YESAYA    
                                                                
Februari
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
Februari 2006
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." ~ 1 Timotius 4:12

FEBRUARI 2006
MINGGU
SENIN
SELASA
RABU
KAMIS
JUMAT
SABTU
1
Maria Anne, Odile


2Sam 24:2.9-17
Mrk 6:1-6
2
Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah
Mal 3:1-4 atau
Ibr 2:14-18
Luk 2:22-40
3
Blasius



Sir 47:2-11
Mrk 6:14-29
4
Katharina dari Ricci, Jane Valois

1Raj 3:4-13
Mrk 6:30-34
5
Hari Minggu Biasa V
Ayb 7:1-4.6-7 1Kor 9:16-19.22-23
Mrk 1:29-39
6
Paulus Miki



1Raj 8:1-7.9-13
Mrk 6:53-56
7
Koleta


1Raj 8:22-23.27-30
Mrk 7:1-13
8
Yosefina Bakhita



1Raj 10:1-10
Mrk 7:14-23
9
Apolonia, Anna K. Emmerick


1Raj 11:4-13
Mark 7:24-30
10
Skolastika


1Raj 11:29-32; 12:19
Mrk 7:31-37
11
SP Maria dari Lourdes

1Raj 12:26-32; 13:33-34
Mrk 8:1-10
12
Hari Minggu Biasa VI
Im 13:1-2.45-46
1Kor 10:31-11:1
Mrk 1:40-45
13
Yordanus dr Saksonia

Yak 1:1-11
Mrk 8:11-13
14
Sirilus & Metodius

Yak 1:12-18
Mrk 8:14-21
15
Klaudius La Colombiere

Yak 1:19-27
Mrk 8:22-26
16
Onesimus


Yak 2:1-9
Mrk 8:27-33
17
Bonfilio


Yak 2:14-24.26
Mrk 8:34-9:1
18
Fransiskus Regis

Yak 3:1-10
Mrk 9:2-13
19
Hari Minggu Biasa VII
Yes 43:18-19.21-22.24b-25
2Kor 1:18-22
Mrk 2:1-12
20




Yak 3:13-18
Mrk 9:14-29
21
Petrus Damianus


Yak 4:1-10
Mrk 9:30-37
22
Pesta Tahta St Petrus


1Pet 5:1-4
Mat 16:13-19
23
Polikarpus



Yak 5:1-6
Mrk 9:41-50
24
Viktorikus



Yak 5:9-12
Mrk 10:1-12
25
Konstantius



Yak 5:13-20
 Mrk 10:13-16
26
Hari Minggu Biasa VIII
Hos2:13b.14.18-19; 2Kor 3:1b-6; Mrk 2:18-22
27
Gabriel dr Bunda Dukacita

1Ptr 1:3-9
Mrk 10:17-27
28
Romanus dan Lupicinus

1Ptr 1:10-16
Mrk 10:28-31




GEREJA KRISTUS BERDIRI DI ATAS DASAR KOKOH IMAN PETRUS
dari khotbah St Leo Agung, Paus (wafat 461)

Dari segenap umat manusia, Petrus, dipilih untuk memimpin panggilan kepada segala bangsa, dan ditempatkan di atas segenap rasul dan segenap bapa Gereja. Walau dalam himpunan umat Allah ada banyak uskup dan banyak gembala, Petruslah yang ditunjuk untuk memimpin dalam dirinya, mereka yang juga dipimpin Kristus sebagai pemimpin semula. Saudara-saudara terkasih, betapa hebat dan menakjubkan yang Tuhan, dalam kebajikan-Nya, telah anugerah kepada orang ini, yaitu keikutsertaan dalam kuasa-Nya. Apapun yang Kristus kehendaki sama-sama dimiliki oleh Petrus dan para pemimpin Gereja yang lainnya, hanya melalui Petrus sajalah Ia telah menganugerahkannya pula kepada yang lain apa yang ingin Ia berikan.

