YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Segala Sesuatu tentang Api Penyucian



  Sekilas tentang Api Penyucian
  Dasar Biblis dan Ajaran Gereja
  Mengapa Berdoa bagi Jiwa-jiwa Menderita di Api Penyucian?
  Bagaimana Kita Menolong Jiwa-jiwa Menderita?
  Doa-doa Singkat bagi Pembebasan Jiwa-jiwa
  Bunda Maria dan Jiwa-jiwa di Api Penyucian
  Para Kudus dan Jiwa-jiwa di Api Penyucian
  Bagaimana Menghindari Api Penyucian?
  Hal-hal Menarik Lainnya tentang Api Penyucian
  Beberapa Pertanyaan Seputar Api Penyucian


    Sekilas tentang Api Penyucian

Api penyucian, atau disebut juga Purgatorium, telah diajarkan sejak jaman para Rasul. Baru pada abad ke-16, kaum Protestan memutuskan untuk menolak doktrin yang telah lama ada ini. Jika kita mempelajari sejarah Gereja serta membaca tulisan-tulisan Gereja Perdana, kita dapat melihat bahwa api penyucian senantiasa diajarkan oleh Gereja. Menolaknya berarti menolak ajaran yang telah diwariskan kepada kita melalui para Rasul Kristus sendiri.

Api penyucian ada semata-mata karena belas kasih Allah. Persyaratan untuk masuk ke dalam surga begitu sulit karena “tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis” (Why 21:27). Agar dapat langsung menuju surga, kita harus sepenuhnya bebas dari noda dosa. Artinya bahwa kita harus dalam keadaan rahmat, bebas dari dosa-dosa ringan, telah sepenuhnya melunasi penitensi dan siksa dosa temporal atas segala dosa kita, serta bebas dari keterikatan duniawi yang menjauhkan kita dari Tuhan (misalnya: harta benda, dendam, dsb). Begitulah, kita dapat melihat betapa sulitnya menghindari api penyucian, tetapi dengan pertolongan rahmat Tuhan, kita dapat melakukannya!

Tujuan api penyucian adalah untuk memurnikan kita dari segala noda dosa, silih atas segala hutang dosa sepanjang hidup kita, serta melepaskan kita dari segala keterikatan duniawi agar kita dapat sepenuhnya mengasihi Tuhan dan sesama. Setelah noda dosa sepenuhnya dibersihkan, maka jiwa akan segera masuk dalam kemuliaan dan persekutuan penuh dengan Tuhan di surga.

Proses pemurnian di api penyucian sangat menyakitkan. Jiwa-jiwa di sana melihat bagaimana dosa telah memisahkan mereka dari Tuhan dan mereka menyesali secara mendalam apa yang telah mereka lakukan. Bahkan dosa ringan sekalipun menyebabkan mereka menderita, sebab seringan apapun dosa, dosa tersebut merupakan penghinaan terhadap Allah karena ketidaktaan pada kehendak-Nya. Jiwa-jiwa menderita memiliki kerinduan yang kuat untuk berada di surga, tetapi mereka tak dapat, karena ketaklayakan mereka. Hal ini juga mengakibatkan sengsara hebat dalam diri mereka. Jiwa-jiwa memohon, “Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.” (Mzm 130:1-2). Walau jiwa-jiwa di sana menderita sengsara yang dahsyat, tetapi mereka juga memiliki sukacita yang besar oleh karena pengharapan bahwa suatu hari nanti mereka akan berada di surga. St Katarina dari Genoveva mengatakan bahwa “selain dari kebahagiaan para kudus di surga, aku rasa tak ada sukacita yang melebihi sukacita jiwa-jiwa di api penyucian.” St Katarina menambahkan, “Tuhan membangkitkan dalam jiwa-jiwa di api penyucian suatu gerakan kasih yang berkobar-kobar hingga mampu membinasakan mereka, seandainya jiwa-jiwa itu fana. Diterangi dan dibakar oleh kasih yang murni ini, semakin jiwa mengasihi Tuhan, semakin jiwa jijik terhadap noda terkecil sekalipun yang menyakiti-Nya, dan semakin berkuranglah rintangan yang menghalangi persatuan jiwa dengan-Nya.”


