Hari Raya & Pesta Gerejani

6 Agustus
 Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

Yesus membuka samaran-NyaGUNUNG - (Suratkabar Apostolik) Paus Petrus melaporkan suatu peristiwa aneh yang terjadi dalam minggu ini. Ia dan dua rekan Uskup, Yohanes dan Yakobus, merasa bahwa mereka telah mengenal Yesus dari Nazaret dan seperti apa Dia itu. Tetapi, sekarang mereka tidak yakin.

Tampaknya selama ini Yesus mengenakan topeng. Tukang kayu yang lemah lembut dengan rambut gondrong dan jenggot dipangkas rapi hanyalah suatu samaran. Kebenaran akhirnya diketahui saat Yesus membawa mereka ke atas gunung ini di Galilea untuk suatu retret. Sekonyong-konyong, Yesus membiarkan topeng-Nya terlepas dan mengungkapkan DiriNya yang sebenarnya. Ia bercahaya bagaikan sinar laser.  

Berikut ini kutipan komentar Paus Petrus mengenai peristiwa tersebut, “Kami tidak sedang menceritakan suatu cerita hebat yang dibuat-buat, tetapi dengan mata kepala kami sendiri, kami telah melihat kebesaran-Nya yang sesungguhnya. Tuhan, Bapa kita yang hebat serta mengagumkan, sungguh-sungguh memuliakan Dia dengan mengatakan, `Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.' Kami ada di sana bersama Yesus di atas gunung dan mendengar suara itu yang berbicara dari surga.”

Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Ia abadi, Yang Mahakuasa. Ia datang ke dunia untuk membebaskan kita dari batas-batas waktu dan dimensi - sehingga kita beroleh hidup yang kekal.
P. Richard Lonsdale

14 September
 Pesta Salib Suci

I.N.R.I adalah singkatan dari tulisan bahasa Latin: IESUS NAZARENUS REX IUDAEORUM.

“Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: 'YESUS, ORANG NAZARET, RAJA ORANG YAHUDI.' Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani. (Yohanes 19:19-20)

Pada hari ini kita merayakan rasa syukur serta cinta kasih kita kepada Yesus melalui penghormatan kita kepada Salib. Dulu salib merupakan lambang kehinaan yang paling mengerikan. Para penjahat yang dihukum mati dengan pedang diselamatkan dari “kehinaan” salib. Yesus memilih untuk melakukan pengorbanan yang paling besar untuk memperoleh keselamatan bagi kita. Ia memilih penderitaan salib. Bersama dengan penderitaan-Nya itu, Ia juga dihinakan.

Sejak itu, Salib menjadi lambang Kristiani yang paling suci. Tubuh Yesus yang menderita di atasnya kita sebut Corpus. Salib di dinding kamar kita atau salib di sekeliling leher kita mempunyai arti yang amat penting. Mereka mengingatkan kita bahwa Yesus telah membayar lunas harga kita.

Umat Kristiani senantiasa menghormati serta mencintai lambang Salib. Kata “Salib” juga dapat berarti penderitaan yang datang menimpa kita. Jika kita menerima penderitaan-penderitaan tersebut dengan cinta dan kesabaran seperti Yesus menerima salib-Nya, kita telah rela “memanggul salib” seperti Yesus.

Kami menyembah Dikau, ya Kristus, serta memuji-Mu, sebab dengan Salib Suci-Mu Engkau telah menebus dunia!


15 September
 SP Maria Berdukacita

Bunda Maria mengalami banyak sukacita sebagai Bunda Yesus, tetapi ia harus mengalami banyak dukacita pula. Cintanya yang begitu besar kepada Putera Ilahinya menyebabkan Bunda Maria menderita begitu hebat ketika ia menyaksikan Yesus diperlakukan dengan keji oleh para musuh-Nya. Bunda Maria adalah ratu para martir karena ia mengalami penderitaan batin yang jauh lebih dahsyat daripada penderitaan jasmani para martir. Hatinya bagaikan sebuah altar saat di Kalvari ia menyerahkan Puteranya yang terkasih, Yesus, untuk menyelamatkan kita. Betapa dahsyat dukacita itu bagi seorang ibunda yang penuh belas kasih menyaksikan Puteranya wafat disalib.