Tuhan bertanya kepada segenap rasul-Nya, siapakah Dia menurut anggapan orang. Selama mereka menyatakan ketidakpastian yang lahir dari ketidaktahuan manusia, jawaban mereka akan senantiasa sama.

Tetapi, ketika Yesus mendesak para murid-Nya untuk mengatakan apa anggapan mereka sendiri, yang pertama memaklumkan imannya akan Tuhan adalah ia yang ada di urutan pertama dari antara para rasul.

Petrus mengatakan, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Jawab Yesus, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga.” Berbahagialah engkau, yang dimaksudkan-Nya adalah, karena BapaKu telah mengajarkannya kepadamu. Engkau tidak tertipu oleh anggapan duniawi, melainkan telah diterangi oleh inspirasi dari surga. Bukan manusia yang menyatakan Aku kepadamu, melainkan Ia, yang memiliki Aku sebagai Putra Tunggal-Nya.

Yesus melanjutkan, “Dan Aku pun berkata kepadamu.” Dengan kata lain, sebab BapaKu telah menyatakan keallahan-Ku kepadamu, maka sekarang giliran-Ku untuk menyatakan kepadamu keunggulanmu. “Engkau adalah Petrus,” (artinya: batu karang), meski Aku-lah batu karang yang tak tergoyahkan, batu penjuru, dasar di mana tak seorang pun dapat menempatkan yang lain di luar dasar ini, namun demikian, engkau juga batu karang, sebab kepadamu telah dianugerahkan kekuatan dari kekuatan-Ku, sehingga apa yang adalah milik-Ku Sendiri karena kuasa-Ku, sekarang menjadi sama-sama milik kita melalui keikutsertaanmu.

“Dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Pada dasar yang kokoh ini, kata-Nya, Aku akan mendirikan bait yang kekal. Gereja-Ku, yang tinggi menjulang hingga mencapai langit, akan berdiri di atas dasar kokoh iman ini.

Alam maut tidak akan mampu membungkam pengakuan iman ini; belenggu maut tidak akan mengikatnya. Kata-katanya adalah kata-kata hidup. Sama seperti mereka yang mengakuinya akan diangkat ke surga, demikian pula mereka yang menentangnya akan diturunkan ke neraka.

Sebab itu, Yesus mengatakan kepada Petrus yang berbahagia, “Kepadamu akan Ku-berikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Otoritas yang terkandung dalam kuasa ini diberikan juga kepada para rasul yang lain, dan penetapan yang dimaklumkan oleh sabda ini telah senantiasa diteruskan kepada segenap pemimpin Gereja. Namun demikian, bukannya tanpa alasan yang tepat bahwa apa yang dianugerahkan kepada semua, dipercayakan kepada seorang saja. Petrus menerimanya secara terpisah dengan penuh kepercayaan, sebab ia ditetapkan sebagai model bagi segenap pemimpin Gereja.

Primat St. Petrus oleh Rm William P. Saunders
Magisterium Gereja




“Dan lagi Yesus mengatakan kepadanya [Petrus] setelah Kebangkitan, `Gembalakanlah domba-domba-Ku' (Yohanes 21:17). Di atas Petrus, Ia mendirikan Gereja, dan kepadanya Ia memberikan perintah untuk menggembalakan domba-domba-Nya; dan walau Ia memberikan kuasa serupa kepada semua rasul, namun demikian, Ia menetapkan hanya satu tahta saja, dan Ia menetapkan dengan kuasa-Nya Sendiri suatu sumber dan alasan yang hakiki bagi persatuan itu. Sungguh, para rasul yang lain juga ada bersama Petrus, tetapi kekuasaan tertinggi diberikan kepada Petrus; dengan demikian jelaslah bahwa hanya ada satu Gereja dan satu tahta. Begitu pula, seluruh gembala kita, dan seluruh himpunan umat beriman merupakan satu kawanan, yang digembalakan oleh seluruh rasul dalam suatu kekompakan yang tulus. Jika seseorang tidak berpegang teguh pada kesatuan dengan Petrus ini, dapatkah terpikirkan olehnya bahwa ia masih berpegang pada iman? Jika ia meninggalkan tahta Petrus di atas mana Gereja didirikan, dapatkah ia masih yakin bahwa ia berada dalam Gereja?”
~ St Siprianus dari Kartago



PERKEMBANGAN DOKTRIN
oleh St Vincentius dari Lerins, imam (wafat 445)

Tidak adakah perkembangan agama dalam Gereja Kristus? Tentu, pasti ada perkembangan dan dalam skala yang besar.