    Dasar Biblis dan Ajaran Gereja

lihat “Apakah Api Penyucian itu Ada?” oleh Romo William P. Saunders


   Mengapa Berdoa bagi Jiwa-jiwa Menderita di Api Penyucian?

Berdoa bagi mereka yang telah meninggal dunia bukan saja bermanfaat, tetapi juga amat penting. Sayang sekali kebiasaan ini hampir terabaikan. Kita telah lupa bahwa Gereja Katolik terdiri dari tiga bagian yang tak terpisahkan: GEREJA PEJUANG (kita di dunia, yang setiap hari berjuang demi keselamatan kita), GEREJA MENDERITA (jiwa-jiwa di api penyucian) dan GEREJA JAYA (para malaikat dan para kudus di surga). Ketiga gereja tersebut membentuk Tubuh Mistik Kristus dan saling bekerja sama dalam mempertahankan pondasi gereja. Jika kita, Gereja Pejuang, lalai berdoa bagi jiwa-jiwa para saudara kita di api penyucian (Gereja Menderita), berarti kita ikut melemahkan pondasi gereja.


    Bagaimana Kita Menolong Jiwa-jiwa Menderita?

St Fransiskus de Sales mengatakan, “Kita seringkali tidak cukup mengenangkan saudara-saudara kita kaum beriman yang telah meninggal dunia.” Memang benar, kita seringkali lupa sama sekali untuk berdoa bagi jiwa-jiwa menderita di api penyucian. Kita dengan senang hati menolong mereka yang menderita di dunia, baik sesama manusia atau bahkan binatang, tetapi seringkali kita lupa menolong saudara-saudara kita, jiwa-jiwa di api penyucian, karena kita tidak dapat melihat mereka.

Sebagai warga Gereja Pejuang, sungguh penting bagi kita untuk membangkitkan kembali praktek saleh Devosi bagi Jiwa-jiwa di Api Penyucian. Jiwa-jiwa menderita di purgatorium tidak lagi dapat berdoa bagi diri mereka sendiri, mereka sama sekali tergantung pada kita. Jika kita tidak berdoa bagi mereka, maka mereka akan terlantar. Oleh sebab itu, selayaknyalah kita berusaha sebaik-baiknya menolong agar mereka segera terbebas dari siksa sementara api penyucian. Jiwa-jiwa yang dihantar masuk ke dalam Kerajaan Allah melalui doa dan kurban kita bagi mereka sementara kita di dunia, kelak akan menjadi sahabat-sahabat kita selama-lamanya di surga! Mereka akan terus menjadi pendoa yang berdayaguna bagi kita semasa kita di dunia begitu mereka masuk dalam persekutuan surgawi dan penuh sukacita menjadi warga Gereja Jaya.  

Ada berbagai cara di mana kita dapat menolong jiwa-jiwa di api penyucian:

1. Misa Kudus

Misa Kudus merupakan sarana yang paling mujarab dan paling tepat untuk mendoakan jiwa-jiwa. Sebab, dalam Misa Kudus kita merayakan kembali kenangan sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus demi penebusan dosa segenap umat manusia, baik yang hidup maupun yang telah meninggal dunia dan masih tinggal di api penyucian.

Sebagian jiwa telah begitu dekat dengan surga hingga yang mereka butuhkan hanyalah rahmat berlimpah dari SATU Misa Kudus agar jiwa mereka dibebaskan. Dan kita dapat melakukan ini dengan amat mudah!

2. Doa Rosario bagi keselamatan jiwa-jiwa di api penyucian: Rosario Arwah

3. Devosi Kerahiman Ilahi: Koronka

4. Perbuatan baik, tindakan amal kasih, kurban dan silih.

Setiap kali melakukannya, ingatlah untuk mengatakan dalam hati, “Yesus, ini demi jiwa-jiwa di api penyucian.” Atau, kita dapat memilih hari-hari tertentu dan menetapkan bahwa kita akan mempersembahkan segala hal baik yang kita lakukan pada hari itu demi pembebasan jiwa-jiwa di api penyucian.

