YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Suara Gembala   |   Warta eRKa   |   Yang Menarik & Yang Lucu   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Inkarnasi Mahakudus
Bab 8
Kelahiran Bayi Yesus


Aku melihat Yosef keesokan harinya sedang mempersiapkan tempat istirahat dan pembaringan bagi Maria dalam gua yang disebut Gua Menyusu Abraham, yang adalah juga makam Maraha, inang Abraham. Gua itu lebih luas dari Gua Palungan. Maria tinggal di sana beberapa jam lamanya, sementara Yosef mempersiapkan Gua Palungan agar lebih layak dihuni. Yosef membawa juga dari kota beraneka macam bejana kecil serta buah-buahan kering. Maria mengatakan kepadanya bahwa saat kelahiran Sang Bayi akan tiba malam itu. Waktu itu sembilan bulan sejak ia mengandung dari Roh Kudus. Maria mohon kepada Yosef untuk berusaha sekuat tenaga agar mereka dapat menyambut sehormat mungkin Bayi yang dijanjikan Tuhan, Bayi yang dikandung secara adikodrati ini. Maria meminta Yosef untuk bersatu dengannya dalam doa bagi mereka yang keras hati, yang tak hendak memberi-Nya tempat berteduh. Yosef bermaksud mengundang beberapa perempuan saleh yang dikenalnya di Betlehem guna membantu persalinan; tetapi Maria menolak, mengatakan bahwa ia tak membutuhkan pertolongan siapa pun. Kira-kira pukul lima sore ketika Yosef membawa Maria kembali ke Gua Palungan. Yosef menggantungkan beberapa lampu lagi, dan menyiapkan suatu tempat di bawah tempat bernaung di depan pintu bagi keledai betina kecil yang berlari-lari gembira dari padang menghampiri mereka.

Ketika Maria mengatakan kepada Yosef bahwa waktunya sudah dekat dan bahwa sebaiknya sekarang Yosef pergi berdoa, maka Yosef meninggalkan Maria dan berjalan menuju tempat pembaringan guna memenuhi permintaannya. Sebelum naik ke tempat peristirahatannya yang kecil, sekali lagi Yosef menengok ke belakang, ke bagian gua di mana Maria berlutut dalam doa di atas pembaringan, dengan punggungnya menghadap Yosef, sementara wajahnya menghadap ke timur. Yosef melihat gua dipenuhi sinar yang memancar dari Maria, sebab Maria sepenuhnya seolah dilingkupi nyala api. Seakan-akan Yosef, bagaikan Musa, melihat semak yang menyala terbakar api. Ia rebah prostratio ke tanah dalam sembah sujud dan tak menengok kembali. Kemuliaan sekeliling Maria semakin dan semakin cemerlang, hingga terang lampu-lampu yang dinyalakan Yosef tak nampak lagi. Maria berlutut, bagian bawah gaunnya yang putih panjang terhampar sekelilingnya. Pukul duabelas, doanya mencapai ekstasi, dan aku melihat Maria terangkat begitu tinggi dari tanah hingga orang dapat melihat bagian bawahnya. Kedua tangannya tersilang di dada, dan terang sekelilingnya bahkan semakin gemilang. Aku tak lagi melihat atap gua. Di atas Maria terbentang suatu jalan terang menuju surga; di jalan itu tampak seolah suatu sinar muncul dari ujung yang lain, seolah suatu figur lebur ke yang lainnya, dan dari berkas-berkas sinar yang berbeda ini suatu figur surgawi yang lain muncul. Maria terus berdoa, matanya mengarah dalam-dalam ke tanah. Saat itu ia melahirkan Bayi Yesus. Aku melihat-Nya sebagai seorang bayi kecil mungil yang bercahaya, terbaring di atas selimut di pangkuan Maria; Bayi itu jauh lebih gilang-gemilang dari segala kecemerlangan lainnya. Tampaknya Ia tumbuh di hadapan mataku. Tetapi, silau oleh kemilau dan cahaya gemerlap, aku tidak tahu apakah aku sungguh melihatnya, atau bagaimana aku melihatnya. Bahkan alam raya yang mati seolah gempar. Bebatuan di lantai dan dinding-dinding gua memancarkan kemilau cahaya, seolah dirasuki kehidupan.

