![]() |
![]() Edisi YESAYA | Bunda Maria | Santa & Santo | Doa & Devosi | Serba-Serbi Iman Katolik | Artikel | Suara Gembala | Warta eRKa | Yang Menarik & Yang Lucu | Anda Bertanya, Kami Menjawab
![]() ![]() ![]() Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 02 Tahun VIII / 2006 - 8 Januari 2006
![]() SUARA GEMBALA
![]() ORANG MAJUS:
Bahaya di Perjalanan ~ Selamat di Tujuan
![]() Jauh di dasar laut hidup seekor kerang kecil. Ia merintih kesakitan karena sebutir pasir telah masuk dan menempel di dalam tubuhnya. Setiap kali ia bergerak, badannya yang lunak itu terasa sangat sakit dan perih. Sambil menangis ia datang pada ibunya mengeluh karena pasir kecil yang menyakitkan itu. Dengan lembut, ibu kerang memberi pengertian, “Anakku, kita bangsa kerang diciptakan tanpa tangan dan kaki untuk menggaruk punggung kita. Bersabarlah dan berusahalah untuk bertahan.” Kerang kecil terdiam; lalu setiap kali ia merasa sakit, dalam usahanya menahan sakit, ia menggulung sebutir pasir tadi dengan lendirnya. Tiap hari, bahkan setiap saat, ia lakukan itu tanpa kenal lelah, kali ini tanpa keluhan ataupun protes.
Rasa sakitnya perlahan-lahan hilang, dan pasir kecil yang digulung dengan lendirnya setiap kali rasa sakit datang sekarang telah berubah menjadi sebutir mutiara yang indah. Mutiara itu begitu indah hingga memikat dunia dengan kemilaunya, menarik perhatian orang dengan keelokannya, menebarkan pesonanya hingga setiap orang ingin memilikinya. Mutiara itu sesungguhnya adalah buah dari perjuangan si kerang kecil mengatasi rasa sakit yang menyengsarakannya.
Kesulitan dan tantangan hidup kadang membuat kita sakit; hati terasa perih, tetapi bila kesulitan dan tantangan itu kita bungkus indah dengan kesabaran dan kasih, hasilnya pasti membawa sukacita berlimpah.
Jauh di bentangan daratan, ribuan tahun yang lalu, “orang majus” (dalam Injil) mengadakan perjalanan penuh tantangan. Mereka berani meninggalkan keluarganya, tanah air, bahkan pekerjaannya untuk berjumpa dengan “Sang Juruselamat dunia”. Di tengah jalan godaan dan cobaan datang menghadang. Mereka gelisah ketika bintang penuntun itu redup dan hilang dalam radius kekuasaan Herodes. Bintang penuntun itu baru muncul kembali ketika mereka keluar dari pengaruh Herodes, raja yang manis di mulut tapi lain di hati itu. Kesulitan berubah menjadi sukacita ketika mereka sampai pada tujuan. Dengan hati mereka mencari dan menemukan Raja Damai itu; mereka bersaksi tentang dirinya dan tentang Anak itu, “Kami datang dari Timur untuk menyembah Dia”.
Sebagai orang-orang percaya, hidup kita pun adalah sebuah proses pencarian. Manusia tidak hanya mencari harta, tetapi ia juga mencari keselamatan; tidak hanya mencari aman, tetapi ia juga mencari kepastian. Menariknya, sama seperti zaman dulu, motivasi pencarian manusia berbeda-beda. Para gembala miskin mencari Yesus untuk bersukacita atas kelahiran-Nya; para majus / para sarjana mencari Yesus untuk menyembah Dia; orang banyak mencari Yesus untuk disembuhkan; Herodes justru mencari Yesus untuk membunuh-Nya.
Kalau dalam hidup ini kita datang mencari Dia, apakah motivasi yang menggerakkan kita? Jawabannya, “Iman akan Yesus - Sang Juru Selamat”. Iman itu dalam kenyataan konkrit terus-menerus ditantang baik oleh kecenderungan negatif dalam diri kita maupun oleh pengaruh-pengaruh luar, tetapi ketika orang membalut tantangan iman tersebut dengan kesabaran dan kesetiaan hasilnya adalah dalam dirinya tumbuh dan berkembang sebuah mutiara iman; hidupnya akan bercahaya - kepribadiannya pasti mempesona.
Rm. Gregorius Kaha, SVD
|
![]() |