5. Ibadat / Renungan Sengsara Yesus, misalnya Jalan Salib.

6. Indulgensi bagi jiwa-jiwa di purgatorium

Doa atau ibadah khusus guna mendapatkan indulgensi, baik indulgensi seluruhnya ataupun sebagian, bagi jiwa-jiwa di api penyucian dapat kita lakukan seturut peraturan / ketentuan Gereja. Dengan indulgensi, kita mendatangkan rahmat berlimpah dari “gudang harta pusaka Gereja” bagi jiwa-jiwa menderita.

7. Tindakan menghormati mereka yang meninggal, misalnya: merawat jenazah / makam, kunjungan ke makam, tabur bunga, doa, dll.


    Doa-doa Singkat bagi Pembebasan Jiwa-jiwa

 Pada tanggal 13 Juli 1917, anak-anak dari Fatima - Lusia, Yasinta dan Fransesko - diperkenankan melihat api neraka. Begitu ngeri dan dahsyat penglihatan itu, hingga anak-anak gemetar ketakutan. Bunda Maria berkata penuh iba dan sedih, “Kalian telah melihat tempat ke mana jiwa-jiwa para pendosa akan pergi. Keadaan ini kiranya bisa menjadi satu permohonan sederhana di antara peristiwa-peristiwa doa Rosario.”

Kemudian doa ini diajarkan kepada anak-anak, “Ya Yesus yang baik, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka, hantarlah jiwa-jiwa ke surga, terlebih mereka yang sangat membutuhkan kerahiman-Mu.”

 Dalam suatu wahyu pribadi, Kristus mengatakan kepada St Gertrude Agung bahwa doa berikut akan membebaskan 1000 jiwa dari api penyucian setiap kali didoakan:

“Bapa yang kekal, aku persembahkan kepada-Mu, Darah Mahasuci Putramu yang ilahi, Yesus Kristus, dalam persatuan dengan semua Misa yang dipersembahkan di seluruh dunia pada hari ini, bagi segenap jiwa-jiwa menderita dalam api penyucian, bagi para pendosa di mana pun mereka berada, bagi para pendosa dalam Gereja Universal, bagi mereka dalam rumahku dan dalam keluargaku. Amin.”

 Suatu doa sederhana lainnya yang sangat bermanfaat bagi jiwa-jiwa menderita adalah “Yesus, Maria, aku mengasihi-Mu, selamatkanlah jiwa-jiwa.” Kata-kata ini diajarkan Yesus kepada Sr M. Consolata. Yesus mengatakan, “Pikirkanlah ini - satu tindakan kasih dapat menentukan kebahagiaan kekal suatu jiwa. Sebab itu, berhati-hatilah untuk tidak melalaikannya, `Yesus, Maria, aku mengasihi-Mu, selamatkanlah jiwa-jiwa.' Setiap tindakan kasih berarti satu jiwa. Gabungkanlah menjadi satu segala perbuatan baik yang dapat engkau lakukan pada hari ini, dan taruhlah di sebelahnya suatu hari dalam tindakan kasih tak kunjung henti - dan Aku akan mengambil hari yang penuh kasih itu daripada segala hal lain yang telah engkau lakukan atau persembahkan kepada-Ku. `Yesus, Maria, aku mengasihi-Mu, selamatkanlah jiwa-jiwa.' Dengan doa ini engkau mempersembahkan segalanya bagi-Ku.”


