YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Suara Gembala   |   Warta eRKa   |   Yang Menarik & Yang Lucu   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 10 Tahun VI / 2004 - 07 Maret 2004
SUARA GEMBALA

TABOR: Ajakan untuk Bergembira
Sekaligus Tuntutan untuk Berjuang
Transfigurasi
Ini adalah sebuah kebenaran iman bahwa “Manusia ada di dunia ini bukan karena kebetulan. Semua kita ada di dunia karena rencana dan kehendak Tuhan.” Konsekuensi dari keyakinan itu, saya bisa minta apa pun dari Tuhan; tetapi perkara terkabulnya permohonan itu, ada di tangan Tuhan; Dia-lah yang mengetahui apa yang terbaik untuk kehidupan tiap-tiap orang. Maka perlu sikap pasrah dan berharap.

Santo Arnoldus Janssen, ketika memulai rumah untuk mendidik para misionaris SVD dan SSpS tidak punya apa-apa. "Kalau apa yang saya rintis ini adalah kehendak Tuhan, maka akan berkembang dan hidup terus; tetapi kalau tidak, dia akan mati." Jadi, Arnoldus menjadikan doa sebagai pilar pengharapannya. Sebelum dia memikirkan hasil doa, dia justru menghubungkan dirinya dengan SUMBER. Kita kadang tenggelam dalam sikap memikirkan hasil doa yang kita minta, kita lupa menghubungkan diri dengan sikap penyerahan diri pada SUMBER.

Penampakan kemuliaan di Gunung Tabor adalah sebuah pengesahan dari Allah. Proses menghubungkan diri dengan SUMBER dari janji keselamatan bagi dunia. Alkitab menampilkan dua tokoh hadir dalam kemuliaan itu yakni MUSA & ELlA. Musa dipilih Allah sebagai pemberi hukum kepada Israel; sedangkan Elia ditentukan menjadi nabi besar di antara nabi-nabi yang lain. Maka jelas, salah satu maksud yang ingin ditegaskan dengan kehadiran dua tokoh dalam kisah ini adalah bahwa Yesus akan berjalan terus dan harus melanjutkan segala sesuatu yang telah ditetapkan; suara dari langit adalah simbol pengesahan itu (= nampak jelas ada unsur kontinuitas dalam pemenuhan janji).

Penampakan kemuliaan di Gunung Tabor menunjukkan pentingnya kesadaran akan perjalanan hidup manusia. "Ketika Yesus sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilau." Ketika peristiwa itu terjadi, ketiga rasul yakni Petrus, Yohanes dan Yakobus tertidur. Waktu mereka bangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan.

Dalam kehidupan, orang bisa kehilangan banyak hal justru karena "tertidur". Ini bukan arti harafiah, melainkan kiasan untuk menunjukkan orang yang masa bodoh dengan kehidupan. Contoh ada banyak prasangka menutup pikiran baik orang sehingga tidak sanggup melihat hal-hal yang begitu indah dalam hidup. Ada banyak hal positif yang tak sanggup ditangkap karena orang malas bercermin pada pengalaman hidup.

Ketagihan tidur dalam arti puas pada cara hidup lama membuat orang akan berhenti berjuang. "Biarkan kami dirikan di sini tiga kemah." Maka jangan heran kalau manusia punya kecenderungan untuk berpuas-diri dan membangun mekanisme pertahanan diri dengan jalan yang instan (=cepat, mudah, praktis dan tak butuh orang lain, apalagi harus berjuang).

Kita sedang berada di masa puasa - masa penuh rahmat. Saat ini penuh rahmat karena justru pada masa inilah kita diberi kesempatan secara khusus untuk masuk dalam perjalanan tobat menuju sukacita paska. Maka dua hal perlu kita tanam dalam kesadaran kita: TOBAT dari kita dan PENGAMPUNAN penuh kasih dari Allah. Puasa - Pantang; doa atau persembahan bukan tujuan akhir dari masa ini. Semua itu adalah sarana agar masa berahmat ini dimahkotai dengan tindakan-tindakan nyata. Artinya ada banyak pengalaman indah dan menarik yang kita jumpai yang membuat kita tersenyum, tetapi ada saat di mana kita pun merasakan pengalaman-pengalaman sulit; bukan membuat kita menangis atau terus tertidur, tetapi justru menyadarkan kita bahwa kita butuh SUMBER perjalanan ini; dan itu terjadi ketika kita dekat dengan Tuhan dan membuka hati untuk kemuliaan-kemuliaan-Nya.

Rm. Gregorius Kaha, SVD