Siapakah gerangan yang begitu benci kepada manusia, begitu dengki kepada Allah, sehingga berusaha mencegahnya? Namun demikian, hal itu haruslah sungguh perkembangan iman, bukan perubahan iman. Perkembangan artinya masing-masing bagian berkembang menjadi lebih matang, sementara perubahan artinya sesuatu diubah menjadi sesuatu yang lain.

Jika demikian, maka pengertian, pengetahuan dan kebijaksanaan dari seorang maupun semua orang, dari individu maupun dari Gereja semesta, haruslah membuahkan kemajuan yang besar serta penuh semangat dengan berlalunya tahun-tahun dan abad-abad, tetapi hanya sepanjang garis perkembangannya sendiri, yaitu, dengan doktrin yang sama, arti yang sama dan makna yang sama.

Agama jiwa haruslah sejalan dengan hukum perkembangan tubuh. Walau tubuh berkembang dan mematangkan bagian-bagiannya sejalan dengan berlalunya waktu, namun demikian bagian-bagian itu tetap merupakan bagian yang sama. Terdapat perbedaan besar antara masa kanak-kanak dan masa dewasa, tetapi, ia yang menjadi tua itu adalah orang yang sungguh sama dengan yang dulu kanak-kanak. Walau perawakan dan penampilan seorang yang satu dan sama dapat berubah, namun ia tetap orang yang satu dan sama itu.

Anggota-anggota tubuh yang mungil dari bayi yang baru lahir, anggota-anggota tubuh yang telah berkembang dari kanak-kakak yang belum disapih, dan kemudian anggota-anggota tubuh seorang pemuda, adalah anggota-anggota tubuh yang sama. Seorang dewasa mempunyai jumlah kaki dan tangan yang sama dengan seorang kanak-kanak. Apa yang berkembang di kemudian hari sudah ada pada mulanya; tak ada suatu pun yang baru pada masa tua, semuanya telah ada bakalnya sejak usia yang paling dini.

Jadi, tak diragukan lagi, bahwa hukum perkembangan yang sah dan benar, urutan perkembangan yang telah ditetapkan dan yang menakjubkan, adalah ini: pada orang-orang yang lebih tua, berlalunya tahun-tahun senantiasa mendatangkan kematangan atas bagian-bagian dan bentuk-bentuk yang sebelumnya telah diciptakan oleh kebijaksanaan sang Pencipta pada masa awal hidup mereka.

Tetapi, jika bentuk manusia diubah ke bentuk lain yang bukan kodratnya, atau jika sesuatu ditambahkan pada bilangan anggota-anggotanya atau dikurangkan darinya, maka seluruh tubuh pasti binasa, atau menjadi aneh, atau setidaknya menjadi lemah. Demikian pula, doktrin agama Kristiani haruslah mengikuti hukum perkembangan ini dengan sebaik-baiknya, yaitu, menjadi semakin teguh dengan lewatnya tahun-tahun, semakin berwawasan luas dengan berlalunya waktu, semakin unggul sementara ia semakin matang dalam usia.

Di masa silam, para leluhur kita menaburkan benih-benih baik di ladang Gereja. Sungguh keliru dan tidak tepat jika kita, keturunan mereka, menuai, bukan gandum kebenaran sejati, melainkan lalang kesesatan.