Ekstasi Maria masih berlangsung beberapa waktu lamanya. Lalu, aku melihat Maria membentangkan selimut ke atas sang Bayi, namun ia belum menggendong-Nya, bahkan belum menyentuh-Nya. Lama berselang, aku melihat sang Bayi bangun dan menangis, barulah kemudian Maria tampak tersadar kembali sepenuhnya. Ia mengangkat Bayi bersama dengan selimut yang ia hamparkan ke atas-Nya, mendekapkan-Nya ke dada dan duduk berselubung; ia dan Bayinya tampak terbungkus rapat. Aku pikir ia sedang menyusui-Nya. Aku melihat malaikat-malaikat sekelilingnya dalam rupa manusia rebah prostratio dengan wajah mencium tanah. Mungkin, satu jam telah berlalu sejak kelahiran Yesus kala Maria memanggil St Yosef, yang masih rebah prostratio dalam doa. Ketika Yosef datang mendekat, ia jatuh berlutut dengan wajahnya mencium tanah, dalam luapan sukacita, sembah sujud dan kerendahan hati. Lagi, Maria mendesaknya untuk menerima Anugerah Kudus dari Surga, dan barulah Yosef mengambil Bayi Yesus dan menggendong-Nya dalam pelukan. Sekarang Santa Perawan membedung sang Bayi dengan lampin merah dan di atasnya dengan lampin putih dari bawah hingga ke bawah ketiak-Nya yang kecil, dan bagian atas tubuh dari ketiak hingga kepala, dibedungnya dengan kain lenan yang lain. Hanya ada empat kain lampin padanya. Maria membaringkan Bayinya dalam Palungan yang telah diisi dengan jerami dan lelumutan yang baik, dan diatasnya telah dibentangkan selimut yang ujung-ujungnya tergantung di kedua sisinya. Tempat tidur bayi terletak di atas palungan batu; di tempat ini tanah terletak pada bidang yang rata dan tingginya sejajar dengan jalanan yang terbentang lebar ke selatan. Tanah di bagian gua ini agak lebih rendah dari tempat di mana sang Bayi dilahirkan, di bagian bawahnya dibentuk anak-anak tangga di tanah. Setelah Maria membaringkan Bayi Yesus dalam Palungan, keduanya - Maria dan Yosef - berdiri di sisi-Nya dengan berlinangan airmata sambil memadahkan puji-pujian kepada Allah.

Tempat istirahat dan pembaringan Santa Perawan dekat dengan Palungan. Aku melihat Maria pada hari pertama duduk tegak dan juga beristirahat dengan bertumpu pada sisi tubuhnya, walau aku mengamati padanya tak tampak tanda-tanda khusus yang mengisyaratkan kelelahan ataupun kurang sehat. Baik sebelum maupun sesudah melahirkan, Maria mengenakan gaun putih. Apabila para tamu datang, Maria biasa duduk dekat Palungan dengan berbalut kerudung lebih rapat.

Pada malam kelahiran Yesus memancarlah suatu mataair yang indah di gua lain yang terletak di sebelah kanan. Airnya mengalir; keesokan harinya Yosef menggali suatu alur baginya dan menjadikannya suatu sumber mataair.

Dalam penampakan-penampakan di mana peristiwa itu sendiri muncul, dan bukan dalam perayaan Gereja, aku melihat, sungguh, tak ada suasana riang-ria gemerlap seperti yang terkadang aku jumpai dalam perayaan Natal yang kudus. Karenanya, sukacita itu memiliki makna batin. Namun demikian, aku melihat kegembiraan yang luar biasa; dan di berbagai tempat, bahkan di bagian-bagian dunia yang paling jauh, sesuatu yang menakjubkan terjadi malam itu.

