Santa Perawan Maria dari Pompeii
SP Maria Ratu Rosario dari Pompeii

Pompeii, Campania, Italia
 B. Bartolo Longo - Rasul Rosario
 Basilika SP Maria Ratu Rosario & Mukjizat2 yang Terjadi
 Devosi
 Beatifikasi Bartolo Maria Longo
 Paus Yohanes Paulus II & SP Maria dari Pompeii
 Meditasi


   Pompeii, Campania, Italia

Pompeii mengalami banyak musibah dan masa-masa sulit. Namun demikian, di tahun-tahun belakangan ini, musibah telah diubah menjadi kemenangan Santa Perawan Maria Ratu Rosario, dan masa-masa sedih telah digantikan dengan para peziarah yang tak terhitung banyaknya yang dengan penuh sukacita mengalami berbagai mukjizat dan menerima berlimpah rahmat.  

Salah satu dari musibah awal yang menimpa Pompeii terjadi pada tahun 79, ketika Gunung Vesuvius meletus dengan dahsyat. Gunung berapi itu menghancur-luluhkan kota Romawi tersebut serta menguburnya dengan abunya selama berabad-abad. Di kemudian hari, kota yang bekembang sekitar satu mil jauhnya dari reruntuhan tersebut juga mengalami musibah, ketika pada tahun 1659 suatu wabah malaria yang ganas menyerang kota dan membunuh hampir seluruh penduduk di sana.

Sebuah gereja kuno yang dibangun sebelum terjadi wabah pada akhirnya hancur pada tahun 1740. Sebuah gereja kecil didirikan sebagai gantinya. Dari paroki yang dulunya berkembang pesat, hanya tinggal sedikit saja umat yang tersisa - dan mereka dilayani oleh seorang imam yang sudah tua dan capai. Akhirnya, di samping berbagai macam takhyul yang menyebar di antara penduduk, mereka juga disusahkan dan dibuat tak berdaya oleh kawanan penyamun yang meneror serta menjarah mereka. Lama-kelamaan Pompeii dikenal sebagai “sarang para penyamun yang bengis dan kejam.”

Namun demikian, Bunda Maria tidak pernah meninggalkan anak-anaknya. Tempat-tempat yang paling tidak mungkin telah dipilihnya untuk medatangkan keajaiban-keajaiban yang dilakukannya bagi mereka yang mengabdi kepadanya. Alat yang dipergunakannya untuk menaklukkan kota yang malang ini adalah Bartolo Longo (1841-1926), yang pada mulanya tampak sebagai pilihan yang sangat tidak tepat.


   Beato Bartolo Longo - Rasul Rosario

B. Bartolo Longo menyerahkan Gereja SP Maria dari Pompeii kepada Paus Leo XIIIBartolo Longo dilahirkan pada tahun 1841, putera seorang dokter. Ia menempuh pendidikan sebagai pengacara di Naples. Dalam masa pendidikannya itu, Bartolo menggabungkan diri dalam suatu sekte setan dan 'ditahbiskan' sebagai imam Setan. Selama bertahun-tahun ia melaksanakan tugasnya sebagai 'imam' dengan menyampaikan khotbah, memimpin ritual-ritual, mencemooh serta menghina Gereja Katolik dan para imam, serta berbicara menentang segala sesuatu yang berhubungan dengan agama Katolik.

Seorang teman yang baik, Vincentius Pepe, perlahan-lahan menunjukkan kepada Bartolo kelemah-lembutan Kristus dan mengatur agar Bartolo dapat bertemu dengan seorang imam Dominikan yang kudus, Pastor Alberto Radente. Pastor Alberto memiliki devosi pribadi yang mendalam kepada Bunda Maria dan sebisanya menyebarluaskan devosi rosario. Ketika Bartolo Longo dibaptis, ia memilih nama tengah 'Maria', sebagai nama baptisnya. Ia memandang Bunda Maria sebagai “Pengungsian Orang Berdosa” dan mengungkapkan sesal dan tobatnya yang mengagumkan kepadanya. Maria adalah “Pengungsian” yang akan menghantarnya kepada Kristus.

