![]() |
![]() Edisi YESAYA | Bunda Maria | Santa & Santo | Doa & Devosi | Serba-Serbi Iman Katolik | Artikel | Suara Gembala | Warta eRKa | Yang Menarik & Yang Lucu | Anda Bertanya, Kami Menjawab
![]() ![]() ![]() Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 30 Tahun VI / 2004 - 25 Juli 2004
![]() SUARA GEMBALA
![]() "Doa yang diucapkan di dalam rumah adalah pagar tembok yang lebih kuat ketimbang pagar besi!"
![]() oleh: Rm Gregorius Kaha, SVD
![]() ![]() ![]() Judul di atas merupakan salah satu ungkapan Yahudi yang menunjukkan betapa pentingnya doa dalam hidup manusia. Tradisi Yahudi selalu menekankan perlunya kebiasaan doa dalam keluarga-keluarga. Bahkan untuk mewujudkan hal itu mereka pun menentukan waktu-waktu doa. Namun kebiasaan-kebiasaan doa mereka itu dalam perjalanan di pengaruhi oleh sekian banyak kesalahan dan kekeliruan. Dua contoh yang ingin saya sebut dari apa yang diungkapkan Yesus sendiri:
1. Doa cenderung menjadi sesuatu yang formal, rutin dan otomatis. Sebab utamanya adalah mereka terjebak pada aturan-aturan doa dengan ketentuan-ketentuan yang rumit. Peraturan agama Yahudi menentukan bahwa setiap orang Yahudi selain mengucapkan "Shema" (= "dengarlah...") harus juga mengucapkan "shemoneh 'esreh" yakni doa delapan-belas: sebanyak tiga kali sehari. Maka kita bisa membayangkan dalam waktu yang singkat formalitas kosong akan hinggap dalam diri setiap orang.
2. Ada kecenderungan untuk mengaitkan doa dengan tempat-tempat tertentu, rumusan-rumusan yang panjang dan bertele-tele. Hal ini membuat doa menjadi semacam sebuah tontonan sesuai dengan selera. Doa bukan menjadi sebuah kerinduan, tetapi justru dilihat sebagai sebuah kewajiban yang mengarah kepada beban.
Maka ketika seorang murid meminta Yesus untuk mengajari mereka berdoa, Yesus dengan sangat tenang mengungkapkan hakekat doa itu. Dalam Injil Lukas maupun Matius kita baca dua hal penting dari jawaban Yesus.
Pertama, Yesus ingin menegaskan bahwa doa yang sejati harus dipersembahkan kepada Allah. Kesalahan sebagian besar orang Yahudi adalah mereka berdoa bukan kepada Allah tetapi kepada manusia. Lagipula dalam doa, mereka cenderung mempersalahkan sekaligus menghakimi orang lain. Seandainya kita pun berbuat seperti itu maka kita pun melakukan kekeliruan dalam doa kita.
Kedua, Yesus menunjukkan bahwa Allah yang menjadi alamat doa kita adalah Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dia setia mendengarkan kita dan menjawabi doa-doa kita. Seandainya kita pun menyadari ini, maka tidak akan ada orang yang kecewa dengan doa-doanya; yang lari meninggalkan Tuhan karena merasa doanya tak dikabulkan.
Kepada para murid Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Sebagian ekseget berpendapat bahwa Doa Bapa Kami sebenarnya adalah sebuah model doa untuk orang percaya. Artinya pertama-tama bukan soal kita hafal atau tidak doa tersebut, tetapi lebih dari itu apakah kita bisa melihat model atau pola doa kita; apakah dalam doa-doa kita ada ucapan syukur dan permohonan. Dalam Doa Bapa Kami kita menemukan tiga permintaan pertama yang berhubungan erat dengan Allah dan kemuliaan-Nya. Tiga permintaan berikutnya berkaitan dengan diri dan kebutuhan manusia. Jadi jelas bagi kita bahwa doa harus merupakan penyerahan kehendak kepada Allah, dan kehendak Allah yang akan terjadi dalam hidup manusia.
Pesan untuk kita semua: doa merupakan nafas hidup ciptaan. Relasi yang sejati dengan Tuhan dibangun dalam doa, dan kekuatan untuk hidup diinspirasi oleh doa, maka jangan berhenti berdoa. Allah yang menjadi alamat doa kita adalah Allah yang setia mendengar dan mengabulkan doa kita. Kadang kita merasa doa kita tidak dikabulkan Tuhan, tetapi sebenarnya yang terjadi adalah Tuhan mengetahui jauh lebih baik apa yang kita perlukan; apa yang paling baik untuk kita.
"Mintalah maka akan diberi, ketuklah maka pintu akan dibukakan bagimu!"
|
![]() |