![]() |
![]() Edisi YESAYA | Bunda Maria | Santa & Santo | Doa & Devosi | Serba-Serbi Iman Katolik | Artikel | Anda Bertanya, Kami Menjawab
![]() ![]() ![]() Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono:
![]() Gembala "Cengeng" dan Perempuan Di Hati
![]() ![]() ![]() Pastor Vincentius Sutikno Wisaksono Pr dilanda gelisah tak menentu, begitu membaca pesan singkat yang masuk handphonenya, Minggu Palma 1 April 2007. Semalaman ia tidak bisa tidur. Hatinya ditambatkan pada dua sosok perempuan. Isi pesan itu tentang penunjukkan dirinya sebagai Uskup Surabaya. Pesan itu datang dari Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Mgr Leopoldo Girelli. Monsinyur Tikno - demikian ia sekarang akrab disapa - juga diminta memberi jawaban esok harinya lewat telepon pukul 10.00. Saat itu ia sedang berada di Manila.
Malam itu juga ia menelepon Ursula Mady Kwa Siok Nio, tak lain ibunya yang tinggal di Surabaya. Ia hanya meminta didoakan, tanpa memberitahu penyebab galau yang menghantuinya. Sementara dalam kesunyiannya, ia termenung. “Kadang saya hanya diam sambil memelintir manik-manik rosario kesayangan,” kata Vincentius Oei Tik Hauw, nama lain dari Mgr Tikno.
Ursula sendiri mengaku selalu berdoa agar putranya bisa menjadi gembala yang baik. Berita tentang pengangkatan uskup baru diterima 48 jam setelah putranya minta didoakan. Berita yang datang dari Mgr Tikno sendiri, membuatnya tak bisa menahan derasnya air mata. Pikirannya melayang-layang ke tahun-tahun silam, mengenang perjalanan hidup Nyooce (Sinyo Kecil), panggilan kesayangan untuk putra terkasihnya itu.
Mgr Tikno anak kedua dari tiga bersaudara. Ia dilahirkan di Perak Surabaya, 26 September 1953. Ayahnya Stephanus Oei Kok Tjia alias Wisaksono. Kakaknya Regina Oei Loan Nia (Reniwati), adiknya Vincentia Mia Oei Swan Nio (Swandayani).
Keluarga ini dibaptis oleh A. Van Rijnsoever CM di Gereja St Michael Tanjung Perak. Tikno tercatat dalam Lib. Baptis I No 452. Sebelum pindah ke Jalan Darmo Permai Utara Surabaya, Paroki Aloysius Gonzaga, keluarga ini tinggal di Jalan Perak Timur 216.
Tikno kecil sudah bercita-cita menjadi imam sejak SD. Tetapi, Ursula tidak tega melepaskan anaknya, juga tidak ingin terlalu cepat kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Namun, keinginan itu terus terpendam di hati Tikno. Tiga tahun di SMPK Angelos Custos Surabaya tidak mengikis cita-citanya. Ayahnya sangat mendukung, jadilah ia masuk Seminari Menengah Santo Vincentius a Paulo Garum, Blitar. Ia ditahbiskan menjadi imam untuk Keuskupan Surabaya 21 Januari 1982 oleh Mgr Klooster CM.
Sejak kecil, Tikno sederhana dan peduli. Ursula pernah mendapati Tikno kecil pulang dari bermain tanpa mengenakan baju. Melihat baju temannya yang robek-robek, Tikno memberikan miliknya. Alkisah, ada pasangan pengantin yang mau menunda perkawinannya, karena tidak punya jas. Romo Tikno yang gemar makan tempe dan tahu ini tidak ragu-ragu mengambil jas miliknya untuk diberikan kepada pengantin itu.
Kepada Ursula, saat memberitahu tentang pengangkatannya, ia berpesan agar tidak membuat selamatan. Daripada untuk selamatan, uang itu lebih baik diberikan kepada orang yang tidak mampu. Ketika seseorang menawarkan mobil baru, Mgr Tikno mejawab dengan kelakar, “Nambah pusing. Wis lah, aku tukokna becak ae (Udahlah, belikan aku becak saja).”
Keluarga
Mgr Tikno dikenal ringan tangan dan suka berkelakar. Ia juga gampang trenyuh dan “cengeng”. Seringkali ia tak bisa menahan air matanya yang mengalir, saat mendengarkan sharing pengalaman pasutri Marriage Encounter yang mengharukan. Ketika ayahnya meninggal, 12 November 1996, ia menangis sesenggukan. “Aku tidak bisa beri nafkah, karena pilih jalan Tuhan. Semoga Papi selalu dapat cahaya terang Allah.”
