![]() |
![]() Edisi YESAYA | Bunda Maria | Santa & Santo | Doa & Devosi | Serba-Serbi Iman Katolik | Artikel | Suara Gembala | Warta eRKa | Yang Menarik & Yang Lucu | Anda Bertanya, Kami Menjawab
![]() ![]() ![]() Warta Paroki Gembala Yang Baik No. 39 Tahun VIII / 2006 - 24 September 2006
![]() SUARA GEMBALA
![]() Mau yang Terbesar?
![]() <Ukuran Dunia atau Ukuran Allah>
![]() Rm. Gregorius Kaha, SVD
![]() Kehidupan ini akan selalu berubah, karena hakekatnya hidup adalah perubahan. Diri kita terus berubah; sejak awal kelahiran hingga kematian menjemput memang selalu ada proses perubahan dalam diri kita. Maka kita adalah bagian dari perubahan; kita tidak bisa menolak perubahan, setuju atau tidak, perubahan itu akan selalu terjadi dalam kehidupan kita.
Dalam konteks itu, kitab Kebijaksanaan menggambarkan sebuah realita yang sangat
Menarik dalam kehidupan yakni bahwa “yang jujur-yang setia” dari Allah selalu ditantang, digugat atau ditolak oleh orang yang jahat. Maksud penolakan sering dirumuskan dengan bahasa agar iman orang-orang jujur diuji, lagi pula agar orang-orang fasik dapat melihat apa betul Allah itu ada dipihak orang jujur dan setia. Apa pun alasan penolakan itu, satu hal jelas bahwa kehadiran orang-orang jujur dan setia, merupakan gangguan bagi orang-orang jahat. Memang orang baik dan orang jahat adalah bagian tak terpisahkan dari proses kehidupan.
Dalam konteks yang sedikit lebih luas, Markus Penginjil melukiskan keberadaan Yesus sebagai Mesias. Yesus berbicara tentang identitas Mesias, yakni sebelum bangkit jaya Ia harus menderita disalibkan. Tetapi murid-murid-Nya tidak mengerti. Bahkan mereka cenderung berpikir tentang Mesias dengan kuasa-kuasa duniawi. Akibatnya mereka mengalami kesulitan dalam komunitas hidup bersama, “di tengah jalan mereka bertengkar, siapa yang terbesar di antara mereka.” Pertengkaran di tengah jalan adalah simbol ambisi, nafsu serakah dan persaingan tak sehat. Kesalahpahaman di antara para murid ternyata karena ukuran tentang “yang terbesar” dilihat dari sisi duniawi.
Maka di sini sebenarnya Kitab Suci memperingatkan bahwa ada dua ukuran yang berbeda: “terbaik menurut ukuran dunia” dan “terbaik menurut ukuran Allah”. Terbaik menurut ukuran DUNIA berbeda dengan yang terbaik menurut ukuran ALLAH. Menurut ukuran dunia, orang menjadi pertama dan terbesar apabila lebih di atas yang lain, mengalahkan yang lain, bermegah lebih dari yang lain dan ini semua berdasarkan kekuatan sendiri; sedangkan menurut ukuran Allah, orang menjadi terbesar melalui mengasihi yang lain, melayani dan menolong yang lain, menjadi pelayan atau hamba bagi yang lain; sikap ini membutuhkan kerendahan hati dan pengorbanan.
ANDA BOLEH MEMILIH: “Menurut dunia atau ...?
Semua orang ingin hidup bahagia, ingin memperoleh yang terbaik dalam hidup. Setiap orang punya kerinduan untuk hidup bahagia dan tenang. Persoalannya, ukuran mana yang kita anut? Kita sering dengar orang mengatakan bahagia kalau tinggal di rumah yang besar, mewah dengan banyak fasilitas, tetapi kadang suami-isteri tidak pernah bicara; apa itu bahagia? Lain katakan bahagia itu kalau suami kerja-isteri kerja, sama-sama dapat duit, tetapi kadang suasana sibuk membuat relasi lemah - komunikasi berantakan; apa itu yang disebut bahagia? Salah satu ukuran bahagia dalam Kitab Suci kalau ada suasana yang baik dalam hidup atau dalam bahasa Kitab Suci disebut suasana cinta kasih. Gagasan ini sejalan dengan pesan Rasul Yakobus dalam bacaan II tadi yakni supaya setiap orang percaya membangun dalam dirinya gaya hidup yang benar yakni gaya hidup berhikmat yang datang dari atas.
“Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-pertama murni, selanjutnya suka damai, lembut, penurut, penuh belaskasih....”
Karena akar dari semua sengketa adalah iri hati dan mementingkan diri sendiri. Semoga kita terus menerus hidup dalam semangat Yesus.
|
![]() |