![]() |
![]() Edisi YESAYA | Bunda Maria | Santa & Santo | Doa & Devosi | Serba-Serbi Iman Katolik | Artikel | Suara Gembala | Warta eRKa | Yang Menarik & Yang Lucu | Anda Bertanya, Kami Menjawab
![]() ![]() ![]() Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 12 Tahun VI / 2004 - 21 Maret 2004
![]() SUARA GEMBALA
![]() PESAN KONFLIK:
![]() Tak Selamanya Mendung itu Kelabu
![]() ![]() ![]() Konflik adalah realita dalam kehidupan bersama. Artinya, konflik bisa terjadi kapan dan di mana saja; pada generasi atau pribadi mana pun. Yang jelas, setiap konflik selalu ada sebab dan ada akibatnya. Ambil contoh analisa politik seorang pengamat sosial, dia menulis:
“Presiden kita seorang perempuan
berasal dari PDIP - partai yang anti Piagam Jakarta.
Wakil Presiden datang dari PPP - Partai yang pernah memperjuangkan Piagam Jakarta
dan yang pemah mengucapkan anti presiden perempuan.
Sementara kabinetnya datang dengan warna yang berbeda bagai pelangi.
Menjelang Pemilihan Umum ini, kalau mereka ribut,
Siapa yang terkejut?”
Dalam contoh ini nampak jelas bahwa sebab utama konflik adalah adanya perbedaan. Atau secara lebih netral kita katakan perbedaan-perbedaan yang ada merupakan peluang terjadinya konflik. Secara umum, konflik memang bisa terjadi dengan orang lain, tetapi konflik juga bisa terjadi dengan diri sendiri. Yang pertama, dengan mudah kita rasakan, tetapi yang kedua, kadang tidak kita sadari. Dan menariknya semua konflik selalu ada hikmahnya.
Dalam Injil Yohanes 8:1-11, konflik antara Tuhan Yesus dengan orang-orang Farisi digambarkan dengan sangat tajam. Pasti orang bertanya; “Kenapa Yesus kok bisa masuk dalam konflik? Bukankah Dia orang baik?” Dari konteks kisah tersebut, kita dengan jelas melihat konflik itu terjadi bukan karena diri Yesus, tetapi karena sikap sombong, iri hati dan rasa malu dalam diri orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka merasa mereka adalah orang paling baik; mereka iri ketika banyak orang datang mendengarkan Yesus; mereka malu ketika kesalahan mereka diungkapkan oleh Yesus. Semua sikap negatif itu yang mendorong mereka mau menjebak Yesus dengan memperalat kesalahan orang lain. Kita bercermin dari pengalaman hidup kita:
Kalau orang jengkel pada seseorang,
kalau orang tidak puas pada seseorang, dan
kalau orang dikuasai sikap sombong dan iri hati,
kadang dia terjebak pada gaya orang Farisi tadi:
memakai segala macam cara untuk menjatuhkan orang lain.
Apa yang kita bisa petik dari perjumpaan Yesus dengan orang Farisi dan ahli Taurat maupun perjumpaan Yesus dengan Perempuan yang bersalah itu.
Sikap Yesus: Tenang dan Tegas
Yesus sama sekali tidak mendukung hukuman merajam perempuan itu sampai mati, tetapi Yesus pun tidak membela kesalahan perempuan itu. Dengan sangat tegas Dia menunjukan sikap-Nya: “Barangsiapa diantara kamu yang tidak berdosa, hendaklah dia yang pertama melemparkan batu ini kepada perempuan itu.” Kata- kata itu membuat mereka pergi. Dan kepada perempuan itu Yesus mengatakan: “Aku pun tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Kata-kata itu membuat perempuan itu berdiri dan mendengarkan Yesus. Bagi dia yang paling indah pada Tuhan adalah pertobatan dan bukan hukuman atau kutukan. Kita kadang begitu sibuk dengan mempersoalkan hukuman Tuhan bagi orang lain karena dosa dan salah, kita lupa membantu satu sama lain dalam jalan pertobatan kita.
Yesus tidak menolak konflik, tetapi menjadikan konflik sebagai peluang memurnikan kehidupan:
Banyak kita menjadikan konflik sebagai sebuah beban. Maka, kadang demi menghindari konflik, orang tidak berani mengatakan apa yang benar; kadang orang menjadikan konflik sebagai sebuah malapetaka, maka guna menghindari konflik orang toleran dengan perbuatan-perbuatan yang salah. Kadang orang takut konflik sehingga berusaha membangun damai dengan gagasan harmoni yang keliru.
Maka satu hal indah yang setiap kita boleh lihat dalam diri Yesus; Yesus melawan dengan sangat keras dosa, Ia melawan dengan sangat tajam kesalahan dan kemunafikan orang; TETAPI Yesus tidak pernah menolak pribadi orang; Ia tidak pernah menutup pintu keselamatan untuk orang yang melakukan kesalahan. Kuncinya adalah kita mau bertobat sungguh-sungguh walau untuk itu kita harus berkonflik dengan diri sendiri bahkan mungkin dengan orang lain. Benar kalau orang katakan, “Tak selamanya mendung itu kelabu!”
Rm. Gregorius Kaha, SVD
Catatan:
![]() Kumpulan Suara Gembala telah dicetak dalam bentuk buku dengan judul “Semoga Saya Melihat”. Bagi yang berminat memiliki buku tersebut, dapat memesannya dengan mengganti biaya cetak sebesar Rp 5.000 /eks + ongkos kirim ke YESAYA, e-mail: yesaya@indocell.net
|
![]() |