Setelah pertobatannya, Bartolo Maria Longo, ingin melakukan sesuatu sebagai silih atas kehidupannya di masa silam dan melayani Gereja yang dulu difitnahnya dengan keji. Ia bergabung dengan sekelompok orang yang menaruh perhatian kepada mereka yang miskin dan sakit. Salah seorang anggota kelompok tersebut adalah Countess di Fusco, seorang janda kaya yang mempunyai tanah dan hak milik dekat reruntuhan Pompeii. Dipercaya olehnya untuk mengumpulkan uang sewa, Bartolo melihat sendiri kekumuhan kota Pompeii dan kemiskinan rohani penduduknya. Ia berikrar untuk melayani mereka yang miskin dan papa. Bartolo menerbitkan sebuah pamflet berjudul “Rosario dari Pompeii yang Baru” dan mempergunakan segala daya upayanya untuk menyebarluaskan devosi tersebut.

Suatu hari pada bulan Oktober 1872, sementara ia beristirahat di padang dekat Pompeii, ia teringat akan 'pentahbisannya' sebagai imam Setan. Bartolo mengenang saat itu:

“Saya berpikir bahwa mungkin, sama seperti imamat Kristus adalah untuk selamanya, demikian juga imamat Setan adalah untuk selamanya. Jadi, meskipun saya telah bertobat, saya berpikir bahwa saya masih tetap imam setan, dan bahwa saya masih menjadi hambanya dan miliknya sementara ia menunggu saya di Neraka. Saat merenungkan keadaan saya itu, saya dilanda rasa putus asa yang begitu hebat, hingga hampir bunuh diri. Kemudian saya mendengar gema suara Pastor Alberto di telinga saya yang mengulangi kata-kata Santa Perawan Maria:

'Jika engkau ingin beroleh keselamatan, sebarluaskanlah Rosario. Inilah janji Bunda Maria sendiri: Barangsiapa menyebarluaskan Rosarioku akan diselamatkan.'

Kata-kata ini segera mendatangkan pencerahan bagi jiwa saya. Saya jatuh berlutut dan berseru, 'Jika yang engkau katakan benar, bahwa mereka yang menyebarluaskan Rosariomu akan diselamatkan, maka aku pasti beroleh keselamatan, karena aku tidak akan meninggalkan dunia ini tanpa menyebarluaskan Rosario.' Bagai jawab atas ikrar saya, lonceng kecil gereja paroki Pompeii berdentang, mengundang umat mendaraskan Angelus. Kebetulan ini seperti tanda peneguhan atas kebulatan tekad saya.”

Bartolo Maria membujuk masyarakat sekitar untuk membantunya membersihkan gereja yang telah rusak. Kemudian ia mengundang mereka datang sore hari untuk berdoa rosario bersama. Hanya beberapa anak yang ingin tahu saja yang datang. Laskar rosario itu mengunjungi setiap gubug dan rumah untuk membagikan rosario, medali serta mendorong mereka berdoa rosario. Tetapi, misinya itu tidak berhasil baik. Mereka menyukai dan menghormati Don Bartolo, tetapi mereka tidak mengerti dan tidak mau peduli untuk belajar rosario.

Bartolo kemudian mensponsori diadakannya festival pada Pesta Ratu Rosario pada tahun 1873. Usahanya gagal. Hujan turun, dan imam menyampaikan khotbahnya dalam bahasa Italia resmi, bukan dalam dialek setempat yang dapat dimengerti penduduk. Tahun berikutnya ia mencoba lagi, tidak lebih berhasil dari sebelumnya, tetapi ia berhasil mengajari beberapa orang berdoa rosario. Tahun ketiga, Bartolo mengundang Imam-Imam Redemptoris untuk mengadakan misi di sana selama dua minggu. Sebagai persiapan, ia memugar sepenuhnya gereja kecil Pompeii. Kali ini misinya berhasil baik dan mendapat restu dari bapa uskup. Sesungguhnya, bapa uskup telah meramalkan akan adanya sebuah gereja besar dan tempat ziarah di sana di masa mendatang.  