Mgr Tikno memang penganut paham keluarga tradisional. Laki-Iaki adalah pencari nafkah yang pergi keluar. Semeritara perempuan atau ibu berada di rumah mendampingi anak-anak. Ibu, demikian Mgr Tikno, adalah benteng dari gempuran berat tiga isme, yakni hedonisme, materialisme, dan sensualisme. Tikno bukan suami dari seorang istri. Tetapi, ia akan memimpin keluarga, karena ia memandang Gereja sebagai keluarga juga, yakni Keluarga Allah.
Dalam proses memilih motto penggembalaannya, ia pun sempat berpikir untuk memilih Markus 3:35, “Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” Juga, Yohanes 10: 10b, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.”
Banyaknya pilihan motto, sementara harus segera dipilih, memaksa Mgr Tikno kembali menambatkan hatinya pada perempuan, yakni Maria, Bunda Gereja, Bunda Keluarga Allah. “Tahun 1995, saya memang mulai rada bertobat… walah cengeng. Saya mulai ingat pada Ibu, mulai berdoa rosario setiap hari… Ya… masak sih seorang imam kok gak dekat dengan ibunya. Maka, saya memutuskan untuk minta petunjuk Bunda Maria. Tri Hari Suci, saya memutuskan untuk pergi ke Gereja Manaoag,” ujarnya.
Manaoag, sekitar 200 kilometer di utara Manila, adalah kota di Provinsi Pangasinan, Filipina. Di gereja ini terdapat tempat peziarahan Our Lady of Manaoag, dikenal juga dengan Nuestra Senora del Rosario atau Our Lady of the Holy Rosary. Konon, di tempat gereja ini dibangun, seorang perempuan dengan rosario di tangan kanan sementara tangan kirinya menggendong seorang anak menampakkan diri kepada seorang pemuda. Selanjutnya, diyakini perempuan itu Bunda Maria.
Seperti diceritakan Mgr Tikno, di tempat inilah ia memutuskan untuk memilih Yoh 10:10 sebagai motto penggembalaannya. “Setelah berdoa di depan patung Bunda Maria, pas keluar, beberapa langkah, saya terjatuh. Kepala hampir kena tembok. Saya memandang lantai, dan menghitung jumlah ubin. Kok sepuluh! Thuk gathuk! Yohanes 10:10. Kebetulan juga, ayat ini persis sebelum ayat yang dipilih Mgr J. Hadiwikarta Pr Almarhum, Pastor Bonus,” ujarnya sambil bercanda.
Mgr Tikno melihat gerak umat Surabaya sangat dinamis. Ia mengajak para imam dan umat agar bangga sebagai orang Katolik. Gereja itu kuat karena tradisi bukan karena gedungnya yang megah. “Saya sudah ngomong, `Hati-hati Surabaya termasuk limpahan macem-macem orang mengajarkan segala sesuatu yang menurut saya sesat',” ungkapnya saat wawancara dengan HIDUP.
Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono akan ditahbiskah sebagai Uskup Surabaya hari Jumat Pahing 29 Juni 2007, di Stadion Jala Krida Mandala - AAL Bumimoro, Surabaya. Uskup Agung Jakarta Julius Kardinal Darmaatmadja SJ akan bertindak sebagai Penahbis Utama. Ia akan didampingi Uskup Agung Semarang Mgr I. Suharyo Pr dan Uskup Malang Mgr H.J.S. Pandoyoputro OCarm. Ribuan umat diundang hadir memenuhi kapasitas tempat duduk yang disediakan, yakni 11.800 kursi. Pesta iman ini juga akan melibatkan sekitar 500 orang pendukung Paduan Suara, dan 180 Putra Altar.
Dan, persis di Utara Stadion Jala Krida berdiri bangunan untuk ibadat bernama Petrus dan Paulus. Rasul Paulus menulis, “Ia telah memberikan kekuatan kepada Petrus menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat” (Gal 2:8). Jumat, 29 Juni 2007 adalah Hari Raya Santo Petrus dan Paulus, hari raya wajib.
Kita Terkena Sensualisme
“Kami sedang melakukan renovasi. Ruang uskup, bendahara, dan sekretaris didekatkan. Biar mudah ketemu. Kapel di lantai dua akan saya pindah ke bawah. Hongsui-nya jelek, ha ha ha.... Lebih baik di bawah, agar setiap kali akan Misa atau berjumpa dengan Sakramen Mahakudus bisa langsung, tidak perlu naik tangga,” demikian Mgr Vincentius Sutikno Wisaksono mengawali perbincangan.