    Bunda Maria dan Jiwa-jiwa di Api Penyucian

Bunda Maria memainkan peran penting dalam pembebasan jiwa-jiwa dari api penyucian. St Bernardus menyebutnya sebagai “Plenipotentiary”, artinya ia yang “sangat berkuasa” atas api penyucian, sebab Bunda Maria mendapatkan rahmat dan kuasa dari Tuhan untuk membebaskan jiwa-jiwa yang ada di sana. Kita semua adalah anak-anak Maria, dan layaknya seorang ibunda yang penuh belas kasih, ia memelihara kita, teristimewa mereka yang menderita. Perantaraannya mendatangkan pertolongan bagi jiwa-jiwa menderita, seperti diungkapkan Bunda Maria kepada Beato Alain de la Roche: “Akulah Bunda dari jiwa-jiwa di api penyucian dan setiap doa yang ditujukan kepadaku meringankan penderitaan anak-anakku.”

St Pompilio Pirroti memiliki devosi mendalam bagi jiwa-jiwa menderita. Apabila ia berdoa rosario, jiwa-jiwa menderita berdoa bersamanya, berseru menanggapi setiap Salam Maria yang didaraskannya. Jiwa-jiwa di api penyucian menjadi tenang dan penuh sukacita saat rosario didaraskan.

St Louis de Montfort dalam bukunya, “Rahasia Rosario”, menulis tentang seorang wanita yang dibebaskan dari api penyucian. Seorang wanita muda dari kalangan bangsawan bernama Alexandra dipertobatkan oleh St Dominikus dan bergabung dalam Persekutuan Doa Rosario. Ketika Alexandra meninggal dunia, ia menampakkan diri kepada St Dominikus dan mengatakan kepadanya bahwa ia harus tinggal 700 tahun lamanya di api penyucian guna memurnikan jiwanya oleh karena dosa-dosanya yang begitu banyak semasa hidupnya dan juga karena ia menyebabkan banyak orang berbuat dosa dengan teladan hidupnya yang buruk. Ia mohon pada St Dominikus dan pada para anggota Persekutuan Doa Rosario agar berdoa baginya. Tentu saja St Dominikus memenuhi permintaannya dan berdoa bersama para pendoa rosario lainnya. Dua minggu kemudian, Alexandra menampakkan diri kembali pada St Dominikus. Kali ini ia penuh kemuliaan surgawi. Ia memberitahukan bahwa dengan perantaraan rosario ia telah dibebaskan dari api penyucian. Ia juga mengatakan kepadanya bahwa jiwa-jiwa menderita mohon padanya untuk terus menyampaikan khotbah tentang rosario dan minta pada sanak-saudara mereka untuk mendoakan mereka melalui rosario. Jiwa-jiwa malang itu akan membalas jasa mereka yang telah menolongnya apabila jiwa-jiwa itu telah berada di surga.


    Para Kudus dan Jiwa-jiwa di Api Penyucian

Selama berabad-abad, Kristus telah menganugerahkan kepada banyak orang kudus dan pribadi-pribadi kudus yang dipilih-Nya karunia karisma yang memungkinkan seseorang mendapat kunjungan dari jiwa-jiwa di api penyucian. Di antara para kudus tersebut adalah St Gertrude Agung, St Katarina dari Genoveva, Maryam dari Yesus, St Margareta Maria dari Paray-le-Monial, St Yohanes Maria Vianney, St Faustina Kowalska, St Yohanes Bosco, Maria Simma dan banyak lagi yang lainnya. Kristus menganugerahkan karunia ini guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya berdoa bagi jiwa-jiwa menderita. Pribadi-pribadi terpilih ini memperoleh kunjungan-kunjungan dari jiwa-jiwa di api penyucian, yang menyampaikan informasi kepada mereka tentang api penyucian, yang hingga kini masih tetap merupakan suatu misteri bagi kita.

Harap tidak menyamakan karisma ini (kunjungan dari Jiwa-jiwa Menderita) dengan praktek okultisme memanggil arwah-arwah mereka yang sudah meninggal. Karisma kunjungan dari jiwa-jiwa menderita ini merupakan sesuatu adikodrati diluar kendali pribadi yang bersangkutan (misalnya, ia tak dapat `memanggil' jiwa-jiwa atas kehendaknya sendiri).

