan ketika beliau menjalani cuti sakit, mulai awal Juni 1993 hingga akhir Januari 1994, banyak umat yang tidak henti-hentinya mendoakan kesembuhannya, agar Romo J. Heijne SVD masih diberi kesempatan untuk menggembalakan domba-dombanya di Paroki Gembala Yang Baik. Tepat pada HUT ke-11 Paroki GYB Surabaya - 14 September 1993 - Romo Jan Heijne SVD menjalani operasi jantung di sebuah rumah sakit di Breda, negeri Belanda. Meski dengan enam by pass, operasi berjalan baik dan sukses.

Secara umum disimpulkan, selama ini Romo Heijne SVD selalu bersikap rendah hati dan memakai dua sayap: DOA dan CINTA, bekerja dan melayani Kristus, serta berusaha keras membantu meluaskan Kerajaan Allah di dunia. Seperti kita ketahui, beliau begitu sering berseru melalui mimbar gereja, agar kita selalu menyediakan waktu bagi Tuhan dengan BERDOA setiap hari minimal setengah jam. Dan memang kenyataan menunjukkan, bila kita tekun berdoa setiap hari, kita akan menerima kekuatan iman serta berkat-Nya yang berlimpah. Maka, setelah menyampaikan kesannya bahwa umat di tiga paroki di Denpasar, Wonokromo, dan Gembala Yang Baik amat ramah, berinspirasi Kristiani dan sudi melayani setiap saat, beliau berpesan: pakailah dua sayap membubung ke atas menuju tanah air sejati, yaitu sayap-sayap DOA dan CINTA.

Kini Romo Jan Heijne telah bersatu bersama sang Gembala Yang Baik, Yesus Kristus sendiri! Selamat jalan, Romo Jan Heijne! Resquescat in pace!

~ PUTROADI, Paroki GYB Surabaya