YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Suara Gembala   |   Warta eRKa   |   Yang Menarik & Yang Lucu   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 51 Tahun V / 2003 - 21 Desember 2003
SUARA GEMBALA

"Gloria In Excelsis Deo"
Santa Perawan Maria

SELAMAT MERAYAKAN NATAL

Kisah kelahiran Yesus, orang Nazaret ini, tidak bisa dipisahkan dari pengalaman rohari Bunda-Nya: Maria. Karena Yesus adalah Pribadi yang unik, maka sangat mungkin bahwa kelahiran-Nya diliputi sekian banyak peristiwa yang juga sangat unik, Dan ketika kita berdiri di ambang pintu Natal, kita akhirnya bisa melihat ternyata pengikut-pengikut Kristus di zaman ini kadang terjebak oleh sekian banyak aksesoris seputar perayaan Natal itu. Akibatnya makna peristiwa Natal hilang atau berlalu begitu saja. Di bawah ini saya ingin menggarisbawahi satu-dua pokok pikiran dalam hubungannya dengan bacaan-bacaan hari ini.

PANGGILAN: SELALU MENGANDUNG RESIKO

Kalau saya ingin merumuskan secara lain pengalaman Bunda Maria, saya ingin mengatakan: Bunda Maria adalah figur iman sejati. Bunda Maria dipilih oleh Allah menjadi Bunda Yesus. Dalam Kitab Suci, dipilih Allah seringkali berarti sebuah Mahkota Sukacita, sekaligus sebuah Salib Dukacita. Allah tidak memilih seseorang untuk sebuah kesenangan belaka, melainkan untuk suatu tanggung jawab yang harus dilaksanakan dengan sepenuh hati. Bunda Maria menunjukkan hal itu ketika Malaikat Gabriel datang membawa kabar kepadanya. Berita dari malaikat bukan semata-mata kabar sukacita, tetapi sekaligus sebuah pesan salib. Dialog Maria dan malaikat dapat menjadi bukti, “Bagaimana mungkin hal itu terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab Malaikat, “Roh Kudus akan menaungi engkau.” Sebuah pernyataan yang mengandung risiko tinggi, membutuhkan keberanian dan kepasrahan diri yang total.

Di sinilah letak sentral dari kesediaan Bunda Maria. Penyerahan diri Maria merupakan sesuatu yang sangat indah. Bunda Maria belajar melupakan doa yang berorientasi pada kehendak manusia, lalu membaharui doanya dengan orientasi pada kebaikan Allah. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Nya.” Setiap kita yang dipanggil untuk tugas apa pun, jika kita bersandar pada keyakinan iman, akan berdiri di hadapan Tuhan dan siap mengatakan “Jadilah padaku menurut apa yang Engkau kehendaki.” Sesudah itu, kita pun harus siap menghadapi risiko apa pun dari keyakinan tersebut.

MAGNIFICAT: PUJIAN SEBUAH HATI

Sebenarnya dalam masyarakat Yahudi tradisionil, nyanyian pujian merupakan bagian penting dalam hidup keagamaan yang disampaikan dari mulut seorang imam - hamba Yahwe. Tetapi pujian ini keluar dari mulut seorang miskin dan diucapkan justru di rumah Zakaria, seorang imam. Yang menjadikan nyanyian Pujian Maria ini lain dari yang lain adalah isi pujian yang mengandung tiga inti revolusi iman: Revolusi Moral - Revolusi Sosial - Revolusi Ekonomi. Pertama, yang disebut Revolusi Moral: “Ia mencerai-beraikan orang yang congkak hatinya.” Kekristenan harus mematikan kecongkakan atau kesombongan hati orang. Maka kehadiran Yesus sebenarnya menunjukkan bahwa manusia perlu menghargai kehidupannya. Kedua, yang disebut Revolusi Sosial: “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dan meninggikan orang-orang yang rendah hati.” Kekristenan harus meniadakan perbedaan kelas yang mengarah pada diskriminasi sosial, karena praktek ini akan menempatkan martabat manusia pada titik yang paling rendah. Ketiga, Revolusi Ekonomi: “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.” Kekristenan harus menjauhkan diri dari ketamakan, di mana setiap orang dengan cara apa pun berlomba-lomba untuk memperoleh sebanyak-banyaknya demi kepentingan diri.

Nyanyian pujian Maria keluar dari ketulusan hati dan keyakinan imannya akan penyertaan Tuhan. Revolusi atas komitmen hidup justru bisa terjadi dalam dirinya karena keyakinan dasarnya itu. Kita ingin merayakan Natal dengan berpusat pada Yesus, tetapi kehadiran Yesus juga karena kesediaan Maria: seorang gadis desa yang tulus dan jujur dalam memandang rencana dan kehendak Allah.
Maka pesan akhir di Masa Adven ini yakni, tanpa ketulusan dan kejujuran hati untuk sebuah penantian, Natal yang akan kita rayakan tidak akan terlalu banyak manfaatnya. Semoga dari hati kita keluar juga pujian ini:

“Kemuliaan bagi Allah di tempat Yang Maha Tinggi”

Rm. Gregorius Kaha, SVD