 St Gertrude Agung (1256 - 1302)

St Gertrude Agung memiliki belas kasihan yang mendalam bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Pada saat Komuni Kudus, ia memohon dengan penuh belas dan dengan sungguh-sungguh kepada Juruselamat kita terkasih, agar Ia berbelas kasihan kepada jiwa-jiwa menderita ini. Suatu ketika, sesaat sebelum Komuni, sementara ia merenungkan dengan belas kasihan sengsara yang diderita jiwa-jiwa menderita, seakan-akan ia turun bersama Kristus ke kedalaman api penyucian. Di sana ia mendengar Yesus berkata, “Pada saat Komuni Kudus, Aku akan mengijinkan engkau untuk menarik semua jiwa-jiwa yang dirasuki oleh harum semerbak doa-doamu.” Seringkali, sesudah Komuni Kudus, Kristus membebaskan lebih banyak jiwa-jiwa daripada yang berani ia mohon.

 St Antoninus (1389 - 1459)

St Antoninus, Uskup Agung termasyhur dari Florence, menceritakan tentang seorang bapak yang saleh, yang adalah sahabat Biara Dominikan di mana bapa uskup tinggal, meninggal dunia. Banyak Misa dan kurban-kurban dipersembahkan bagi jiwanya.

St. Antoninus sungguh berduka ketika, setelah selang waktu yang lama, jiwa bapak yang malang ini menampakkan diri kepadanya dengan menderita kesakitan yang hebat.

“Sahabatku terkasih,” seru Uskup Agung, “adakah engkau masih tinggal di api penyucian, engkau yang hidup begitu taat dan saleh?”
“Ya, dan aku masih harus tinggal di sana untuk jangka waktu yang lama,” jawab jiwa yang malang itu, “sebab semasa di dunia, aku lalai mempersembahkan kurban bagi jiwa-jiwa di api penyucian. Sekarang Tuhan, dalam penghakimannya yang adil, telah mengalihkan kurban-kurban yang dipersembahkan bagiku kepada jiwa-jiwa yang seharusnya aku doakan. Tuhan, dalam keadilan-Nya, akan menganugerahkan kepadaku segala ganjaran dari perbuatan-perbuatan baikku kelak, apabila aku masuk ke dalam surga, tetapi, pertama-tama aku harus membayar kelalaianku yang mengerikan terhadap sesama.”
 St Yohanes Maria Vianney (1786 - 1859)

Anak-anakku, ingatkah kalian akan kisah yang aku ceritakan kepada kalian tentang seorang imam kudus yang berdoa bagi sahabatnya? Tuhan telah, tampaknya demikian, membuatnya tahu bahwa sahabatnya itu berada di api penyucian. Muncul dalam benaknya bahwa tak ada yang lebih baik yang dapat dibuatnya selain dari mempersembahkan Kurban Kudus Misa bagi jiwa sahabatnya itu. Ketika tiba saat konsekrasi, ia menggenggam Hosti di tangannya sambil berkata, “O Allah yang Kudus dan Kekal, marilah kita saling tukar-menukar. Padamu ada jiwa sahabatku yang ada di api penyucian, sementara padaku ada Tubuh Putra-Mu, yang ada dalam genggamanku; baiklah Engkau bebaskan jiwa sahabatku, dan aku akan mempersembahkan Putra-Mu kepada-Mu, dengan segala jasa atas sengsara dan wafat-Nya.” Sesungguhnya, pada saat sang imam mengangkat Hosti Kudus, ia menyaksikan jiwa sahabatnya terangkat ke surga, sepenuhnya kemilau dalam kemuliaan. Jadi, anak-anakku, apabila kita ingin mendapatkan sesuatu dari Allah yang baik, mari melakukan hal yang sama; setelah Komuni Kudus, kita persembahkan kepada-Nya Putra-Nya yang terkasih, dengan segala jasa atas sengsara dan wafat-Nya. Allah tak akan dapat menolaknya lagi.

