YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Nama Baptis: Untuk Apa?
Bapak itu sudah setengah baya. Di depan pastoran ia merogoh sakunya untuk mengambil selembar guntingan koran. Ia membacanya sambil tersenyum. Di beberapa bagian, ia telah menggoreskan stabilo merah, artinya bagian itu penting. Setelah memasukkan kembali guntingan koran itu ke dalam sakunya, ia membunyikan bel pastoran sekali lagi. Koster keluar menanyakan maksud kedatangannya, lalu katanya, “Kalau soal baptisan bayi, silakan Bapak datang ke sekretariat paroki. Petugas akan mencatat dan memberitahukan kapan baptisan diadakan.”

Bapak itu gusar, “Saya membutuhkan pastor! Ada sesuatu yang mau saya bicarakan yang jauh lebih penting dari sekadar mencatat calon baptis. Coba minta waktu pastor. Tidak lebih dari lima menit.” Koster segera masuk lagi. Kemudian, pastor datang. Pak Fransiskus duduk sambil berbicara langsung pada tujuannya, “Saya ingin anak saya dibaptis dan diberi nama Yesus.” Ia diam sebentar menunggu reaksi pastor.

Dalam hati kecilnya ia sudah memperkirakan bahwa pastor tidak akan setuju. “Mengapa tidak memilih nama lain saja? Kan ada banyak nama orang kudus. Pilihlah salah satu. Nama Yesus sangat suci. Tak pantas kita menyandangnya.” Pak Fransiskus mendesak, “Justru karena itulah saya ingin agar anak saya diberi nama Yesus.” Pastor bertanya lebih lanjut, “Pernahkah di tempat ini ada orang yang diberi nama Yesus?” Pak Fransiskus mengeluarkan guntingan korannya. Di sana tercantum nama Yesus yang biasa dipakai di negara Spanyol dan juga di daerah-daerah jajahannya seperti di Filipina. “Mengapa mereka bisa dan kami tidak bisa?”
Nama baptis tidak saja memiliki arti religius, terkadang nama itu mempunyai makna simbolik pula. Misalnya, Rasul Petrus (artinya batu karang) sebelumnya bernama Simon. Sejak dulu, pemberian nama telah mendapat tempat penting dalam liturgi pembaptisan. Pada permulaan persiapan sudah didaftarkan nama yang hendak dipilih. Ini dijalankan pada abad ke-5 di Yerusalem, yaitu pada malam sebelum masa puasa dimulai.

Pada abad ke-3, Cyprianus mencatat bahwa sebagian orang Kristen memilih nama seorang rasul. Eusebius juga mencatat tentang lima orang Mesir yang melepaskan nama kafir mereka dan mempergunakan nama nabi dari Perjanjian Lama. Pada permulaan abad ke-4 barulah dimulai kebiasaan untuk memilih nama baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Yohanes Krisostomus dan Ambrosius-lah yang menganjurkan untuk mengambil nama Kristen pada pembaptisan. Maksudnya agar kita meneladani orang kudus yang kita pakai namanya, serta menjadikannya pendoa bagi kita di hadapan Tuhan. Meskipun sudah mendapat nama seorang kudus, sering dalam hidup sehari-hari orang masih menggunakan nama kafirnya.

Sebelum tahun 1000, nama Yohanes Pembaptis jarang dipilih. Nama ini mulai sering dipakai pada abad ke-11. Terutama pada abad ke-14 dan ke-15, orang banyak memilih nama dari Kitab Suci. Dari pihak Gereja, dianjurkan untuk memilih nama seorang santa / santo pelindung pada pembaptisan. Dalam Rituale Romanum 1514 dikeluarkan ketentuan agar imam tidak menerima nama yang tidak pantas atau nama dari seroang dewa / dewi. Sedapatnya, seorang yang dibaptis mengambil nama seorang kudus agar didorong untuk hidup seturut teladan orang kudus yang ia pilih namanya dan menjadikan orang kudus tersebut pendoa baginya di hadapan Tuhan.

Di daerah misi, kadang-kadang pemilihan nama menimbulkan kesulitan. Pada tahun 1704 legatus kepausan mengunjungi tanah misi Cina dan India. Ia menetapkan agar orang yang masuk agama Katolik (beserta anak-anak mereka) pada saat pembatisan wajib mendapat nama Kristen. Kitab Hukum Kanon (tahun 1983) menyebutkan bahwa tidak wajib memilih nama seorang kudus pada pembaptisan, sepanjang nama yang dipakai memiliki suatu makna kristiani.

Menurut tradisi Gereja, pada kesempatan-kesempatan lain juga orang diberi nama baru, misalnya pada Penguatan. Sejak abad ke-11, pada saat dipilih seorang Paus juga mengambil nama baru. Tradisi ini untuk pertama kalinya dilakukan oleh Paus Yohanes II pada tahun 532. Juga, sejak abad ke-6, bila seseorang masuk biara, ia mengambil pula suatu nama baru. Maksudnya agar dalam hidup religius ini terjadi suatu perubahan radikal dalam hidupnya.

Kita semua mempunyai nama baptis, dari seorang martir atau seorang kudus lainnya. Apakah kita mengenal orang kudus yang kita pakai namanya itu? Apakah kita tahu riwayat hidupnya? Jika ya, apakah kita juga sudah berusaha hidup seturut teladannya? Baiklah kita sering mohon bantuan doanya agar ia mendoakan kita di hadapan Tuhan. Dan jangan lupa hari pesta santa / santo pelindungmu.

sumber : AVE MARIA No. 24 Oktober 1999; diterbitkan oleh Marian Centre Indonesia