Gereja Katolik: Satu Iman, Dua Pengakuan Iman oleh Rm William P. Saunders
Katekismus: Anugerah Bagi Semua Orang oleh Rm William P. Saunders
Ekskomunikasi: Panggilan untuk Kembali Hidup dalam Rahmat oleh Rm William P. Saunders






“Iman tidak akan pernah berubah kapan pun, sebab hanya satu iman yang membenarkan sang Kebenaran dari kekekalan masa. Adalah tidak sah menyimpang, bahkan sepatah kata saja, dari doktrin apostolik.”

~ Paus St Leo Agung





“Bagi saya, yang mendapat rahmat yang begitu khusus untuk ambil bagian pada konsili dan dapat ikut serta secara aktif sampai selesainya, Konsili Vatikan II selalu dan terutama dalam tahun-tahun Pontifikat saya adalah tolok ukur tetap untuk seluruh karya pastoral saya, dan saya telah berupaya dengan sadar, menerapkan petunjuk-petunjuknya secara konkret dan tepat pada tiap Gereja lokal dan pada Gereja semesta. Tanpa henti-hentinya kita harus kembali kepada sumber ini.”

~ Yohanes Paulus II, Wejangan pada tanggal 25 Januari 1985



Konsili Vatikan oleh Rm William P. Saunders
Panorama 21 Konsili Ekumenis Dalam Gereja oleh Dr. F.X. Armada Riyanto CM



ENSIKLIK “DEUS CARITAS EST” PAUS BENEDIKTUS XVI

“Deus Caritas Est”, yang artinya Allah adalah Kasih (1Yoh 4:16), adalah judul ensiklik pertama yang ditulis Bapa Suci Benediktus XVI. Menurut kebiasaan, judul suatu ensiklik diambil dari kata-kata pertamanya. Dokumen yang telah ditandatangani Bapa Suci pada Hari Raya Natal 25 Desember 2005 yang lalu itu, akhirnya dipublikasikan pada tanggal 25 Januari 2006, pada Pesta Bertobatnya St Paulus Rasul, bertepatan dengan penutupan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristen.

Dikabarkan bahwa separuh bagian pertama ensiklik “Deus Caritas Est” ditulis oleh Paus Benediktus saat beliau menikmati libur musim panas 2005 di pegunungan Alpen Italia. Teks yang ditulis Sri Paus dalam bahasa Jerman kemudian diterjemahkan ke dalam versi resmi bahasa Latin. Separuh bagian lainnya berasal dari tulisan yang belum selesai peninggalan pendahulunya, Paus Yohanes Paulus II.

Ensiklik dengan 42 paragraf dalam lebih dari 70 halaman itu merefleksikan pemahaman akan eros (cinta seksual), agape (cinta tanpa syarat), dan logos (kata), kemudian merefleksikan hubungan ketiganya dengan ajaran Yesus Kristus. Dalam ensiklik dijelaskan bahwa baik eros maupun agape, pada dasarnya baik, namun eros beresiko mengalami penurunan nilai hanya sebatas seks belaka jika tidak diimbangi dengan unsur spiritual Kristiani. Pandangan bahwa eros pada dasarnya baik, bertentangan dengan pandangan yang diungkapkan oleh Anders Nygren, seorang uskup Lutheran, dalam bukunya “Eros and Agape”, yaitu bahwa agape merupakan satu-satunya kasih Kristiani sejati, sementara eros merupakan ungkapan hasrat individual dan berpaling dari Allah.

Dalam bagian selanjutnya, berdasarkan pada laporan yang dipersiapkan oleh Dewan Kepausan Cor Unum, ensiklik merefleksikan kegiatan-kegiatan amal kasih Gereja sebagai suatu ungkapan kasih, dalam hubungannya dengan tiga tanggung-jawab utama Gereja, yaitu mewartakan Sabda Allah (kerygma-martyria), merayakan sakramen-sakramen (leitourgia), dan melaksanakan pelayanan kasih (diakonia).

Dalam bagian akhir ensiklik ditampilkan teladan para kudus seperti, B. Moeder Teresa, St Fransiskus dari Asisi, St Ignatius dari Loyola, St Yohanes dari Salib, St Kamillus dari Lellis, St Vincentius de Paul, St Louise de Marillac, St Giuseppe B. Cottolengo, St Yohanes Bosco, dan St Luigi Orione, sebelum diakhiri dengan suatu doa kepada Santa Perawan Maria.