Bartolo memulai proyeknya dengan pertama-tama mencari sebuah lukisan Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Bartolo mendapatkan lukisan yang cocok di sebuah toko di Naples. Sayangnya, ia tidak mampu membelinya. Ia kemudian memperoleh informasi bahwa lukisan tersebut kurang sesuai untuk maksudnya, karena Hukum Kanon pada waktu itu menetapkan bahwa lukisan haruslah dilukis dengan cat minyak diatas kanvas atau kayu. Sedangkan lukisan yang ia pilih dilukis di atas kertas.

Bartolo menceritakan kekecewaannya kepada Pastor Alberto Radente, yang memberitahukan kepadanya akan sebuah lukisan yang dimiliki seorang biarawati, Moeder Concetta, di biaranya. Karena Moeder sudah menyetujuinya, Pastor Alberto mendorong Bartolo untuk meminta lukisan tersebut. Lukisan itu sesungguhnya ditemukan Pastor Alberto di sebuah toko loak. Pastor membelinya dengan harga hanya delapan carlins, atau setara dengan satu dollar. Pastor kemudian memberikan lukisan Santa Perawan tersebut kepada Moeder Concetta.

Ketika Bartolo melihat lukisan tersebut, ia sungguh sangat kecewa dengan kondisinya yang menyedihkan. Bartolo menggambarkannya sebagai berikut:

“Tidak saja lukisan itu telah dimakan rayap, tetapi wajah Madona adalah wajah wanita desa yang kasar … secuil kanvas hilang tepat di atas kepalanya… mantolnya retak. Tak ada yang dapat dikatakan tentang figur-figur lainnya yang mengerikan. St. Dominikus tampak seperti seorang idiot jalanan. Di sebelah kiri Santa Perawan adalah St. Rosa. Di kemudian hari, saya mengubahnya menjadi St. Katarina dari Siena… Saya ragu-ragu apakah sebaiknya menolak atau menerima pemberian ini.”

Moeder Concetta membujuk Bartolo agar menerimanya, “Ambillah; engkau akan melihat bagaimana Bunda Maria akan mempergunakan lukisan ini untuk mendatangkan banyak mukjizat.” Kata-kata tersebut memang terbukti kelak.
Lukisan Santa Perawan terlalu besar bagi Bartolo untuk dapat dibawanya pulang dari Naples ke Pompeii. Ia membungkusnya dengan sehelai kain lalu menyerahkannya kepada seseorang yang akan mengantarkannya ke kapel. Karena tidak tahu gambar yang terlukis di dalamnya, orang tersebut menempatkan lukisan di keretanya, di atas pupuk muatannya. Dengan cara demikianlah Ratu Rosario tiba di Pompeii. Lukisan tiba pada tanggal 13 November 1875. Setiap tahun umat beriman merayakan hari kedatangan lukisan tersebut dengan doa-doa dan ibadat khusus.

Dua bulan setelah kedatangannya, yaitu pada bulan Januari 1876, restorasi pertama atas lukisan tersebut oleh seorang pelukis amatir berhasil diselesaikan. Pada hari peresmian Persaudaraan dalam Rosario Suci yang dibentuk oleh Bartolo Longo, yaitu pada tanggal 13 Februari 1876, lukisan ditempatkan dalam gereja. Restorasi berikutnya dilakukan pada tahun 1879, oleh Federico Madlarelli, seorang pelukis Italia terkenal. Restorasi terakhir dilakukan oleh para pelukis Vatikan pada tahun 1965.


   Basilika SP Maria Ratu Rosario & Mukjizat2 yang Terjadi

Basilika SP Maria Ratu Rosario dari PompeiiBartolo berencana membangun sebuah gereja yang besar dan indah sebagai tempat yang layak bagi lukisan Ratu Rosario. Tiga ratus umat setempat yang miskin berjanji untuk menyumbangkan satu penny setiap bulan demi karya Santa Perawan, sementara umat yang kaya memberikan sumbangan dengan berlimpah.