Dengan kelahiran Yesus, mereka yang baik diliputi kerinduan penuh sukacita, sementara mereka yang jahat diliputi kengerian. Aku juga melihat banyak hewan-hewan bergerak-gerik gembira. Aku melihat sumber-sumber mataair membualkan air yang beriak-ria, bunga-bunga bermekaran di banyak tempat, pepohonan dan tanam-tanaman menyembulkan tunas-tunas kehidupan baru, dan semuanya menebarkan keharuman masing-masing. Di Betlehem suasana berkabut, cakrawala di atas sana memancarkan cahaya suram kemerahan. Tetapi, di atas lembah para gembala, di sekitar Palungan, dan di Lembah Gua Menyusu awan cerah berarak membawa serta titik-titik embun yang menyegarkan.

Aku melihat kawanan ternak yang dijaga tiga gembala tua dekat bukit di bawah tempat bernaung; tetapi ternak yang lebih jauh, dekat menara gembala, sebagian berada di udara terbuka. Ketiga gembala tua bangkit berdiri terpesona oleh keajaiban malam; aku melihat mereka berdiri bersama di depan gubuk, menatap sekeliling dan menunjuk terang benderang yang bersinar di atas Palungan. Para gembala di menara kejauhan juga mulai bergerak. Mereka memanjat menara dan memandang ke arah Palungan, di mana mereka juga melihat terang di atas sana. Aku melihat sesuatu seperti awan kemuliaan turun ke atas ketiga gembala. Aku melihat dalam awan figur-figur yang bergerak kian-kemari, dan mendengar alunan suara yang jernih merdu sedang memadahkan pujian dengan lembut. Pada mulanya, para gembala ketakutan. Segera di hadapan mereka berdiri lima atau tujuh figur bercahaya yang menawan dengan tangan-tangan mereka membawa sesuatu seperti gulungan yang panjang, yang di atasnya tertulis kata-kata dalam huruf-huruf yang tingginya sepanjang tangan. Para malaikat memadahkan Gloria.

Para malaikat menampakkan diri juga kepada para gembala di menara dan di tempat lain, yang aku tidak ingat sekarang. Aku tidak melihat para gembala itu segera bergegas pergi ke gua. Ketiga gembala yang pertama satu setengah jam perjalanan jauhnya dari sana, sementara mereka yang di menara lebih jauh lagi. Tetapi, aku melihat mereka seketika itu juga mulai memikirkan hadiah apa yang akan mereka persembahkan bagi Juruselamat yang baru dilahirkan dan mempersiapkannya sesegera mungkin. Ketiga gembala pergi ke Palungan pagi-pagi benar keesokan harinya.

Aku melihat Anna di Nazaret, Elisabet di Yuta, Noemi, Hana dan Simeon di Bait Allah - mereka semua pada malam ini mendapat penglihatan yang membuat mereka mengerti bahwa Juruselamat telah dilahirkan. Kanak-kanak Yohanes dikuasai sukacita yang tak terkatakan. Tetapi, hanya Anna yang tahu di mana Bayi yang baru dilahirkan itu berada; sementara yang lain, dan bahkan Elisabet, yang mengenal baik Maria dan melihatnya dalam penglihatan, tak tahu-menahu mengenai Betlehem.

Aku melihat suatu peristiwa yang amat mencengangkan terjadi di Bait Allah. Lebih dari sekali, tulisan-tulisan kaum Saduki dicampakkan oleh suatu kekuatan yang tak kelihatan dari tempat-tempat di mana tulisan-tulisan itu disimpan; kejadian ini menimbulkan kengerian yang luar biasa. Peristiwa ini dianggap berasal dari kuasa sihir dan sejumlah besar uang dibayarkan guna menutupinya.

Aku melihat di Roma, di seberang sungai di mana banyak orang Yahudi tinggal, suatu sumber minyak tiba-tiba menyembur, membuat semua yang menyaksikannya terperanjat. Dan ketika Yesus dilahirkan, patung indah dewa Yupiter tumbang dengan berdebum hebat dari tempatnya. Semua orang dicekam ketakutan. Kurban-kurban dipersembahkan, dan kepada suatu berhala lain, aku pikir Venus, ditanyakan penyebab kejadian tersebut. Roh jahat dipaksa mengatakan dengan mulutnya, dan ia memaklumkan bahwa peristiwa ini terjadi karena seorang perempuan muda yang masih perawan telah mengandung dan melahirkan seorang putera. Ia juga memberitahukan kepada mereka perihal keajaiban sumur minyak. Sekarang, di tempat di mana peristiwa ini terjadi, berdiri sebuah gereja yang dipersembahkan kepada Bunda Allah. Aku melihat bahwa imam-imam kafir menjadi sangat bingung dan kacau atas segala perkara ini. Mereka memeriksa tulisan-tulisan mereka dan menemukan sejarah berikut. Sekitar tujuhpuluh tahun yang silam, berhala ini (Yupiter) sangat dihormati. Ia dihiasi indah dengan emas dan batu-batu permata; upacara-upacara besar dilangsungkan demi menghormatinya, banyak kurban dipersembahkan. Pada masa itu di Roma tinggallah seorang perempuan yang luar biasa saleh, yang hidup dengan caranya sendiri. Aku tak tahu pasti apakah ia seorang Yahudi atau bukan, tetapi ia mendapatkan penglihatan-penglihatan, mengucapkan nubuat-nubuat, dan memberitahu banyak orang penyebab kemandulan mereka. Perempuan ini memperingatkan agar jangan mereka menghormati berhala dengan menghamburkan begitu banyak uang, sebab suatu hari nanti mereka akan melihatnya hancur berkeping-keping di tengah mereka. Perkataannya dianggap sebagai penghinaan besar hingga perempuan itu dijebloskan ke dalam penjara dan disiksa sampai, lewat doa-doanya, ia mendapatkan keterangan dari Tuhan bilamana bencana itu akan terjadi. Imam-imam kafir menuntut agar perempuan itu mengatakan apa yang dinyatakan Tuhan kepadanya; akhirnya ia pun menjawab, “Berhala ini akan hancur berkeping-keping bilamana seorang Perawan Yang Tak Bercela melahirkan seorang Putra.” Mereka tertawa mengejek, lalu membebaskan perempuan itu karena menganggapnya seorang gila. Teringatlah mereka sekarang akan peristiwa itu dan mengakui bahwa perempuan itu telah berkata benar. Aku juga melihat seorang penasehat Romawi yang bernama Lentulus, teman St Petrus dan leluhur imam martir bernama Musa, membuat catatan mengenai kejadian ini, juga mengenai menyemburnya sumur minyak.

Pada malam ini, aku melihat Kaisar Agustus di gedung majelis di mana ia mendapat penglihatan akan pelangi, di atas pelangi duduk Perawan dan Bayi. Dari orang pandai yang ditanyai perihal penglihatannya, ia menerima jawaban ini, “Seorang Bayi telah dilahirkan, dan di hadapan-Nya kita semua harus bersembah sujud!” Kaisar segera mendirikan sebuah mezbah dan mempersembahkan kurban kepada Putra sang Perawan, sebagai “Yang Lahir Sulung dari Allah.”        

Aku juga mendapat penglihatan akan Mesir, lebih jauh dari Matarea, Heliopolis dan Memphis. Di wilayah itu terdapat sebuah patung berhala besar yang biasa memberikan jawab atas berbagai macam pertanyaan. Tiba-tiba berhala itu menjadi bisu. Raja memerintahkan agar kurban-kurban besar dipersembahkan di seluruh wilayah kekuasaannya. Lalu roh jahat, atas perintah Tuhan, dipaksa mengatakan, “Aku telah menjadi bungkam; aku harus menyerahkan tempatku kepada yang lain. Putra sang Perawan telah dilahirkan, dan sebuah bait akan didirikan di sini guna menghormati-Nya.” Begitu mendengar ini, raja hendak mendirikan suatu bait bagi Bayi yang baru dilahirkan, di sebelah mezbah berhala, tetapi aku tak ingat jelas kisahnya. Tetapi, aku tahu bahwa berhala itu kemudian disingkirkan dan bahwa sebuah bait didirikan bagi sang Perawan dan Bayi seperti yang dimaklumkan, dan yang sesudahnya dihormati dengan upacara-upacara kafir.

Aku melihat suatu keajaiban menakjubkan di negeri Tiga Raja. Terdapat suatu menara di sebuah bukit di mana para raja undur diri secara bergantian bersama serombongan imam guna mengamati bintang-bintang. Apa yang mereka amati, mereka catat dan diskusikan satu sama lain. Pada malam ini, dua dari ketiga raja ada di sana, Mensor dan Seir. Yang ketiga, yang tinggal di sebelah sisi timur Laut Caspian, bernama Theokeno. Ia tidak ada di sana. Ada suatu gugusan bintang tertentu yang selalu mereka amati, dan yang variasi gerakannya mereka catat. Dalam gugusan bintang itu mereka menyaksikan penglihatan dan gambar-gambar. Malam ini juga, mereka menyaksikan berbagai macam penglihatan. Tak hanya dalam satu bintang saja mereka menyaksikan penglihatan-penglihatan, melainkan dalam beberapa bintang yang membentuk suatu figur, dan tampaknya ada pergerakan di dalamnya. Mereka menyaksikan penglihatan tentang bulan; di atas bulan muncul suatu lengkungan indah berwarna pelangi, di atas lengkungan duduk seorang Perawan. Kaki kirinya terlipat dalam posisi duduk, sementara kaki kanan tergantung sedikit ke bawah dan bertumpu pada bulan. Di sebelah kiri sang Perawan, di atas lengkungan, terdapat seberkas anggur; di sebelah kanan sang Perawan terdapat seberkas gandum. Di depan sang Perawan terdapat sebuah piala seperti yang dipergunakan pada Perjamuan Malam Terakhir. Piala tampak muncul dari cahaya gemilang yang memancar dari sang Perawan, tetapi jauh lebih terang dan kemilau. Dari dalam piala muncul seorang Kanak-kanak, dan di atas Kanak-kanak bersinarlah suatu lempengan bercahaya seperti ostensorium kosong. Benda pipih ini dikelilingi cahaya yang memancar; mengingatkanku akan Sakramen Mahakudus. Di sebelah kanan sang Perawan terdapat sebuah Gereja segidelapan dengan sebuah gerbang emas dan dua pintu samping yang kecil. Dengan tangan kanannya, sang Perawan menempatkan Kanak-kanak dan Hosti ke dalam Gereja, yang, sementara itu, bertambah dan bertambah besar, dan yang di dalamnya aku melihat Tritunggal Mahakudus. Di atas Gereja muncul sebuah menara. Theokeno, raja ketiga juga mendapat penglihatan serupa di rumahnya.

Di atas kepala sang Perawan yang duduk di atas lengkungan, bersinar sebuah bintang, yang sekonyong-konyong terlempar dari tempatnya dan meluncur di langit di hadapan para raja. Terdengar oleh mereka suatu suara yang memaklumkan bahwa Kanak-kanak, yang begitu lama dinantikan oleh mereka dan oleh para leluhur mereka, akhirnya telah dilahirkan di Yudea, dan bahwa mereka hendaknya mengikuti bintang itu. Beberapa malam tepat sebelum malam terberkati, dari menara mereka menyaksikan berbagai macam penglihatan di langit: para raja mengadakan perjalanan kepada Kanak-kanak dan menyampaikan sembah sujud kepada-Nya. Jadi, sekarang mereka bergegas mengumpulkan harta benda mereka dan dengan membawa hadiah-hadiah serta persembahan-persembahan, lalu memulai perjalanan, sebab mereka tak hendak menjadi yang terakhir. Aku melihat ketiga raja, setelah beberapa hari, saling bertemu dalam perjalanan.

Sembah Sujud Para Gembala

sumber : “The Lowly Life And Bitter Passion Of Our Lord Jesus Christ And His Blessed Mother Together With The Mysteries Of The Old Testament: from the visions of Blessed Anne Catherine Emmerich”; www.jesus-passion.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Spiritual Direction.”