![]() |
![]() Edisi YESAYA | Bunda Maria | Santa & Santo | Doa & Devosi | Serba-Serbi Iman Katolik | Artikel | Suara Gembala | Warta eRKa | Yang Menarik & Yang Lucu | Anda Bertanya, Kami Menjawab
![]() ![]() ![]() Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 33 Tahun VI / 2004 - 15 Agustus 2004
![]() SUARA GEMBALA
![]() Perempuan Yang Berselubungkan Matahari
![]() Rm. Gregorius Kaha, SVD
![]() ![]() ![]() Kita merayakan pesta “Maria Assumpta”. Dogma atau kebenaran tentang Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raga menimbulkan banyak sekali pertanyaan. Apalagi peristiwa ini tidak diceritakan dalam Kitab Suci (= tidak ada sumber tertulis). Lagipula, orang sulit menemukan bukti tentangnya (= tidak ada saksi mata). Hemat saya, di sini justru letak kekuatannya bahwa iman bukan hanya soal pembuktian, tetapi juga soal keyakinan. Maka, dogma tersebut adalah ungkapan keyakinan dan kebenaran yang hidup dalam Gereja.
![]() GADIS NAZARETH YANG TERBERKATI
![]() Bunda Maria digambarkan oleh Injil sebagai “kaum Anawim”; kaum hina dina, kaum miskin dan terlupakan. Maria hidup di kampung kecil Nazareth, jauh dari situasi ramai dan sama sekali tidak terkenal. Dia datang dari situasi sangat sederhana, cenderung terabaikan. Ingat pertanyaan keraguan ini: “Adakah sesuatu yang baik datang dari Nazareth?”
![]() Gadis sederhana ini ternyata dipilih dan ditetapkan oleh Allah menjadi Bunda Tuhan; rahimnya mengandung Yesus - Putra Allah. Bunda Maria membawa Yesus dalam kehidupan dunia, ia mengandung, melahirkan, dan membesarkan Yesus dalam kecintaannya akan Allah.
![]() Perjumpaan dengan Elisabeth - saudarinya - memberi kita pesan bahwa kunjungan Maria membawa kegembiraan tersendiri bagi keluarga Elisabeth. Kegembiraan itu melahirkan pujian dari Elisabeth kepada Maria, tetapi bagi Bunda Maria pujian itu tidak berhenti pada dirinya sendiri, ia justru mengembalikan pujian itu kepada Tuhan; ia justru menyalurkan pujian orang lain kepada Tuhan. Maka pantas dan layak kalau dari bibirnya terucap kata-kata pujian itu: “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bersukacita karena Allah Juruselamat-ku, sebab Dia memperhatikan daku hamba-Nya yang hina ini, mulai sekarang aku disebut yang berbahagia.”
![]() Saudara-saudari, setiap kegembiraan, rahmat dan berkat yang kita terima memang sepantasnya membangkitkan rasa spontan untuk bersyukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada sesama.
![]() PEREMPUAN YANG BERDANDAN CAHAYA KEMULIAAN, TETAPI BUKAN TANPA SALIB
Dalam Kitab Suci kita menemukan sisi lain dari kehidupan “dia yang terberkati ini” yakni bahwa penderitaan adalah bagian dari jalan hidupnya. Gambaran sangat jelas kita temukan dalam Kitab Wahyu: “tampak satu tanda besar di langit, seorang perempuan berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari 12 bintang di atas kepalanya.” Perempuan ini adalah orang yang terberkati dan menerima anugerah dan rahmat yang berlimpah. Tetapi tentang dia, Kitab ini pun menulis: “Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaan akan melahirkan ia berteriak kesakitan!”
Dalam magnifikat, kita menemukan keyakinan Maria yang besar akan kasih karunia Allah. Perbuatan-perbuatan besar Allah dalam dirinya tidak membuat dia buta atau lupa diri, dia tetap menyadari diri sebagai seorang hamba. Semua lukisan tadi menggambarkan harapan Maria yang besar pada penyelenggaraan Allah. Inspirasi kekuatan hidup Bunda Maria justru pada kehadiran Putra-Nya sendiri.
Sebagai Bunda Gereja, Maria juga setia berjalan bersama dengan Gereja dalam seluruh pergumulan iman. Itu berarti Gereja perlu membangun dalam gerakan hidup umatnya sikap rendah hati dan kerelaan untuk berkorban. Kenapa? Karena dari pengalaman iman Maria kita melihat bahwa kerendahan hati adalah kunci bagi Tuhan masuk dalam diri seseorang. Kerendahan hati itulah yang melahirkan kepercayaan yang tulus dan sikap penyerahan diri yang total. Gereja (= termasuk setiap kita) perlu membangun dalam diri semangat kerendahan hati karena dalam semangat kerendahan hati kepercayaan Gereja dimurnikan, dan dalam semangat kerendahan hati pula penyerahan diri Gereja secara total kepada Allah bisa terwujud.
MAKNA APA DI BALIK PESTA MARIA DIANGKAT KE SURGA?
Dogma “Maria diangkat ke surga dengan jiwa dan raga” dikeluarkan pada tanggal 1 November 1950, tepat pada Pesta Semua Orang Kudus. Pada waktu itu, di hadapan 37 orang kardinal, 582 Uskup dan sekitar 600.000 umat Katolik dari seluruh dunia, Paus Pius XII mengumumkan dogma ini. Paus sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang baru, ia justru menegaskan kembali secara resmi keyakinan yang selama ini hidup dalam situasi iman umat.
Saya menyadari sungguh bahwa masih banyak orang membutuhkan waktu untuk menerima bahkan mengerti pesan dari ajaran tersebut, namun dalam kecintaan saya terhadap Bunda Maria, saya ingin mengajak kita untuk merenungkan dua gagasan sederhana ini:
![]() ![]() Bunda Maria - Pengantara Rahmat, doakan kami pada Yesus Putramu. Amin.
|
![]() |