Doktrin Dosa Asal
oleh: S. M. Miranda


“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.”
~ Roma 5:12


Manusia Pertama: Adam

Guna memahami doktrin dosa asal, adalah perlu memulainya dengan manusia ciptaan pertama, Adam. Kitab Suci dan Tradisi mengatakan bahwa “Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27). Manusia pertama, Adam, diciptakan oleh Allah sebagai nenek moyang bangsa manusia. Dari tulang rusuk Adam, Allah menciptakan isteri dan pasangannya, Hawa. Keduanya Adam dan Hawa, dianugerahi karunia kehendak bebas, keadilan asli dan kekudusan asli. Allah memberikan kepada mereka buah-buahan, kebahagian dan kewajiban untuk merawat Taman Eden di mana mereka hidup dalam harmonis dengan Allah, dengan satu sama lain dan dengan ciptaan-ciptaan Allah.

Sejak dari awal mula manusia menduduki tempat istimewa dalam ciptaan Allah. Manusia yang diciptakan menurut citra Allah adalah wujud jasmani sekaligus rohani; dengan jiwa - yang paling mirip dengan citra Allah -, dengan kekudusan dan keadilan asli dan kehendak bebas. Allah menempatkan manusia dengan pesan “Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi” (Kejadian 1:28).

Bersama dengan anugerah jiwa ada anugerah kehendak bebas. Allah, yang menghendaki kasih yang bebas dari manusia dan yang memandang manusia lebih sebagai anak-anak-Nya daripada budak atau hamba, memberikan kepada Adam dan Hawa kehendak bebas untuk menerima ataupun menolak kasih Allah. Sebelum pencobaan mereka di tangan iblis, Adam dan Hawa memilih untuk menerima dan membalas kasih Pencipta mereka, pula berserah diri dalam ketaatan karena kasih kepada Allah. Keharmonisan sebelum jatuhnya manusia ke dalam dosa ini terkadang disebut keadilan asli dan kekudusan asli.


Setan: Pencipta Dosa dan Penguasa Kejahatan

Suatu suara jahat penuh bujuk rayu masuk ke dalam kediaman manusia. Karena dengki kepada Allah, ia berusaha membinasakan bangsa manusia. Gereja melihat dalam wujud ini seorang malaikat yang jatuh, Lucifer, atau ia lebih dikenal sebagai Setan atau iblis. Tradisi dan ajaran Gereja menegaskan bahwa kejahatan tak dapat berasal dari Allah, sumber keadilan dan intisari kekudusan. Kejahatan itu sendiri, penolakan terhadap kasih karunia Allah, dimulai dengan malaikat Lucifer. Allah menciptakan Lucifer sebagai malaikat yang baik, suatu makhluk rohani yang murni. Lucifer suatu makhluk rohani yang elok, gagah dan cerdas. Seperti semua makhluk lainnya, Lucifer diciptakan untuk mengasihi dan melayani Allah, akan tetapi Lucifer mulai memusatkan perhatiannya pada kuasa pribadinya, kecerdasan dan karakteristiknya sendiri. Bukannya mendayagunakan kekuatan dan karakteristiknya untuk melayani dan mengasihi Pencipta-nya, Lucifer berpaling dari Allah dan menjadikan dirinya sendiri sebagai sumber kesenangan dan pelayanannya sendiri. Dengan suatu pilihan bebas, Lucifer menolak Allah dan jatuh dari tempatnya di surga. Ia membawa serta bersamanya banyak malaikat lain, yang juga menolak Allah. Dengan memisahkan diri dari Pencipta, para malaikat yang jatuh ini memasukkan kejahatan ke dalam ciptaan dan menciptakan dosa pertama. Dosa para malaikat yang jatuh ini tak dapat diampuni sebab, “Karena sifat tetap keputusan mereka yang tidak dapat ditarik kembali dan bukan karena kekurangan belas kasihan ilahi yang tidak terbatas, maka dosa para malaikat itu tidak dapat diampuni. `Bagi mereka tidak ada penyesalan sesudah jatuh, sama seperti bagi manusia sesudah kematian'” (Katekismus Gereja Katolik, #393).

Setan dan para malaikat yang jatuh menjadi pokok kejahatan, dan penggoda umat manusia. Karena kejahatan, kebencian dan kedengkian, Setan melawan Allah dalam setiap kesempatan. Setan “berbuat dosa dari mulanya” (1 Yohanes 3:8), “pembunuh manusia sejak semula dan … pendusta dan bapa segala dusta” (Yohanes 8:44).  


