YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Mukjizat Ekaristi:
Lanciano
oleh: Romo William P. Saunders *
Mukjizat Lanciano
Baru-baru ini, salah seorang imam paroki kami menyebut mukjizat Ekaristi Lanciano dalam homilinya. Beliau juga menyebutkan beberapa penelitian ilmiah yang telah dilakukan atasnya. Dapatkah diberikan informasi lebih lanjut mengenai mukjizat ini?
~ seorang pembaca di Springfield.

Mukjizat Lanciano merupakan yang pertama, dan sebagian besar orang percaya sebagai Mukjizat Ekaristi yang terbesar dalam Gereja Katolik. Harap diperhatikan bahwa sesungguhnya mukjizat merupakan suatu peristiwa luar biasa yang dikerjakan langsung oleh Tuhan atau atas kehendak-Nya dan diperintahkan-Nya melalui seorang perantara, misalnya seorang kudus. Mukjizat terjadi dalam konteks religius dan merupakan suatu tanda adikodrati yang jelas, tanda campur tangan ilahi. Yang terpenting, mukjizat membangkitkan dalam diri mereka yang menyaksikannya atau mereka yang menerimanya suatu keyakinan iman yang lebih kuat dalam Tuhan.

Dengan dasar pemikiran tersebut, sekarang kita beralih ke mukjizat seperti yang ditanyakan dalam pertanyaan di atas, mukjizat yang terjadi sekitar tahun 700-an di kota Lanciano, yang pada waktu itu dikenal sebagai Anxanum, sebuah kota Romawi kuno yang terletak di bagian tenggara kota Roma. Di sana, para biarawan St. Basilus mendirikan sebuah biara di bawah perlindungan St. Longinus, yang menurut tradisi diyakini sebagai kepala pasukan dalam peristiwa salib yang menyatakan, “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” (Mat 27:54), dan yang menikam lambung Kristus dengan tombaknya (Yoh 19:34).

Suatu hari, seorang imam biarawan mempersembahkan Kurban Kudus Misa. Meskipun kita tidak mengenal identitasnya, suatu dokumen kuno menggambarkannya sebagai, “…memahami benar ilmu pengetahuan dunia tetapi acuh terhadap Tuhan.” Tampaknya, ia dikuasai keragu-raguan akan transsubstansiasi; ia tersiksa dengan pertanyaan apakah roti dan anggur sungguh berubah substansinya menjadi Tubuh dan Darah Kristus pada saat kata-kata konsekrasi diucapkan, dan apakah Kristus sungguh hadir dalam Ekaristi Kudus.

Saat itu, ketika imam mengucapkan kata-kata konsekrasi, hosti secara ajaib berubah menjadi daging dan anggur berubah menjadi darah. Imam sungguh terkejut. Ia menangis penuh sukacita dan ketika ia telah tenang kembali, ia berseru kepada umat yang berkumpul sekeliling altar, katanya “O saksi-saksi yang berbahagia, kepada siapa Allah yang Terberkati, untuk menghalau ketidakpercayaanku, telah bersedia menyatakan Diri-Nya dengan nyata di hadapan mata kita! Mari, saudara-saudaraku, kita mengagungkan Allah kita, yang begitu dekat kepada kita. Lihatlah Daging dan Darah Kristus kita yang Terkasih.” Mereka yang menyaksikan mukjizat segera saja menyebarluaskan berita tersebut ke seluruh wilayah sekitar.  

Segera sesudah mukjizat terjadi, Darah mengental menjadi lima gumpalan darah yang berbeda ukuran, tetapi Daging tetap tak berubah. Uskup Agung memerintahkan agar dilakukan penelitian. Kesaksian para saksi dicatat. Daging dan Darah tampak seperti daging dan darah manusia. Bapa Uskup Agung mengirimkan neraca untuk menimbang berat gumpalan darah: masing-masing gumpalan ditimbang dan didapati bahwa berat masing-masing sama dengan yang lainnya (meskipun berbeda ukurannya). Pada akhirnya, Daging dan gumpalan Darah ditempatkan dalam sebuah wadah reliqui khusus yang terbuat dari gading, tetapi tidak disegel kedap udara. Para pejabat Gereja memaklumkan mukjizat meskipun dokumen aslinya hilang pada abad keenambelas.

Selama berabad-abad, ordo-ordo religius yang berbeda merawat Gereja dan reliqui: pada mulanya para Basilian hingga tahun 1176, kemudian para Benediktin hingga tahun 1252, dan sejak itu para biarawan Fransiskan. Pada tahun 1258, para Fransiskan mendirikan sebuah gereja baru di bawah perlindungan St. Fransiskus dari Asisi guna menggantikan Gereja St. Longinus yang mulai rusak. Hingga sekarang reliqui berada dalam Basilika St. Fansiskus Asisi di bawah pemeliharaan para Fransiskan.
Sejak penelitian yang pertama, Gereja telah memberikan ijin kepada penelitian-penelitian yang lain atas reliqui. Pada tahun 1574, Monsignor Rodrigues sekali lagi menimbang berat kelima gumpalan Darah di hadapan saksi-saksi dan sampai pada kesimpulan yang sama. Patut dingat bahwa walaupun delapan abad telah berlalu, tidak didapati tanda-tanda kerusakan pada reliqui.
Pada tahun 1713, wadah reliqui asli yang terbuat dari gading diganti dengan wadah reliqui dari perak dan kristal. Daging ditempatkan dalam sebuah monstrans, seperti pada pentahtaan Hosti Kudus, dan gumpalan-gumpalan Darah ditempatkan dalam piala perak, yang oleh sebagian orang dipercaya sebagai piala asli yang dipergunakan imam dalam Misa.

Penelitian paling seksama dilakukan pada tahun 1970 - 1971. Paus Paulus VI mengijinkan dilakukannya serangkaian penelitian ilmiah atas reliqui yang amat berharga itu guna menguji hakikatnya. Dr. Odoardo Linoli, seorang professor anatomi dan pathological histology dan kimia dan clinical microscopy, sekaligus dokter kepala Rumah Sakit Arezzo, memimpin penelitian. Ia dibantu oleh Dr. Ruggero Bertelli, professor anatomi manusia di Universitas Siena yang telah pensiun. Analisa dilakukan sesuai dengan standar ilmiah dan didokumentasikan. Dr. Bertelli secara independen menguatkan hasil penelitian Dr. Linoli. Pada tahun 1981, dengan mempergunakan teknologi kedokteran yang lebih canggih, Dr. Linoli melakukan penelitian histological yang kedua; hasil penelitian tersebut tidak hanya memperkuat hasil penelitian sebelumnya, melainkan juga memberinya informasi-informasi baru.

Penemuan-penemuan utama dari penelitian meliputi yang berikut ini: Daging, berwarna kuning kecoklatan, memiliki struktur myocardium (otot jantung) dan endocardium (lapisan dalam dinding jantung), membran terdiri dari jaringan ikat serat elastis yang melapisi rongga jantung. Semuanya serupa dengan yang terdapat dalam jantung manusia. Tidak ditemukan adanya bahan pengawet.

Darah adalah juga darah manusia dengan golongan darah AB. Protein dalam gumpalan Darah terbagi atas rasio persentase yang sama seperti didapati dalam protein serum yang secara normal terdapat dalam darah segar manusia. Dalam Darah terkandung mineral-mineral berikut: khlorida, fosfor, magnesium, kalium, sodium dan kalsium.

Profesor Linoli menegaskan bahwa Darah, jika diambil dari jenazah, pastilah akan segera rusak. Karena contoh reliqui berasal dari beberapa abad silam, bebas dari bahan pengawet dan tidak pernah disegel kedap udara dalam wadah reliqui; mestinya Daging dan Darah tersebut sudah rusak. Tetapi, ia menekankan bahwa sample memiliki sifat-sifat seperti daging dan darah manusia yang masih segar.

Terlebih lagi, kedua dokter berkesimpulan bahwa hanya seorang ahli patologi yang terampil serta cakap dapat menghasilkan sample yang sedemikian itu, suatu potongan tangential jantung (pemotongan secara miring) - suatu potongan bulat, tebal di bagian pinggir luar dan semakin menipis serta sama ke arah pusat.

Keindahan mukjizat Lanciano mencerminkan kata-kata yang disabdakan Kristus, “Akulah roti hidup. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia” (Yoh 6:35, 54-56). Oleh sebab itu, kita wajib, jangan sampai pernah melupakan, bahwa ketika kita ambil bagian dalam perayaan Misa, kita menjadi saksi akan suatu mukjizat agung, dan dengan menyambut Komuni Kudus, kita ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi Juruselamat kita.


* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate School of Christendom College in Alexandria and pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls.
sumber : “Straight Answers: The Miracle of Lanciano” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2000 Arlington Catholic Herald.  All rights reserved; www.catholicherald.com
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald.”