Paus sebelumnya, Paus Yohanes Paulus II, menulis 14 ensiklik selama masa pontifikatnya yang panjang. Yang pertama adalah “Redemptor Hominis” dipublikasikan pada bulan Maret 1979, kurang dari lima bulan setelah penobatannya; dan yang terakhir adalah “Ecclesia de Eucharistia” dipublikasikan pada bulan April 2000.

Apa itu Ensiklik? oleh Rm Terry Ponomban, Pr





“Adalah tidak benar beranggapan bahwa apa yang dituliskan dalam surat-surat ensiklik tidak harus diyakini sebagai kebenaran karena dalam ensiklik para paus tidak menjalankan kekuasaan tertinggi magisterium mereka. Sebab ajaran-ajaran ini diajarkan melalui magisterium biasa, di mana berlaku hal ini, `Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku' (Lukas 10:16); dan biasanya apa yang dinyatakan serta dipertegas dalam surat-surat ensiklik, telah ada dalam doktrin Katolik. Tetapi, jika Uskup Tertinggi dalam tindakannya, setelah pertimbangan yang matang, menyatakan pendapat mengenai suatu masalah yang hingga waktu itu masih merupakan persoalan yang kontroversial, jelaslah bagi kita semua bahwa masalah ini, menurut pemikiran dan keputusan Paus, tak dapat lagi dianggap sebagai pertanyaan yang bebas didiskusikan di antara para teolog.”



“Humani Generis” Paus Pius XII




APA ITU “BULLA?” Di waktu lampau, sebagian besar orang tidak dapat membaca ataupun menulis. Banyak yang bahkan tidak dapat menuliskan nama mereka sendiri. Kadang kala, mereka akan membubuhkan suatu “tanda” sebagai tanda tangan mereka. Apabila seseorang hendak mengeluarkan dokumen-dokumen penting, ia akan minta seorang juru tulis untuk menuliskan perkataan mereka.

Oleh sebab tanda-tanda sederhana itu mudah dipalsukan, maka dokumen-dokumen yang sungguh penting biasanya “dimeterai” dengan cincin stempel yang dikenakan hanya oleh pemiliknya. Cincin stempel ditekankan pada gumpalan tanah liat, atau lilin cair, atau timah berbentuk koin yang ditempelkan pada dokumen. Obyek yang ditempelkan ini disebut “bulla” dalam bahasa Yunani.

Paus seringkali menulis surat-surat penting mengenai berbagai macam topik seputar iman dan moral. Sebagian besar yang paling penting di antara dokumen-dokumen ini disebut Bulla. Sebagian dari Bulla Paus telah mengubah sejarah dunia. Pada abad keduabelas, Paus Adrianus IV (satu-satunya Paus yang berasal dari Inggris) menulis sebuah bulla yang disebut Laudabiliter yang memberikan hak kepada raja Inggris untuk memiliki Irlandia. Kita masih merasakan dampaknya hingga sekarang. Banyak yang sekarang menyatakan bahwa dokumen tersebut palsu belaka. Jika ingin tahu lebih banyak mengenainya, buka saja situs resmi Vatican.

Apa itu Epistula? oleh Rm Richard Londsdale
Apa itu "Imprimatur" dan "Nihil Obstat"? oleh Rm William P. Saunders






“Kita wajib menolak segala ajaran ataupun filsafat yang tak selaras dengan doktrin Gereja Katolik.”

~ Beato Titus Brandsma



“AKU TELAH MENERIMA AJARAN KEBENARAN KRISTUS”
Kisah Kemartiran St Yustinus dan kawan-kawan (±100 - ±165)

St Yustinus dan kawan-kawannya ditangkap dan dibawa ke hadapan Gubernur Roma bernama Rusticus. Sementara mereka berdiri di hadapan kursi pengadilan, Gubernur Rusticus menanyai Yustinus.