 St Yohanes Bosco (1815 - 1888)

Dalam suatu penampakan setelah kematiannya, St Dominikus Savio berkata kepada Don Bosco, gurunya, “Hiburan terbesar yang aku terima saat kematianku adalah pertolongan dari Bunda Allah yang penuh kuasa dan kasih. Tolong sampaikan kepada teman-teman agar tidak lupa berdoa kepada Bunda Maria setiap hari sepanjang hidup mereka.”

 Sr Maria Martha Chambon (1841 - 1907)

Dalam suatu wahyu pribadi, Kristus mengatakan kepada Sr Maria Martha Chambon, “Ketika engkau mempersembahkan Luka-lukaKu yang Kudus demi para pendosa, janganlah engkau lupa melakukannya pula demi jiwa-jiwa di api penyucian, sebab hanya sedikit saja orang yang memikirkan pembebasan mereka. Luka-luka Kudus adalah pusaka dari segala harta pusaka bagi jiwa-jiwa di api penyucian.”

 St Faustina Kowalska (1905 - 1938)

Dalam suatu wahyu pribadi, Yesus bersabda kepada St Faustina Kowalska, Hari ini bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang berada dalam kurungan api penyucian, dan benamkanlah mereka ke dalam samudera kerahiman-Ku. Biarlah aliran-aliran Darah-Ku menyejukkan mereka yang kepanasan. Semua jiwa itu sangat Ku-kasihi. Mereka sedang menebus keadilan-Ku. Engkau mampu memberi kelegaan kepada mereka. Ambillah dari perbendaharaan Gereja segala indulgensi dan persembahkanlah itu bagi mereka. Oh, seandainya engkau mengetahui sengsara mereka, tentu tanpa henti-hentinya, demi mereka itu, akan kaupersembahkan amal rohani serta membayar lunas hutang-hutang mereka terhadap keadilan-Ku.”

 Maria Simma, visioner dari Sonntag - Austria (1915 - wafat Maret 2004)

Romo Berlioux menceritakan tentang seorang wanita yang mempersembahkan hidupnya demi membantu membebaskan jiwa-jiwa dari api penyucian. Saat menjelang ajalnya, wanita ini diserang dengan dahsyat oleh para iblis yang melihatnya lepas dari cengkeraman mereka. Tampaknya seluruh neraka bersatu melawan dia, mengelilinginya dengan bala pasukan neraka. Wanita ini memberontak sekuat tenaga untuk beberapa waktu lamanya, ketika sekonyong-konyong ia melihat masuk ke dalam kamarnya sejumlah jiwa-jiwa tak dikenal yang bercahaya menyilaukan namun indah, yang membuat para iblis melarikan diri. Dengan tarikan napas terakhirnya wanita itu bertanya penuh suka cita sambil menangis, “Siapakah kalian? Oh, kalian yang amat baik kepadaku?” Para pengunjung menjawab, “Kami adalah jiwa-jiwa yang atas pertolonganmu telah dibimbing ke dalam kebahagiaan surgawi. Kami datang dengan penuh rasa terima kasih untuk membantumu menyeberangi batas kekekalan dan membawamu masuk ke dalam sukacita `Kota Kudus'” Mendengar jawab demikian, seulas senyum tampak menghiasi wajah si wanita dan matanya pun tertutup dalam damai. Jiwanya yang murni bagai merpati dipersembahkan kepada Raja Segala Raja dengan banyak pelindung dan pembela.


    Bagaimana Menghindari Api Penyucian?

Ya, kita dapat menghindari api penyucian dan langsung menuju surga segera setelah kita meninggal!

Sering menerima Komuni Kudus dan Sakramen Tobat merupakan sarana yang amat penting untuk memurnikan jiwa kita dan menjadikan kita siap sedia apabila maut datang menjemput.

Ketika kita menyesali dosa-dosa kita dan pergi menerima Sakramen Tobat, Tuhan sepenuhnya mengampuni kita. Namun demikian, setiap dosa melukai jiwa, dan luka akibat dosa ini tetap ada meskipun dosa-dosa telah diampuni. Kita dapat memulihkan luka-luka jiwa kita dengan doa, kurban dan sesal sempurna, yaitu sungguh-sungguh menyesali dosa-dosa kita karena dosa-dosa tersebut menyakiti Tuhan, dan bukan hanya karena kita tahu bahwa kita akan dihukum karenanya.

