![]() |
![]() Edisi YESAYA | Bunda Maria | Santa & Santo | Doa & Devosi | Serba-Serbi Iman Katolik | Artikel | Suara Gembala | Warta eRKa | Yang Menarik & Yang Lucu | Anda Bertanya, Kami Menjawab
![]() ![]() ![]() Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 04 Tahun IX / 2007 - 28 Januari 2007
![]() SUARA GEMBALA
![]() “Tersinggung...?”
![]() Rm. Gregorius Kaha, SVD
![]() ![]() ![]() Semua kita pernah melihat orang tersinggung atau mungkin kita sendiri pun pernah tersinggung. Seperti ada banyak alasan yang membuat orang tersinggung, demikian juga ada banyak akibat dari rasa tersinggung itu; ada yang marah, sedih, kecewa, bahkan ada yang dendam. Banyak tindakan kekerasan juga lahir karena rasa tersinggung. Jadi hati-hati dengan yang namanya “tersinggung” itu.
Orang-orang Nazareth tersinggung karena kata dan perbuatan Yesus. Peristiwa ini terjadi di dalam rumah ibadat di kampung halaman-Nya sendiri, di hadapan orang-orang yang mengenal Dia. Lukas, penginjil yang dokter itu, melukiskan dengan sangat indah kisah itu. Awal mulanya, semua mereka heran atas kata-kata indah yang disampaikan oleh Yesus dan kagum pada tindakan-tindakan-Nya. Keadaan berubah Ketika Yesus mulai mengatakan siapa Diri-Nya, untuk apa Dia diutus dan bagaimana belaskasih Allah terhadap orang-orang di luar bangsa-Nya. Kitab Suci menulis, “Semua orang yang ada di rumah ibadat itu marah, lalu mereka bangun dan menghalau Yesus keluar kota membawa Dia ke tebing gunung untuk melemparkan Dia dari tebing itu.” Pertanyaan kita, apa yang salah dari kata-kata Yesus sehingga membuat mereka begitu tersinggung? Apa benar semua orang di Nazareth tersinggung dengan kata-kata Yesus itu? Kalau Yesus sampaikan kebohongan / kepalsuan, pantas mereka tersinggung atau marah, tetapi Yesus berbicara tentang kebenaran yang Ia terima dari Bapa.
Tiga hal bisa dikatakan kenapa mereka tersinggung. Pertama, karena Yesus dianggap sombong dengan menyebut diri “yang datang dari atas”. Mereka tidak terima bahwa Yesus, anak tukang kayu itu seorang yang diurapi. Kalau saja orang-orang itu sedikit rendah hati, mendengar dan merenungkan apa yang dikatakan dan dilakukan Yesus, mereka seharusnya percaya. Sayang mata hati mereka tidak sanggup melihat / ditutupi pertimbangan manusiawi semata. Kedua, karena Yesus menyamakan diri dengan Elia dan Elisa. Bagi orang Yahudi, dua nabi ini adalah nabi besar dan sangat dihormati, menyamakan diri dengan mereka adalah sebuah penghinaan. Kalau saja orang orang ini percaya pada Yesus, mereka pasti akan memahami apa maksud kata-kata Yesus. Sayang hati mereka sungguh tertutup untuk kehadiran Yesus. Ketiga, karena Yesus membawa ajaran baru dengan mengatakan bahwa bangsa lain pun diselamatkan. Orang Yahudi yakin bahwa mereka adalah bangsa pilihan dan berhak penuh memperoleh keselamatan, sementara bangsa yang lain layak dihukum dan dibinasakan. Kalau saja mereka memahami ajaran cinta kasih yang disampaikan Yesus, pasti mereka akan bersukacita atas keselamatan itu. Sayang mereka terus tenggelam dalam hukum lama yang jauh dari semangat cinta dan pengampunan.
Sebagai manusia biasa kita pun sering masuk dalam pengalaman ketersinggungan (entah kita dibuat atau membuat orang tersinggung). Bagaimana menghadapi pengalaman ini? Kitab Suci menawarkan kita untuk:
1. Belajar dari Yesus Sendiri: dari DIA kita belajar berbicara dengan jujur dan tulus. Hati akan teduh, pikiran akan dingin, bila kata-kata yang disampaikan tulus dan jujur. Bdk kisah Yesus dengan Bunda-Nya dan saudara-saudaraNya. “Siapa ibuKu, siapa saudara-saudari-Ku?” Kata-kata Yesus tampaknya sangat keras dan kasar, tetapi karena disampaikan dalam ketulusan hati, akibatnya lain.
2. Belajar dari kisah orang Nazareth tadi: hampir pasti di antara mereka ada yang menerima dan mengakui kehadiran Yesus yang penuh kuasa, tetapi karena suara mayoritas, mereka pun tenggelam dan ikut-ikutan. Iman ternyata perlu komitmen pribadi, sikap ikut arus justru membuat iman orang tidak berakar / mendalam.
3. Belajar dari Bunda Maria: Bunda Maria harus berhadapan dengan kata-kata Yesus yang keras (Siapa ibuku? / Mengapa kamu mencari Aku?), tetapi tidak ada rasa tersinggung, kecewa atau marah. Bunda Maria justru menyimpan semuanya dalam hati. Simpan semuanya dalam hati artinya dia melihat itu dalam kerangka keyakinan pribadinya “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Nya.” Iman yang penuh penyerahan diri menjauhkan orang dari rasa ingat diri, menumbuhkan kesabaran dan kebijaksanaan dalam hati. Semoga Tuhan mengantar kita di jalan ini; jalan seorang hamba.
|
![]() |