YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
“Asyiknya Hidup di Seminari”
oleh P. Yohanes Wayan Marianta, SVD

Kisah Masa Kecil

Lahir di desa Gumrih, pada tanggal 23 Maret 1976 sebagai yang sulung dari empat bersaudara. Waktu SD, sempat berkhayal jadi rocker untuk menyaingi Ahmad Albar (vokalis Godbless yang sedang berkibar saat itu). Namun itu hanyalah cita-cita yang tak pernah kesampaian. Tapi lumayanlah, setelah jadi pastor masih bisa menyanyi, minimal lagu prefasi.

Masuk Seminari Menengah

Saya masuk seminari menengah langsung setelah tamat SD. Masuk seminari dengan niat setengah-setengah. Ada keinginan masuk setelah melihat expo panggilan dari seminari yang datang ke paroki saya. Juga didukung penuh oleh orangtua dan keluarga. Tapi karena masih kecil, sebetulnya takut hidup sendiri jauh dari orang tua. Apalagi bruder pembina di Seminari Tuka Bali terkenal disiplin.

Tetapi ternyata hidup di seminari itu mengasyikkan. Walau brudernya disiplin dan tegas; walau waktu itu tiap pagi makan cuma ditemani selembar krupuk kuning selama enam tahun, tapi saya betah di seminari. Banyak teman. Bisa belajar main musik. Bisa sepak bola. Hidup teratur. Hidup rohani berkembang.

Setelah tamat Seminari Menengah, saya melanjutkan ke Seminari Tinggi. Mula-mula di Novisiat Roh Kudus Batu selama dua tahun. Kemudian ke Seminari Tinggi di Malang selama sembilan tahun (diselingi masa pastoral selama satu tahun di Paroki St. Pius X Tenggarong, Kalimantan Timur).

Jadi, saya menghabiskan sebagian besar masa muda di seminari. Gak terasa. Asyik lho, hidup di seminari. Kalau mau bukti, coba sendiri.

Mengapa Tertarik Jadi Imam?

Saya tidak tahu sejak kapan saya ingin menjadi imam. Tapi keinginan itu sudah tumbuh sejak kecil. Motivasi saya menjadi imam harus diakui sangat dipengaruhi oleh figur ayah saya. Beliau banyak memberi inspirasi dan motivasi, terutama dengan teladan hidup. Beliau sangat aktif melayani di paroki. Beliau tidak pernah memaksa saya. Panggilan ini tetap pilihan dan tanggung jawab saya pribadi.

Motto Panggilan

Satu yang saya dambakan dalam panggilan: Bahagia. Panggilan melayani Tuhan dan umat ini harus membahagiakan. Karena itu saya memilih motto tahbisan, “Bersukacita dalam pengharapan, bersabar dalam kesesakan, bertekun dalam doa” (Roma 12: 12). Bersukacita dalam pengharapan. Imam itu semestinya gembira. Imam itu dipanggil jadi pria penghibur. Kalau wajah sang penghibur buram melulu, bagaimana bisa menghibur umat? Bagaimana bisa mewartakan Kabar Gembira? Imam itu semestinya orang yang penuh sukacita. Hidupnya cerah. Namun demikian, selalu ada masalah dalam hidup ini. Maka, dalam kesesakan saya harus bersabar. Sabar dan tangguh.
Darimana datangnya sukacita dan kesabaran sejati, kalau bukan dari Tuhan. Maka saya harus berjuang untuk bertekun dalam doa. Doa adalah baterainya panggilan. Kalau baterai soak, panggilan juga soak, bukan?

Makna Panggilan yang Kutemukan dalam Perjalanan Imamat

Menjadi imam berarti menjadi bujangan milik Tuhan dan milik umum. Milik Tuhan berarti bekerja untuk Tuhan. Ini tidak semudah yang dibayangkan. Godaan berkarya untuk diri sendiri besar. Cari nama besar, uang, kekuasaan. Tidak sedikit imam jatuh dalam godaan ini. Saya berjuang menghayati semangat St Ignatius Loyola: ad Maiorem Dei Gloriam. Demi Semakin Besarnya Kemuliaan Allah.

Menjadi bujangan milik umum juga memiliki tantangannya sendiri. Milik umum berarti harus mencintai semua orang. Cinta yang insklusif. Merangkul semua. Bukan cinta eksklusif seperti cinta suami istri. Pilihan ini ada konsekuensinya. Cinta eksklusif lebih mendalam dan terfokus. Cinta insklusif merangkul banyak orang, tapi sering tidak mendalam. Tidak ada orang-orang tertentu yang menjadi tanggung jawab utama. Menjadi milik umum berarti melayani semua umat.  Tantangan menjadi imam di kota besar: jam pelayanan tinggi, melebihi Inul Daratista. Bahaya “sibuk memberi” lupa mengisi baterai. Sibuk melayani umat, lupa berdoa.

Inspirasi Hidup

Inspirasi hidupku: TUHAN. Saya menemukan Tuhan sebagai Guru. Maka identitas rohani saya adalah sebagai murid. Murid yang harus terus belajar dari Guru-nya. Setiap hari Tuhan mengajar kita banyak hal dari kehidupan.

Visi Hidup

Hidup itu anugerah. Tuhan yang beri. Harus disyukuri. Cara terbaik untuk bersyukur adalah dengan menghargai kehidupan. Bikin hidup lebih hidup! Seperti yang dikatakan St. Ireneus: Homo vivens, gloria Dei = Manusia hidup berkelimpahan, itulah kemuliaan Tuhan.

Dalam ulang tahun imamat ini, saya sadari: Jadi pastor itu gampang. Jadi pastor yang baik, itu sulit. Sebab itu, saya harus terus belajar. Belajar dari Sang Gembala Agung, YESUS. Juga belajar dari umat.


Selamat Ulang Tahun Imamat!
PF: 9 Oktober
2003
2005