![]() |
![]() Edisi YESAYA | Bunda Maria | Santa & Santo | Doa & Devosi | Serba-Serbi Iman Katolik | Artikel | Suara Gembala | Warta eRKa | Yang Menarik & Yang Lucu | Anda Bertanya, Kami Menjawab
![]() ![]() ![]() Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 43 Tahun V / 2003 - 26 Oktober 2003
![]() SUARA GEMBALA
![]() "Rabuni ... Semoga Saya Melihat!"
![]() ![]() ![]() Seorang selesai berdoa.
Dalam keputusasaan, orang itu berseru:
“Mengapa aku tidak bertemu Dia?
Aku sangat rindu!”
“Karena kamu pergi mencari-Nya,
sementara Ia datang kemari.”
“Bagaimana aku bisa bertemu?”
“Tinggallah di rumahmu, tak usah sibuk mencari.
Dia akan datang karena Dia selalu mencari.”
![]() Kata-kata ini merupakan permenungan dari sebuah pengalaman doa. Teks Injil minggu ini mengungkapkan dengan sangat indah perjumpaan "Bartimeus-seorang buta" dengan Yesus di pinggir jalan kota Yerikho. Kota Yerikho memiliki ciri yang unik. Salah satu di antaranya adalah kota itu mempunyai 20 ribu orang imam dan 20 ribu orang Lewi yang bekerja di Bait Allah (jumlah ini kita maklumi karena jabatan itu otomatis berdasarkan keturunan). Artinya, mereka tentu tidak bisa menjalankan tugas dalam waktu yang bersamaan. Maka dibuat pembagian tugas; umumnya berdasarkan undian. Yang tidak bertugas, dia masuk dalam kehidupan biasa.
![]() Kita boleh bayangkan di tengah-tengah orang-orang macam ini, Injil melukiskan berdiri juga seorang pengemis yang buta. Dia berteriak-teriak; makin ditegur makin keras teriakannya. Patut kita catat: Pertama, ada ketekunan dan kesungguhan dalam dirinya untuk berjumpa dengan Yesus. Kerinduan hatinya begitu mendalam sehingga kesempatan perjumpaan itu merupakan sebuah kesempatan istimewa! Perjumpaan pribadinya dengan Yesus membawa kehidupan baru dalam dirinya. Kedua, orang buta itu mengetahui apa yang dia inginkan. Artinya, ketika dia pergi berjumpa dengan Yesus, dia menyadari keadaannya. Dan kesadaran ini hanya bisa ada kalau orang membuat pemeriksaan diri sendiri. Kadang kita datang pada Yesus, tetapi dengan maksud yang kita sendiri tidak yakin, maka kita pun perlu pemeriksaan batin untuk mengetahui keadaan kita sebenamya. Ketiga, orang buta ini sebenarnya punya pemahaman yang tidak memadai tentang Yesus. Buktinya, dia menyebut Yesus "Anak Daud" sebuah gagasan yang tidak terlalu lazim waktu itu. Hanya yang luar biasanya adalah iman Orang Buta ini sangat kuat. Dengan demikian, benar keselamatan pertama-tama bukan paham teologis yang seseorang punyai tentang Yesus, melainkan imannya yang total. Keempat, orang buta itu seorang pengemis, tetapi betapa dia tahu berterima kasih dan belajar setia dalam iman.
Doa orang buta adalah juga doa kita: "Rabuni, semoga saya melihat ...!"
Kita hidup dalam satu tatanan sosial yang mulai sulit dan menuntut dari kita kebijaksanaan hidup dengan hati seorang gembala: sabar, lemah lembut, mengerti orang lain dan tidak mudah terpancing karena emosi. Kita kadang buta oleh sekian banyak unsur atau pengalaman yang datang dan pergi mewarnai kehidupan tiap-tiap kita. Kita kadang buta oleh karena kepercayaan; kuasa atau kedudukan. Maka perjumpaan pribadi kita dengan Yesus di pinggir pengalaman hidup kita tadi, hendaknya membawa kehidupan baru dalam diri kita. Kita pun berdoa: "Rabuni, semoga saya pun melihat!" Melihat apa?
![]() ![]() Rm. Gregorius Kaha, SVD
|
![]() |