Jatuhnya Manusia dan Dosa Asal

Sejak awal Allah telah memperingatkan Adam, “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kejadian 2:16-17). Kisah Taman Eden berfokus pada dosa pertama Adam dan Hawa. Taman Eden mempunyai dua pohon istimewa. Pohon pertama adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat yang dilarang itu dan pohon kedua adalah pohon kehidupan. Kisah Kejadian menceritakan bahwa Adam dan Hawa tidak mentaati perintah Allah dan jatuh ke dalam dosa di bawah pencobaan Setan. Mereka dengan bebas memilih untuk membangkang terhadap Allah dengan memakan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Gereja mengajarkan bahwa dosa pertama manusia ini meliputi hilangnya kepercayaan manusia kepada Allah dan penyalahgunaan kebebasan oleh manusia. Sebab manusia telah tidak taat pada Pencipta dan memperturutkan hasrat dosa, manusia pada akhirnya tahu mengenai kejahatan dan hilangnya keadilan dan kekudusan asli manusia. Hak istimewa dan keadaan harmonis manusia di Taman Eden dikoyakkan yang berakibat kebinasaan. Untuk pertama kalinya, kematian masuk ke dalam dunia dan manusia dihukum untuk mengalami suatu kodrat yang akan berakhir. “Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kejadian 3:19). Sekarang manusia ditetapkan untuk bersusah-payah dan bekerja untuk hidup sebab, “dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu” (Kejadian 3:19). Perempuan menerima sakit bersalin dan ditempatkan di bawah kuasa laki-laki, “Susah payahmu waktu mengandung akan Ku-buat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu” (Kejadian 3:16). Dan akhirnya, alam berpaling melawan manusia, “Terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu” (Kejadian 3:17-18).  


Concupiscentia

Dosa Adam mendatangkan konsekwensi kebinasaan: maut, dan melukai keseimbangan harmonis antara Allah, manusia dan ciptaan. Lagi pula, kodrat manusiawi untuk selamanya diperlemah oleh dosa asal. Dosa asal, hilangnya keadilan dan kekudusan asli, membawa pengaruh atas keturunan Adam dan Hawa melalui lemahnya kodrat manusiawi. Manusia tidak lagi memiliki keadilan dan kekudusan asli dan sebaliknya condong terhadap kejahatan dan kesenangan diri. Kita menyebut kecondongan ini concupiscentia. Terus berlangsungnya pencobaan-pencobaan Setan dan hilangnya anugerah kekudusan dan keadilan asli mencemari jiwa Adam, dan karena Adam adalah kepala bangsa manusia, maka segenap keturunannya tercemar pula. Noda dosa asal diwarisi oleh segenap manusia pada saat dikandung dan mendatangkan dampak-dampak kebodohan, kesengsaraan, concupiscentia dan kematian.


Di Mana Dosa Bertambah Banyak, di Sana Kasih Karunia Menjadi Berlimpah-limpah

Dengan kodrat dosa asal manusia, tak seorang pun dapat berharap menerima Kerajaan Allah setelah kematian alamiah. Dosa asal telah memisahkan Allah dari manusia dan memperlemah kodrat manusiawi sehingga memilih yang jahat. Ayub meratap, “Siapa dapat mendatangkan yang tahir dari yang najis?” (Ayub 14:4). Manusia, melalui bapa bangsa kita, telah menolak kasih Allah dan hak istimewanya, dan tak dapat berharap mencapai hidup abadi dengan jasa-jasa dan kuasanya sendiri.

Sungguh menguntungkan bahwa belas kasihan Allah mengatasi dosa dan kematian. Yesus Kristus, Putra Allah, sungguh Allah dan sungguh manusia, mempersembahkan DiriNya pada suatu kematian yang tidak semestinya dan menjadi kurban bagi dosa-dosa manusia. Sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus dipersembahkan sekali dan untuk selamanya bagi dosa-dosa umat manusia, agar manusia dapat diselamatkan oleh kasih karunia Allah. “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Roma 5:17-18). Surat St Paulus kepada jemaat di Roma mengatakan kepada kita bahwa melalui dosa Adam segenap manusia telah tercemar dosa dan sekarang ketaatan dan sengsara Kristus menebus segenap manusia. Penebusan Yesus Kristus merupakan kasih karunia bagi dunia demi silih atas dosa asal dan dosa-dosa pribadi.


Pilihlah Anugerah Hidup Abadi

Penebusan adalah luar biasa sebab penebusan dipersembahkan bagi segenap manusia untuk pengampunan dosa. Kendati demikian, sama seperti semua anugerah atau hadiah, kita harus memilih untuk menerimanya. Anugerah Allah yang lain bagi kita, kehendak bebas, tidak dicabut kembali. Dengan demikian Allah tak hendak memaksakan kasih-Nya dan rahmat-Nya atas kita; kita wajib memilih rahmat Allah dan mempersembahkan jiwa kita agar selaras dengan kehendak-Nya. Kristus bersabda, “Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yohanes 3:5). Pembaptisan, sakramen iman, membasuh jiwa dan menguduskannya dengan rahmat Roh Kudus. Dengan air baptisan kelahiran kembali, dosa asal diampuni dan dihapus dan digantikan dengan rahmat Allah.

Kristus juga bersabda kepada kita, “Jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah” (Matius 19:17). Ia mengatakan bahwa adalah penting untuk mentaati perintah-perintah dan ajaran-ajaran-Nya (keduanya adalah Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja) untuk kebenaran. Kita mencari kebijaksanaan dan ajaran-ajaran Yesus melalui Kitab Suci (“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” - 2 Timotius 3:16) dan Gereja (“jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” - 1 Timotius 3:15). Dengan pembaptisan, iman dan ketaatan pada Allah, kita dapat memperoleh rahmat-rahmat Allah demi pengampunan dosa dan pemurnian jiwa.


sumber : “The Doctrine of Original Sin” by S. M. Miranda; www.saintaquinas.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”