Bunda Maria tidak mengasihani diri sendiri ataupun mengeluh mengapa ia harus mengalami begitu banyak penderitaan sepanjang hidupnya. Sebaliknya, ia mempersembahkan segala penderitaannya itu kepada Tuhan demi keselamatan kita. Bunda Maria adalah Bunda kita. Karena Bunda Maria amat mengasihi kita, ia senang dan rela menderita agar kita, suatu saat kelak, dapat berbagi sukacita dengannya bersama Yesus di surga.

Bagaimanakah sikapku dalam menghadapi penderitaan? Apakah yang diajarkan Bunda Yesus kepadaku tentang penderitaan?

lebih lanjut tentang SP Maria Berdukacita


1 November
 Hari Raya Semua Orang Kudus

Tanggal 1 November kita merayakan pesta Semua Orang Kudus dan kita akan terus merayakan pestanya sepanjang bulan November. Pikirkan tentang semua orang kudus yang kalian ketahui. Mungkin kalian juga mempunyai seorang nenek atau kakek yang baik hati yang telah meninggal dunia. Jika mereka berada di surga, berarti mereka juga termasuk orang kudus, dan November adalah bulan yang khusus bagi mereka! Kita menghormati semua orang kudus: pria, wanita, dan anak-anak yang mengenal, mencintai dan melayani Tuhan selama di dunia dan kini telah pergi untuk menerima hadiah abadi dalam rumah mereka yang sebenarnya. Semua orang kudus di surga berdoa bagi kita dan mendorong kita untuk menjadi kudus juga, supaya kelak kita semua dapat berkumpul di surga.

Berapa sekarang usiamu? Sepuluh? Duabelas? Empatbelas? Semoga umurmu cukup panjang untuk dapat melayani Tuhan. Namun, suatu hari kelak Tuhan akan memanggilmu pulang. Mengapa saya katakan pulang? Karena Surgalah rumah kita yang sebenarnya. Seperti dikatakan Yesus dalam Kitab Suci: Aku akan menyediakan tempat bagimu, dan Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Bukankah Yesus begitu baik menyediakan tempat khusus bagi kita masing-masing!

Tuhan, tolonglah kami dalam perjalanan pulang.


2 November
 Peringatan Arwah Semua Orang Beriman

Setiap tanggal 2 November kita merayakan Peringatan Arwah Semua Orang Beriman. Pada hari ini kita mengingat mereka yang telah meninggal dunia dan kita berdoa agar mereka segera masuk surga seandainya mereka belum berada di sana. Jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan rahmat dan pengenalan akan Tuhan, tetapi masih mempunyai dosa-dosa ringan dan jiwa mereka belum sempurna, atau mereka belum melakukan penitensi yang layak bagi dosa-dosa mereka, menurut ajaran Gereja, jiwanya terlebih dahulu harus dimurnikan dalam api penyucian.  Mengapa? Kitab Suci mengatakan Tidak akan masuk ke dalamnya [Surga] sesuatu yang najis (Wahyu 21:27). Sehingga hanya jiwa yang bersih atau yang telah dibersihkan sepenuhnya dapat masuk dalam hadirat Tuhan. Jiwa-jiwa dalam api penyucian adalah jiwa-jiwa yang memiliki sukacita yang besar, sebab mereka tahu bahwa suatu hari kelak mereka akan masuk ke surga. Tetapi pada saat yang sama, mereka juga adalah jiwa-jiwa yang sangat menderita, sebab mereka amat rindu berada bersama Allah, namun tidak bisa karena mereka harus disucikan sepenuhnya terlebih dahulu.

Kita di dunia dapat membantu jiwa-jiwa menderita di api penyucian dengan doa, amal, perbuatan-perbuatan baik, dan khususnya dengan Perayaan Misa. Tindakan-tindakan kita itu dapat membantu mengurangi masa tinggal mereka di api penyucian.  Jika suatu jiwa telah dibersihkan sepenuhnya, jiwa tersebut akan segera menuju surga untuk menikmati kebahagiaan bersama Yesus, Bunda Maria, semua orang kudus dan para malaikat untuk selama-lamanya! Kita yakin bahwa mereka akan menjadi pendoa bagi kita kepada Tuhan. Kita menolong mereka dan mereka menolong kita. Semuanya ini adalah bagian dari menjadi Keluarga Allah: persekutuan para kudus.

Betapa baiknya Tuhan itu yang menjadikan kita semua bagian dari Keluarga yang Sungguh Luar biasa ini! Mari kita luangkan waktu setiap hari, terutama selama bulan November, untuk berdoa bagi mereka yang telah meninggal dunia. Meraka pantas mendapatkan cinta dan doa kita.


9 November
 Pesta Pemberkatan Basilik Lateran

Basilika St Yohanes Lateran
Gereja perdana mengalami berbagai penindasan serta penganiayaan dalam pemerintahan Kaisar Romawi. Baru pada masa pemerintahan Kaisar Konstantin Agung, umat Kristen mendapat kebebasan. Kaisar dan ibunya, St. Helena, adalah umat Kristen yang saleh. Pada tahun 324, Kaisar mendirikan sebuah Basilik (= gereja besar) di Lateran yang diberi nama St. Yohanes. Oleh karenanya Basilik Lateran kemudian menjadi simbol pembebasan umat Kristen dari penindasan. Kaisar juga mendirikan sebuah Basilik di Vatikan, Roma yang sekarang dikenal dengan nama Basilik St. Petrus.

Yesus adalah batu penjuru. Setiap umat Kristen, adalah batu-batu rohani. Betapa Yesus menginginkan batu-batu-Nya kuat dan teguh dalam iman agar dapat disusun serta dibentuk-Nya mejadi Gereja yang kokoh dan kuat.  
P. Martin M. Anggut, SVD


 Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam

HR Yesus Kristus Raja Semesta Alam merupakan minggu terakhir dalam kalendarium liturgi sebelum memasuki tahun baru / Masa Adven. Sebagaimana terjadi pada peristiwa akhir, yaitu orang sering mengadakan refleksi atau evaluasi, marilah kita juga mengevaluasi dan berrefleksi atas diri kita masing-masing: panggilan, tugas perutusan dst. Adakah perkembangan atau pemantapan, peningkatan dalam hidup beriman, hidup manusiawi, karya / pegawai atau panggilan (berkeluarga, imam dan biarawan)? Apakah kita semakin dikuasai dan dirajai oleh Raja Yesus Kristus, sehingga memiliki `budaya Raja Yesus Kristus': cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak Yesus Kristus, dan bukan dengan caranya sendiri alias `sak penake wudhele dewe', menurut selera sendiri.

Sebagai anggota tarekat / lembaga hidup bakti, sejauh mana saya semakin dijiwai oleh kharisma atau spiritualitas pendiri. Sebagai suami-isteri yang menyatu karena dan oleh cinta-kasih, sejauh mana semakin mengasihi sehingga berdua nampak bagaikan `anak kembar'. Sebagai pegawai atau karyawan semakin terampil dalam bekerja sesuai dengan bidang pekerjaan dan pelayanan masing-masing serta menghayati visi-misi unit / lembaga kerja di mana saya berada. Sebagai pelajar atau mahasiswa semakin mahir dalam belajar yang nampak dalam nilai-nilai akhir semester atau akhir tahun yang selalu naik meskipun hanya sedikit, dst. Dengan kata lain, pada akhir tahun liturgi ini marilah kita mawas diri apakah perjalanan setahun yang telah lewat sungguh bermanfaat dan berdaya-guna bagi hidup, keselamatan, kesejahteraan, panggilan atau tugas perutusan kita. Apakah kita juga sanggup menanggapi secara positif ajakan Sang Raja: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus.” Hari ini di manapun berada, apapun yang kita kerjakan… ingat bahwa kita berada di Taman Firdaus.
P. Ign. Sumarya, S.J.