Kita tidak harus melakukan segala daya upaya sendirian! Mengapa tidak mohon pada Tuhan untuk membantu kita demi jasa-jasa dan sengsara Yesus? Mari kita katakan pada-Nya bahwa kita rindu untuk langsung ke surga segera setelah kita meninggal dunia, kita rindu bersama-Nya, maka Ia akan dengan senang hati menolong kita, sebab Ia menghendaki kita bersama-Nya lebih dari yang dapat kita bayangkan!

Dan tentu saja, semuanya itu akan menjadi jauh lebih mudah apabila kita memiliki kerinduan sejati untuk mengabdi Tuhan dan menjadi kudus. Kasih kita kepada Tuhan akan mendatangkan pengampunan atas dosa-dosa kita, begitu sempurna, hingga kita dianggap layak langsung menuju surga segera setelah kita meninggal. Hei, bukankah ini merupakan satu alasan lagi untuk menjadi kudus!


    Hal-hal Menarik Lainnya tentang Api Penyucian

Meskipun api penyucian sangat menyakitkan secara rohani, namun terdapat sukacita besar di sana, sebab jiwa-jiwa dijamin keselamatannya.

Jiwa-jiwa di api penyucian memutuskan untuk pergi ke sana (Tuhan tidak `mengirim mereka ke sana'), sebab mereka ingin dimurnikan serta dibersihkan sebelum masuk ke dalam surga. lihat ilustrasi yang indah mengenai hal ini di `Mengapa Kita Memerlukan Api Penyucian?'

Bunda Maria sering mengunjungi jiwa-jiwa di api penyucian guna menghibur mereka serta membesarkan hati mereka. Jiwa-jiwa menyebut Bunda Maria sebagai Bunda Belas Kasih.

Kerendahan hati semasa di bumi merupakan salah satu cara paling ampuh untuk menangkis kejahatan dan mengurangi masa tinggal kita di api penyucian.

Satu tindakan amal kasih yang dilakukan dengan cinta kasih murni dapat menutupi banyak dosa dan mengurangi masa tinggal di api penyucian secara menakjubkan!

Penderitaan-penderitaan di dunia merupakan bukti kasih Tuhan yang terbesar, dan, jika kita mempersembahkannya dengan baik, penderitaan-penderitaan itu dapat memenangkan banyak jiwa!

Patutlah kita mempersembahkan segala penderitaan kita kepada Bunda Maria, sebab Ia sungguh tahu jiwa (atau jiwa-jiwa) mana yang paling memerlukan persembahan tersebut agar dapat diselamatkan.

Hanya ketika kita telah sampai di surga kita akan tahu berapa banyak jiwa yang telah diselamatkan karena kita menerima penderitaan-penderitaan kita di dunia dengan ketekunan dan mempersatukannya dengan Sengsara Kristus bagi jiwa-jiwa menderita.

Jiwa-jiwa di api penyucian tidak memberontak atas keberadaan mereka di sana, sebaliknya mereka menghendaki agar dimurnikan dan mereka memahami sepenuhnya perlunya api penyucian bagi mereka.

Kita dapat memohon pada Tuhan rahmat untuk mempersembahkan suatu penderitaan tertentu guna menjalani pemurnian di dunia dan bukannya sesudah kematian.

Jiwa yang dikutuk ke neraka memilih hal ini; ia secara terus-terang menolak Tuhan pada saat pengadilan.

Penggunaan Air Suci amat mengganggu iblis; ia segera lari terbirit-birit dari tempat di mana air suci dikenakan.


    Beberapa Pertanyaan Seputar Api Penyucian

 Bukankah api penyucian direka-reka oleh Paus Gregorius pada tahun 600 A.D. dan karenanya sebelum itu tidak ada bukti bahwa umat Kristiani percaya akan ajaran yang demikian?

