YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Suara Gembala   |   Warta eRKa   |   Yang Menarik & Yang Lucu   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 14 Tahun VIII / 2006 - 2 April 2006
SUARA GEMBALA

Belajar Mati Secara Kecil-Kecilan...!


Kalau orang mengatakan kita harus belajar hidup dengan baik, itu lumrah dan sudah sering kita dengar; tetapi kalau orang mengatakan kita harus belajar mati, ini yang disebut aneh alias tidak lazim. Kenapa kita mesti belajar mati? Saya mulai dengan sebuah cerita:

DIAGONES, adalah seorang filsuf Yunani yang termasyhur. Ia mempunyai seorang isteri yang sangat emosional dan tingkah lakunya sangat merepotkan dia. Tetapi karena si filsuf ini orangnya sabar, maka banyak hal indah justru dia temukan dalam hidup bersama mereka. Pada suatu hari isterinya bersikap sudah kelewat batas; sepanjang hari ia mencaci-maki Diagones dengan suara yang menggelegar seperti guntur dan menyambar seperti kilat layaknya. Tetapi karena Diagones tetap tenang, isterinya mengambil seember air dan menyiramkannya kepada Diagones hingga basah kuyup. Apa yang dibuat Diagones? Dengan tenang dan tersenyum Diagones berkata kepada isterinya, “Memang sesudah guntur dan kilat, biasanya turun hujan.” <Sikap sabar itu mematikan amarah, sikap tenang itu melahirkan kebaikan>

YESUS KRISTUS, dalam perjumpaan dengan murid-murid-Nya menegaskan sikap batin yang dihayati; “Sesungguhnya kalau biji gandum tidak jatuh kedalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” Dengan kata- kata ini Yesus menunjuk pada hidup-Nya sendiri. Santo Paulus memberi kesaksian kepada umat di Ibrani, “Dia tidak berdosa, tidak ada kejahatan sedikitpun dalam diri-Nya, tetapi Allah menghendaki agar Dia menderita, dihina dan disiksa lalu disalibkan untuk menebus dosa-dosa manusia.” Apa reaksi Yesus? Dia tunduk dan taat tanpa syarat pada kehendak dan rencana Tuhan itu. <Pengorbanan mematikan sikap ingat diri dan kerelaan menghampakan diri melahirkan banyak berkat>

SEBAGAI PENGIKUT KRISTUS, kita hidup dalam dunia dimana “pengorbanan” menjadi sesuatu yang aneh; “penghampaan diri” menjadi sesuatu yang sulit; apalagi “menderita untuk orang lain” itu mungkin hanya sebuah mimpi. Apa reaksi yang diamanatkan oleh Injil untuk kita orang-orang percaya ini?

Pertama, jangan lupa pada identitas kita bahwa kita dari dunia tetapi dipilih untuk menginjili / merajai dunia. Setiap orang bukan hanya mencintai kehidupannya tetapi juga ingin hidup lebih lama lagi. Namun apa tujuan hidup kita sesungguhnya? Memperoleh harta dan kekayaan, pangkat atau status? Pasti tidak; kita ingin selamat sekarang dan di akhirat. Ingat, apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?

Kedua, tidak ada kebahagiaan tanpa penderitaan. Kita memahami sungguh ucapan Yesus tadi, biji gandum kalau tidak mati, tidak akan menghasilkan buah. Dengan sengsara dan kematian Yesus, semua penderitaan bahkan kematian kita mendapat arti baru. Kejayaan dan keselamatan tidak bisa diperoleh tanpa usaha dan pengorbanan. Dan jalan untuk ini harus mulai dengan yang kecil, yang sederhana bahkan yang nampak tidak berarti. Banyak orang takut mati, karena dalam hidup mereka tidak berani berjuang untuk mati secara kecil-kecilan, orang cenderung dikuasi oleh emosi; cepat marah, gampang mempersalahkan, mudah iri hati. Orang cenderung dipengaruhi oleh kenikmatan dan kepuasan diri; bagi mereka hidup adalah sekarang dan di sini; mengapa kita harus berpikir tentang hari esok, mengapa kita harus belajar mati? Orang yang percaya tidak mungkin takut pada maut, karena dia yakin ada hidup sesudah mati, ada akhirat sesudah dunia dan di atas semuanya itu dia punya YESUS KRISTUS.

Rm. Gregorius Kaha, SVD