Sementara gereja masih dalam tahap dibangun, terjadi tiga mukjizat luar biasa. Yang pertama menyangkut seorang anak berusia dua belas tahun, Clorinda Lucarelli, korban serangan epilepsy ganas. Kerabatnya yang putus asa berjanji untuk membantu pendirian gereja jika Clorinda sembuh dari penyakitnya. Gadis kecil itu sembuh pada hari lukisan dipamerkan dalam suatu upacara penghormatan. Dua dokter menyatakan di bawah sumpah bahwa kesembuhan Clorinda semata-mata merupakan mukjizat.

Seorang wanita muda, Concetta Vasterilla, yang sedang dalam penderitaan menjelang ajal, juga disembuhkan ketika janji serupa dibuat. Pada hari peletakan batu pertama gereja, yaitu pada tanggal 8 Mei 1876, Pastor Anthony Varone, yang telah menerima Sakramen Terakhir dan menghadapi ajal karena suatu penyakit, juga disembuhkan. Ia mempersembahkan Misa Kudus keesokan harinya dan mengumumkan mukjizat kesembuhannya dari ambo pada Pesta SP Maria Ratu Rosario.

Sebulan setelah peletakan batu pertama, mukjizat lain terjadi pada Nyonya Giovannina Muta. Ia menderita sakit paru-paru tahap akhir ketika dibujuk untuk mengucapkan suatu janji kepada Santa Perawan Maria dari Pompeii. Pada tanggal 8 Juni, ketika Nyonya Muta terbaring di ranjangnya, ia mendapat penglihatan lukisan Santa Perawan Maria dari Pompeii - meskipun sesungguhnya ia belum pernah melihat lukisan tersebut. Tetapi, sementara ia memandang, Bunda Maria tampak melemparkan kepadanya sebuah pita bertuliskan: “Perawan dari Pompeii mengabulkan permohonanmu, Giovannina Muta.” Ketika penglihatan tersebut berakhir, Nyonya Muta sama sekali sembuh dari penyakitnya.

Sejak saat itu, terutama antara tahun 1891 hingga 1894, ratusan mukjizat telah dicatat secara resmi.

Bartolo Maria Longo melakukan banyak karya amal kasih. Ia menikahi Countess Mariana di Fusco, pada tanggal 1 April 1885. Bersama-sama, pasangan tersebut menghabiskan waktu dan harta mereka guna menolong banyak anak yatim piatu yang pemeliharaannya dipercayakan kepada mereka. Bartolo dan istrinya mendirikan sebuah rumah yatim piatu bagi anak-anak perempuan. Anak-anak pertama yang mereka pungut berjumlah 15 orang, masing-masing anak untuk setiap misteri rosario. Ia mendirikan wisma bagi anak-anak laki, anak para narapidana, dan juga wisma serupa bagi anak-anak perempuan. Ia membentuk Puteri-puteri Ratu Rosario dari Pompeii, suatu institut religius bagi para wanita yang dididik untuk merawat gereja, dan membangun asrama-asramanya. Ia membentuk Ordo Ketiga Dominikan dekat gereja. Mereka menyokong para calon imam dan mereka yang terpanggil untuk kehidupan religius. Bartolo membiayai pendidikan sekitar 45 orang seminaris. Di samping itu Bartolo juga menulis buku-buku tentang sejarah Rosario dan menyusun novena serta buku doa yang akan dipergunakan di gereja tersebut.

Gereja Santa Perawan Maria Ratu Rosario dari Pompeii diberkati oleh Kardinal La Valletta, Duta Kepausan dari Paus Leo XIII, pada bulan Mei 1891. Pada tanggal 19 Februari 1894, Bartolo Longo dan isterinya menyerahkan Gereja SP Maria dari Pompeii kepada Paus Leo XIII. Sejak saat itu kepausan mengambil alih perawatan Gereja. Pada tahun 1934, atas perintah Paus Pius XI, sebuah basilika baru yang besar mulai dibangun. Basilika selesai pada tahun 1939 dan diresmikan atas nama Paus Pius XII oleh Kardinal Magliones, Sekretaris Negara Bapa Suci. Paus St. Pius X sebelumnya telah menyampaikan dukungannya bagi gereja dan devosi kepada Santa Perawan Maria dari Pompeii.