Paus Gregorius tidak mereka-reka ajaran tentang api penyucian; doktrin ini telah ada sejak jaman para rasul. Ada banyak doa-doa bagi mereka yang telah meninggal dunia dituliskan dalam katakomba-katakomba di Roma pada abad pertama. Bukti akan api penyucian juga dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana, antara lain seperti yang di bawah ini:

Trifina mengajak Tekla pulang ke rumah bersamanya dan mereka pun tidur. Dan lihatlah, anak perempuan Trifina, yang telah meninggal dunia, menampakkan diri kepada ibunya dan berkata, “Ibu, biarlah wanita muda Tekla ini engkau ambil sebagai puterimu untuk menggantikan aku; mintalah padanya untuk berdoa bagiku, agar aku dapat dipindahkan ke kebahagiaan kekal.” Maka Trifina, dengan wajah duka berkata, “Puteriku, Falconilla, telah menampakkan diri kepadaku dan memintaku mengambil engkau untuk menggantikannya; sebab itu Tekla, aku berharap engkau berdoa bagi puteriku agar ia dapat dipindahkan ke kebahagiaan dan kehidupan kekal.” (Kisah Paulus dan Tekla, 8:5-6; 160 A.D.)

Ada banyak referensi lainnya mengenai api penyucian dalam tulisan-tulisan Gereja Perdana, seperti dalam Prasasti Abercius (190 A.D.), Kemartiran Perpetua dan Felisitas 2:3-4 (202 A.D.), dan Tertulianus dalam Mahkota (3:3, 211 A.D.). Masih banyak lagi referensi lainnya yang dengan jelas menunjukkan bahwa umat Kristiani sejak jaman para rasul telah percaya akan api penyucian.

 Apakah orang-orang non-Katolik juga pergi ke api penyucian, dan jika ya, apakah yang terjadi dengan mereka sebab tak ada seorang pun yang mendoakan mereka?

Api penyucian diperuntukkan bagi orang-orang Katolik maupun non-Katolik yang ditetapkan untuk masuk ke dalam surga, tetapi masih belum dapat memasukinya karena noda dosa dalam jiwa mereka. Orang Katolik sungguh beruntung karena ada orang-orang yang mengasihi mereka yang mempersembahkan doa-doa bagi mereka sementara mereka berada di api penyucian guna mempersingkat masa tinggal mereka di sana. Sementara bagi orang non-Katolik, hampir-hampir tak ada yang mendoakan mereka karena kurangnya keyakinan akan api penyucian dalam diri mereka yang mengasihinya. Hal ini merupakan suatu tragedi, tetapi dalam setiap Misa selalu dipanjatkan doa-doa bagi segenap jiwa-jiwa di api penyucian. Kita sebagai pribadi-pribadi janganlah melupakan mereka yang tak memiliki siapa-siapa untuk mendoakan mereka. Bahkan ada orang-orang Katolik di api penyucian yang tak mempunyai siapa-siapa untuk mendoakan mereka secara langsung karena sanak saudara dan para sahabat mereka melalaikannya, beranggapan bahwa tahun-tahun telah berlalu sejak kematian mereka, jadi pastilah mereka telah berada di surga sekarang. Sebagai tindakan amal dan belas kasihan yang mengagumkan, marilah kita senantiasa mengenangkan sanak saudara serta teman dan sahabat apabila kita berdoa bagi mereka yang telah meninggal dunia, marilah berdoa pula bagi mereka yang tidak mendapat rahmat yang sama dari Tuhan seperti kita, dengan menjadi seorang pengikut Kristus dalam hidup mereka.


sumber : 1. “The Confraternity of Souls In Purgatory”; www.users.bigpond.net.au/ecclesia; 2. “For the Love of The Poor Holy Souls in Purgatory”; www.poorsouls.net; 3. “Holy Souls Online”; www.holysouls.info; 4. “Seminar Jiwa-jiwa di Api Penyucian” oleh Rm Yosef Tarong, Pr; 5. berbagai sumber

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”