Rusticus
:
Di atas segalanya, percayalah pada dewa-dewa dan taatlah pada kaisar.
Yustinus
:
Kami tak dapat didakwa ataupun dihukum karena taat pada perintah Juruselamat kami, Yesus Kristus.
Rusticus
:
Ajaran apakah yang engkau anut?
Yustinus
:
Aku telah berusaha mempelajari berbagai ajaran yang ada; dan aku menerima ajaran kebenaran Kristus, walau ajaran ini tidak diakui oleh mereka yang bertegar dalam kesesatan.
Rusticus
:
Apakah ajaran ini engkau akui, hai orang celaka?
Yustinus
:
Ya, aku mengikuti ajaran kebenaran-Nya.
Rusticus
:
Ajaran macam apakah itu?
Yustinus
:
Menyembah Allah orang-orang Kristiani. Kami percaya bahwa Ia sejak dari semula adalah satu-satunya pencipta dari segala ciptaan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Kami juga menyembah Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah.
Rusticus
:
Kalau begitu, engkau ini seorang pengikut Kristus?
Yustinus
:
Ya, aku seorang pengikut Kristus.
Rusticus
:
Engkau ini disebut seorang terpelajar dan engkau merasa tahu apa itu ajaran kebenaran. Dengarlah: andai engkau didera dan dipenggal, apakah engkau yakin bahwa engkau akan naik ke surga?
Yustinus
:
Aku berharap akan masuk ke dalam rumah Tuhan jika aku menderita demikian. Sebab aku percaya akan kemurahan Tuhan hingga akhir jaman bagi mereka semua yang hidup baik.
Rusticus
:
Apakah engkau berpikir bahwa engkau akan naik ke surga dan menerima ganjaran yang setimpal?
Yustinus
:
Ini bukan pemikiranku; melainkan apa yang aku yakini dan pegang teguh.
Rusticus
:
Sekarang kita ke pokok masalah, yang sungguh penting dan mendesak. Mari, berkumpullah dan dengan sebulat hati persembahkanlah korban bakaran kepada dewa-dewa.
Yustinus
:
Tak seorang pun yang berpikiran sehat akan melepaskan ajaran yang benar untuk menerima ajaran yang sesat.
Rusticus
:
Jika engkau tidak melakukan apa yang diperintahkan, engkau akan dicambuk tanpa ampun.
Yustinus
:
Kami rindu menderita siksa aniaya demi Tuhan kami Yesus Kristus agar kami dapat diselamatkan. Sebab kemartiran ini akan mendatangkan bagi kami keselamatan dan keyakinan sementara kami berdiri di hadapan kursi pengadilan semesta yang lebih mengerikan, di mana duduk Tuhan dan Juruselamat kami.

Para kudus yang lain pun juga mengatakan, “Perbuatlah seturut kehendakmu. Kami para pengikut Kristus; kami tidak mempersembahkan korban bakaran kepada dewa-dewa berhala.” Maka Rusticus memaklumkan hukuman, “Biarlah mereka yang menolak mempersembahkan korban kepada dewa-dewa dan menaati perintah kaisar dicambuk dan digiring untuk menerima hukuman mati sesuai dengan hukum yang berlaku.”

Sementara memuliakan Tuhan, para martir yang kudus ini digiring ke tempat eksekusi. Mereka dipancung dan dengan demikian menggenapi kesaksian kemartiran mereka dalam mengakui iman kepada sang Juruselamat.  





“Seluruh nasihat dan pengajaran harus diarahkan kepada cinta yang tidak mengenal titik akhir. Jadi, kalau orang hendak menjelaskan sesuatu yang harus diimani, diharapkan  atau dilaksanakan - maka selalu harus terutama cinta kepada Tuhan kita dianjurkan, supaya setiap orang dapat mengerti bahwa semua amal kebajikan kesempurnaan Kristiani hanya bersumber pada cinta dan hanya mengenal satu tujuan, yaitu cinta”
~ Katekismus Romawi




Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “dikutip dari YESAYA: www.indocell.net/yesaya”