Lukisan ajaib Santa Perawan Maria Ratu Rosario ditempatkan jauh tinggi di atas altar utama basilika yang kaya dengan hiasan artistik ini. Dalam bingkai emasnya, lukisan berwarna indah tersebut menggambarkan Santa Perawan Maria duduk di atas tahta. Di pangkuannya duduk Kanak-kanak Yesus, yang sedang memberikan seuntai Rosario kepada St. Dominikus, sementara Bunda Maria memberikan seuntai rosario kepada St. Katarina dari Siena. Paus Leo XIII suatu ketika mengatakan, “Tuhan telah mempergunakan lukisan ini untuk mengabulkan permohonan-permohonan yang telah mengguncang seluruh dunia.”

Pada tahun 1965, setelah restorasi lukisan yang ketiga kalinya, Paus Paulus VI mengatakan dalam homilinya, “Sama seperti gambar Santa Perawan telah diperbaiki serta diperindah …, demikian juga hendaknya gambar Maria dalam diri segenap umat Kristiani haruslah dipulihkan, diperbaharui, serta diperkaya.” Pada akhir perayaan yang khidmat tersebut, Paus Paulus VI menempatkan dua mahkota baru di atas kepala Yesus dan Maria, mahkota berhias intan permata yang dipersembahkan sebagai ucapan syukur oleh abdi-abdi Maria.


   Devosi

Suatu devosi khusus yang dikenal sebagai “Permohonan kepada Ratu Kemenangan” dimulai pada bulan Oktober 1883 dan didaraskan di seluruh dunia, teristimewa pada tanggal 8 Mei dan pada hari Minggu pertama bulan Oktober. Devosi ini merupakan suatu permohonan yang dianggap diberikan oleh Santa Perawan kepada salah seorang anak yang disembuhkan di Pompeii, “Barangsiapa menghendaki pertolonganku, hendaklah ia mendaraskan tiga novena permohonan dan tiga novena syukur.”


   Beatifikasi Bartolo Maria Longo

Bartolo Longo, yang dulunya abdi Setan, petobat yang hidup saleh, pengacara terhormat dan pemenang hati anak-anak yatim piatu ini, hidup hingga usianya yang ke-85 tahun. Orang kudus ini wafat pada tanggal 5 Oktober 1926. Makam Bartolo Longo dan isterinya dapat ditemukan dalam ruang bawah tanah tempat ziarah.

Janji Santa Perawan, “Barangsiapa menyebarluaskan Rosario-ku akan diselamatkan” menjadi kenyataan ketika Paus Yohanes Paulus II menegaskan keselamatan jiwa Bartolo Longo dalam upacara beatifikasinya yang dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 1980. Bapa Suci menyebutnya sebagai “Putera Madonna” dan “Rasul Rosario”.  


   Paus Yohanes Paulus II & SP Maria dari Pompeii

Diperkirakan sekurang-kurangnya sekitar 10.000 peziarah datang mengunjungi Basilika SP Maria dari Pompeii setiap harinya. Tetapi dua tahun sekali, yaitu pada tanggal 8 Mei dan pada hari Minggu pertama bulan Oktober, sekurang-kurangnya 100.000 peziarah bersatu hati dalam mendaraskan doa-doa khidmat yang disusun Bartolo Longo.

Pada tanggal 21 Oktober 1979, Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Pompeii. Pada kesempatan tersebut diadakan ziarah nasional kepada Santa Perawan Maria dari Pompeii.

