Beata Kateri Tekakwitha
Bunga Lili dari Mohawk

Kateri Tekakwitha

Bagaimanakah perasaanmu jika teman-teman mengolok-olokmu karena cacat atau kekurangan fisikmu? Atau jika mereka memperlakukanmu dengan buruk? Apakah kamu marah, sedih, dan ingin membalas dendam? Beata Kateri juga mengalami hal-hal seperti itu, tetapi bagaimana ia dapat bertahan?

Kateri dilahirkan pada tahun 1656 di sebuah dusun dekat Auriesville, di wilayah New York, di mana sekitar sepuluh tahun yang silam St Isaac Jogues - seorang misionaris Yesuit yang bersama kawan-kawannya mewartakan Injil kepada orang-orang Indian - wafat sebagai martir. Ayahnya seorang Kepala Suku Mohawk dan ibunya seorang Kristen dari suku Algonquin. Ketika Kateri berusia empat tahun, wabah cacar menyerang dusun mereka sehingga kedua orangtua serta adik laki-lakinya meninggal dunia. Kateri berhasil selamat, tetapi penglihatannya menjadi terganggu dan wajahnya menjadi bopeng karena luka-luka bekas cacar. Karena penglihatannya kurang baik, Kateri sering menabrak barang-barang di sekitarnya sehingga ia diberi julukan `Tekakwitha' (artinya: dia yang sering menabrak barang-barang). Kateri dipelihara oleh bibi dan pamannya, seorang Kepala Suku Kelompok Kura-kura.

Dalam suatu kesempatan, pamannya mendapat kunjungan tiga orang misionaris Yesuit. Kateri mulai menerima pengajaran iman dan pada hari Minggu Paskah tanggal 5 April 1676, Kateri dibaptis oleh Pater Jacques de Lamberville, seorang imam Perancis. Kateri berkaul untuk hidup murni. Dusun di mana ia tinggal bukanlah suatu masyarakat Kristen. Sesungguhnya, di perkampungannya, tidak ada seorang Kristen pun. Keluarganya dan orang-orang Indian lainnya tidak dapat menerima pilihannya untuk tidak menikah. Mereka mencemooh Kateri dan sebagian dengki kepadanya sebab ia tidak bekerja pada hari Minggu. Kateri tetap teguh pada pendiriannya. Ia berdoa rosario setiap hari, bahkan meski sementara mereka mengejeknya. Ia berlatih kesabaran dan menderita diam-diam. Tetapi, keadaan makin memburuk. Orang-orang semakin keras memperlakukannya hingga tindakan mereka cenderung mengarah ke penganiayaan. Kateri menerima semua perlakuan tersebut dengan semangat cinta kasih, bahkan terhadap semua orang yang bermaksud jahat kepadanya. Pater Jacques amat mengkhawatirkan keselamatan Kateri sehingga ia menasehati Kateri untuk segera meninggalkan Kelompok Kura-kura dan bergabung dengan Kelompok Indian Kristen di dusun Caughnawaga, Canada yang disebut Kelompok Misi St. Fransiskus Xaverius. Agar dapat sampai ke sana, Kateri harus berjalan dengan kaki telanjang menempuh perjalanan sejauh 200 mil (± 322 km) melewati daerah-daerah yang masih liar.

Di tempat pengungsian, pada Hari Raya Natal 1677, Kateri menyambut Komuni Pertama. Betapa hari yang membahagiakan. Pater Pierre Cholonec, seorang Yesuit, membimbing kehidupan rohaninya. Kateri dan seorang perempuan Iroquois bernama Anastasia hidup sebagai seorang Kristiani yang penuh sukacita dan murah hati. Mereka membaktikan seluruh hidup mereka bagi Yesus dengan merawat orang-orang tua dan orang-orang miskin. Kateri dikenal karena kelembutan, kebaikan hati serta keramahannya. Pada tanggal 25 Maret 1679, Kateri mengucapkan kaul keperawanan.

Namun, penderitaan Kateri masih terus berlanjut. Kesehatannya makin memburuk; ia sering menderita sakit kepala juga sakit perut yang hebat. Segala penderitaan itu ditanggungnya dengan sabar hingga wafatnya pada tanggal 17 April 1680, satu bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-25, dengan kata-kata terakhir “Yesus dan Maria" terucap di bibirnya. Ketika Kateri wafat, imam dan semua yang hadir menyaksikan suatu mukjizat. Saat jiwa Kateri yang suci itu meninggalkan dunia, wajahnya yang dulu bopeng berubah menjadi bersih dan memancarkan kecantikan jiwanya. Kateri dimakamkan di Quebec, Canada.

Tepat tiga ratus tahun kemudian, pada tanggal 22 Juni 1980, Kateri Tekakwitha dimaklumkan sebagai “beata” oleh Paus Yohanes Paulus II. Karena kesucian hidupnya, Kateri mendapat gelar "Bunga Lili dari Mohawk". Pestanya dirayakan pada tanggal 14 Juli. Beata Kateri Tekakwitha adalah pelindung bagi mereka yang diolok-olok oleh karena cacat atau kekurangan mereka.

Marilah pada hari ini kita berdoa bagi mereka yang mengalami kesulitan dan hambatan dari orang-orang lain dalam kerinduan mereka untuk mengamalkan panggilan hidup Kristiani secara lebih penuh.


Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”