Berikut petikan wawancara Greg Soetomo SJ dan Benidiktus W. dari HIDUP dengan Uskup Baru Surabaya di kantor Sekretaris Keuskupan Surabaya, Rabu, 23 Mei 2007.
![]() Begini. Zaman ini dahsyat dengan materialisme yang menghantam keluarga. Juga seksualisme dan sensualisme. Seminar tentang seks banyak pesertanya. Kita juga terkena sensualisme, yakni sesuatu yang nyata dapat dirasa panca indera. Padahal, Tuhan Yesus berkata: jika berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, dirimu, tutuplah pintu. Maka, dalam ibadat pun kita harus siap tidak ada rasanya. Orang Katolik menjadi lelah karena terpengaruh ibadat yang bercirikan musik yang ngepop dan penyembuhan. Penyembuhan itu seakan menjadi bukti. Padahal, beriman pada Tuhan itu ya menyerah saja.
Saya sudah ngomong… hati-hati Surabaya termasuk limpahan macem-macem orang mengajarkan segala sesuatu yang menurut saya sesat. Ada Misa Inkulturatif, Misa Imlek, Misa Suranan, Misa Ruwatan, Misa Kreatif. Misa itu tetap Misa. Titik! Untuk apa Ruwatan?
Dibaptis itu sudah ditebus. Okelah, Misa yang disesuaikan dengan kebutuhan inkulturasi: pakaian Jawa, memakai gong sebagai ganti bel. Tetapi, pakaian imam dalam Misa adalah kasula, bukan stola.
![]() Para imam memang perlu membarui diri. Imamat itu sanctification, sebagai pelayan sakramen. Ia mempersembahkan diri untuk Tuhan selama 24 jam. Dulu, saat makan para imam pun memakai jubah. Gak usah kembali ke situ lah. Tetapi, jangan bangun lima menit sebelum Misa, sehingga gak sempat mandi. Mau imamat profetis? Silakan saja. Tapi, jangan seenaknya sendiri dalam hal pelayanan sakramen. Saya juga bertobat... ha ha ha.
Materialisme itu begitu kuat dan menentukan. Kalau cukup memakai motor, mengapa harus pakai mobil? Begitu juga, masak diajak tur rohani ke Singapura atau Thailand. Benarkah ini ziarah rohani? Tidak kalah penting, soal perkawinan. Penyelidikan kanonik harus serius, bukan formalitas.
![]() Nah itu dia... Katolik itu kuat dalam simbol dan konsistensi. Di Amerika semakin banyak jemaat dari gereja lain masuk Katolik. Ini juga karena dalam hal aborsi, Katolik itu konsisten menolak. Padahal Katolik Amerika hampir hancur karena kasus pedofilia. Banggalah jadi Katolik!
![]() Dalam Lumen Gentium, juga Nostra Aetate, dikatakan, ada keselamatan di luar Gereja Katolik. Tetapi, keselamatan itu adalah tetap Yesus Kristus. Ini iman, bukan kesombongan. Kalau dialog itu pada tingkat doktrin, akan sangat sulit. Tetapi, dalam. Tataran kemanusiaan, dalam arti hidup bersama dengan saling menghormati, itu harus. Dalam hal karya, banyak yang bisa dikerjakan. Tetapi jangan sampai Gereja dianggap kaya.
![]() Kita memang harus peka pada kemiskinan dan mengusahakan kesejahteraan sosial. Tetapi, masalah kaya-miskin, ketidakadilan sosial, penindasan, itu kajian sosiologi. Kalau mau dirumuskan, paradigma Gereja adalah paradigma keluarga Allah, Rumah Tangga Allah. Itu tidak bisa diukur secara statistik.
![]() Saya melihat uang yang masuk ke sekolah-sekolah Katolik yang terkenal itu sampai belasan juta rupiah. Alasannya, untuk membangun fasilitas, subsidi silang, dan sebagainya. Okelah... Tetapi, apakah begitu manajemen sekolah yang benar? Secara pastoral, kita punya kepentingan menciptakan “suasana” yang baik. Umat jangan dijadikan sapi perah. Yang menurut saya baik adalah ada tarekat yang mau membuat sekolah kejuruan.
sumber : Majalah Hidup No 25 Tahun ke-61, 24 Juni 2007
|
![]() |