YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Suara Gembala   |   Warta eRKa   |   Yang Menarik & Yang Lucu   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 08 Tahun IX / 2007 - 25 Februari 2007
SUARA GEMBALA

Yesus Saja Dicobai, Apalagi Kita?
(Manusia hanya dari debu tanah; kita perlu renungkan….)
Rm. Gregorius Kaha, SVD
Sebagian besar isi Kitab Suci adalah seruan untuk bertobat. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menegaskan bahwa manusia perlu bertobat. Pertanyaan kritis kita: “Kenapa manusia perlu bertobat?” Di hari Rabu Abu kemarin, kita mendengar alasan yang ditulis oleh Nabi Yoel, bahwa manusia perlu bertobat karena manusia menjauhkan diri dari Tuhan; karena dosa merajalela dalam kehidupan manusia dan mencemarkan hati manusia. Maka, tobat berarti “mengoyakkan hati dan bukan pakaian”, atau pinjam gagasan Kitab Ulangan hari Minggu ini, tobat membawa manusia kembali kepada keyakinannya akan penyertaan Allah dan manusia mesti berani meninggalkan dosa dan salah.


Pandangan Tentang Dosa

Defenisi dosa dalam pandangan lama mempunyai banyak kelemahan, yakni dosa adalah “pelanggaran hukum-hukum Allah”. Kelemahan defenisi ini, Pertama, dosa terlalu dihubungkan dengan hukum / aturan, sehingga roh / jiwa dari hukum itu hilang / pudar. Kedua, sifat individual dari dosa terlalu kuat. Akibatnya orang merasa dosa itu hanya urusan pribadi dia dengan Tuhan, lalu selesai / bersih. Defenisi baru (Konsili Vatikan II), dosa adalah “putusnya / retaknya relasi / hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama dan manusia dengan ligkungan”. Yang dominan dari defenisi ini, Pertama, penekanan dosa bukan pada sisi hukum tetapi RELASI yang rusak / terganggu. Kedua, dosa mencemarkan hati manusia, sehingga tobat harus mulai dan bergerak dari hati. Ketiga, dosa bukan saja aspek individual / urusan saya dengan Tuhan semata-mata, tetapi juga ada aspek sosial-eklesial / akibat sosial untuk sesama bahkan lingkungan (bdk. kisah dosa Adam dan Hawa membuat relasinya dengan Tuhan putus, hubungan mereka retak, dan hubungannya dengan lingkungan berubah).


Belajar Dari Yesus

Dosa terus menerus membayangi kehidupan manusia. Umumnya dosa berawal dari godaan atau tawaran. Tidak ada satu manusia pun yang luput dari godaan, bahkan Yesus Sendiri pun mengalami hal yang sama. Lalu bagaimana kita menghadapi godaan atau tawaran itu dalam hidup kita? Mari kita belajar dari sikap Yesus menghadapi tiga bentuk tawaran setan:

Godaan I : Merubah Batu Menjadi Roti

Ini tawaran untuk mendapatkan segala sesuatu dengan jalan pintas, tanpa kerja / usaha. Dalam pencobaan ini, cara tidak penting, yang penting hasil; baik / luhur / adil tidak penting, yang penting materi / hal-hal duniawi. Kita perlu renungkan di masa tobat ini “sejauh mana materi / hal-hal duniawi mempengaruhi kehidupan saya?” Jangan sampai kita justru sulit menolak tawaran macam ini dengan mengorbankan banyak hal baik / nilai-nilai luhur dalam hidup untuk materi / harta.

Godaan II : Nafsu Untuk Berkuasa

Salah satu kekuatan yang menggiurkan untuk hidup manusia sampai sekarang adalah kuasa. Tawaran ini merupakan godaan besar bagi manusia modern. Menjadi tenar, hebat, dikagumi / disenangi, siapa yang tidak ingin? Tidak ada salahnya juga kalau orang memperoleh kuasa, tetapi godaannya adalah memperoleh kuasa itu dengan merendahkan diri di hadapan setan. Orang berusaha supaya di mata orang dia baik, ramah dan suka menolong, tetapi ternyata karena ada maunya. Kita perlu renungkan “bagaimana sikap kita terhadap orang lain?” Kadang kita cenderung menguasai kalau kita memiliki sesuatu yang kita anggap lebih. Apakah itu pengetahuan? Pangkat / status? Fisik? Semuanya kalau dianggap terlalu berlebihan, menjadikan orang lain cenderung dijajah. Padahal kita tahu, kuasa / kepercayaan apapun adalah panggilan untuk melayani.

Godaan III : Membuat Diri Hebat di Mata Orang

Yesus bukan anti pujian. Dalam Kitab Suci, kita membaca Yesus juga dipuji dimana-mana? Tetapi ingat tujuan hidup atau apa yang dilakukan Yesus bukan supaya dipuji orang. Dia menolong dengan tulus, Dia menyembuhkan dengan sukacita tanpa pamrih, Dia membangkitkan harapan dengan penuh kejujuran. Setan menawarkan sesuatu yang sangat menggiurkan, menjadi orang tenar dan hebat, dengan dalih yang Biblis, “Tuhan berjanji menyertaimu.” Kadang tanpa kita sadari praktek kehidupan iman yang kita jalankan justru membawa kita pada kesombongan rohani dengan meremehkan orang lain.


Penutup

Ketiga pencobaan itu sangat dekat dengan pengalaman manusiawi kita. Namun sayang kita sering gagal untuk mengambil sikap seperti Yesus. Penyesalan dalam diri kita kadang datangnya terlambat, atau lebih parah lagi, tidak pernah datang. Maka minta supaya Yesus jangan mengambil atau melenyapkan pencobaan dalam hidup kita, melainkan menyertai kita agar sikap yang kita ambil selaras dengan sikap-Nya, yakni menolak dengan tegas tawaran yang dapat membinasakan kehidupan kita.

Selamat menjalankan masa puasa.