Dalam Surat Apostoliknya, “Rosarium Virginis Mariae” (Rosario Perawan Maria), Bapa Suci menulis:
*
“Pada awal tahun ke-25 pelayanan saya sebagai paus, saya mempercayakan Surat Apostolik ini ke tangan Perawan Maria yang penuh kasih, sambil meniarap dalam roh di hadapan patung Maria di tempat ziarah cemerlang yang dibangun baginya oleh Beato Bartolo Longo, rasul rosario. Dengan tulus ikhlas saya mengutip kata-kata yang menyentuh hati, dengan mana ia mengakhiri Permohonan kepada Ratu Rosario Suci yang terkenal itu:

O Rosario suci Maria,
rantai halus yang menyatukan kami dengan Allah,
ikatan kasih yang memadu kami dengan para malaikat,
benteng keselamatan untuk melawan serbuan neraka,
pelabuhan aman tatkala perahu universal kami kandas,
kami tidak pemah akan meninggalkan engkau.
Engkau akan menjadi penopangku di saat ajal:
milikmulah ciuman terakhir kami di saat nyawa melayang.
Dan kata terakhir yang kami ucapkan adalah namamu yang suci,
O Ratu Rosario dari Pompei,
O Bunda yang terkasih,
O Pengungsian orang berdosa,
O Penghibur orang yang berduka.
Kiranya engkau dipuji di mana-mana,
sekarang dan selalu,
di bumi dan di surga.

dari Vatikan, pada hari ke-16 bulan Oktober, dalam tahun 2002, awal tahun ke-25 pontifikat saya.”


   Meditasi

Lukisan Santa Perawan Maria Ratu Rosario mewakili tradisi umat beriman yang telah berlangsung lama, yang datang kepada Maria sebagai pengungsian dan harapan akan kebutuhan-kebutuhan mereka. Maria adalah tahta bagi Putra-nya yang mungil, Yesus. Yesus menemukan rumah-Nya yang pertama di dunia ini dalam rahim Maria dan dalam pangkuannya. Maria duduk di atas sebuah tahta. Tahta tersebut adalah Gereja. Maria bersama Putra Ilahi-nya bertahta dalam Gereja dan dari Gereja, lambang surga di bumi.

Tetapi, apa itu Gereja? Gereja dalam latar belakang lukisan tersebut dilukis dengan garis-garis biasa dan sederhana. Tahtanya terbuat dari kayu, bukan kayu berukir indah seperti yang pada waktu biasa terdapat dalam rumah-rumah orang kaya, melainkan kayu orang miskin. Kaki Madonna bertumpu di atas alas sederhana, bukan alas beludru.

Umat Pompeii hendak menghormati Sang Putra dan Bunda-Nya dengan membangun sebuah gereja batu yang besar dan indah. Gereja yang indah, dengan hiasan emas dan persembahan intan permata adakah cara setempat pada masa itu untuk menyatakan cinta dan devosi mereka kepada Santa Perawan. Namun demikian, Bartolo Longo, tahu bahwa gereja batu itu haruslah dibangun dengan batu-batu hidup yang adalah belas kasihan dan damai sejahtera. Adalah tujuan utamanya untuk mengajar umat berdoa, dan kemudian memperhatikan kebutuhan-kebutuhan mereka.

Kedua rosario dalam lukisan tersebut masing-masing memiliki enam perpuluhan. Ini juga adalah kebiasaan pada masa itu. Sering kali, perpuluhan yang keenam didaraskan demi ujub-ujub bagi mereka yang melayani Gereja dan karya-karya kerasulan Gereja. Bagaimanapun bentuk rosario yang dipergunakan untuk suatu devosi, rosario tetaplah merupakan suatu doa berdasarkan Kitab Suci. Sang pelukis yang tak dikenal namanya itu juga tidak melupakan kebenaran ini. Sebuah buku digambar di dasar tahta. Dari mutiara dan emas, mata kita beralih tertuju kepadanya, kepada buku yang berisi Kebijaksanaan Tuhan yang ada di antara kita, sesungguhnya Santa Perawan dan Sabda Yang Menjadi Daging tinggal di antara kita.


sumber : 1.“Our Lady of Pompeii”; www.catholictradition.org; 2.“Our Lady of Pompei” by Sr. M. Jean Frisk; The Marian Library/International Marian Research Institute, Dayton, Ohio; www.udayton.edu/mary; * "Rosarium Virginis Mariae"; Dokpen KWI; diterjemahkan oleh Ernest Mariyanto
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya”