Berjalan bersama Para Kudus:
Oktober
2 Oktober
|
Para Malaikat Pelindung
|
Pada hari ini kita merayakan pesta para utusan Tuhan yang melindungi kita umat manusia. Kita dapat menemukan kisah tentang mereka sepanjang Kitab Suci. Para malaikat menyampaikan pesan-pesan dari Tuhan, melindungi manusia dari mara bahaya serta menyelamatkannya. Dalam Perjanjian Baru, dalam Kitab Kisah Para Rasul bab 12 dikisahkan bagaimana St. Petrus dibimbing oleh seorang malaikat untuk meloloskan diri dari penjara. Telah berabad-abad lamanya umat Kristiani percaya bahwa kita masing-masing mempunyai seorang malaikat pelindung.
Gambar malaikat pelindung yang paling sering kita jumpai adalah gambar seorang malaikat yang sedang melindungi seorang anak kecil yang sedang berjalan menyeberangi sebuah jembatan kecil. Pada tahun 1608, Paus Paulus V menambahkan pesta para malaikat pelindung ke dalam penanggalan para kudus dan pesta gerejani. Mengetahui serta mengimani bahwa kita masing-masing mempunyai seorang malaikat pelindung yang melindungi kita, sungguh sangat membesarkan hati. Malaikat pelindung kita adalah hadiah dari Tuhan kita yang penuh belas kasih.
“Demikianlah para malaikat itu berada di sini; mereka ada di sampingmu; mereka ada bersamamu, mereka ada bagi kamu. Mereka ada di sini untuk melindungimu serta melayanimu. Dan meskipun Tuhan-lah yang telah menugaskan mereka untuk tugas-tugas itu, kita tetap harus berterima kasih kepada mereka oleh karena kasih mereka yang besar sehingga mereka taat serta datang untuk menolong kita pada saat kita membutuhkan pertolongan.”
St. Bernardus
3 Oktober
|
St. Gerardus dari Brogne
|
Gerardus dilahirkan di akhir abad kesembilan di Perancis. Keluarganya kaya raya, tetapi Geradus bukanlah seorang yang sombong. Sesungguhnya, ia dikenal sebagai seorang yang baik hati dan bersahabat. Sepulang dari pergi berburu, ia dan kawan-kawannya kembali ke rumah dalam keadaan capai dan lapar. Setelah mengundang teman-temannya masuk untuk makan minum dan beristirahat, ia sendiri pergi. Gerardus pergi menyelinap menuju sebuah kapel kecil yang berada dalam wilayah tanah miliknya. Ia berdoa untuk jangka waktu yang lama di sana. Tubuhnya yang lelah pun beristirahat dan ia lupa sama sekali mengenai rasa laparnya.
Gagasan muncul di benak Gerardus, andai saja orang banyak menyadari sukacita doa, maka pastilah mereka akan dengan lebih suka hati berdoa. Kemudian pikirannya pun melayang kepada para biarawan yang melewatkan sepanjang hidup mereka menyampaikan puji-pujian kepada Tuhan. Bayangkan betapa mereka beroleh hak istimewa, pikirnya. Maka berdoalah ia memohon kesempatan untuk mendapatkan panggilan religius dan akhirnya ia dapat bergabung dalam biara St Denis.
Gerards mencintai kehidupan yang telah dipilihnya dan setelah menamatkan pendidikan ia ditahbiskan menjadi seorang imam. Ia telah melewatkan sebelastahun sebagai seorang biarawan ketika kepadanya diberikan ijin untuk mendirikan suatu biara baru di tanah miliknya di Brogne. Biara berkembang, tetapi Gerardus merasa terlalu banyak aktivitas dan kesenangan di sana. Sebab itu ia membangun bagi dirinya sendiri sebuah gubug pertapaan di samping gereja. Ia tinggal di sana dengan tenang seorang diri.
Tetapi, ia tidak dibiarkan tinggal dalam damai untuk waktu yang lama. Para superior meminta Gerardus untuk mengunjungi biara-biara di Flanders dan Normandy. Para biarawan membutuhkan bimbingan dan pertolongan agar dapat lebih bertekun. Tugas ini menghantar Gerardus dalam banyak perjalanan selama duapuluh tahun. Sepanjang hidupnya Gerardus hidup dengan cara hidup yang ketat penuh matiraga. Ia melakukannya sebab ia ingin membuktikan kepada Yesus bahwa ia mengasihi-Nya. Ia menunjukkan kasihnya itu dengan suka hati mempersembahkan tindakan-tindakan kecil penyangkalan diri. Ketika tahu bahwa masa hidupnya di dunia akan segra berakhir, ia minta agar diijinkan kembali pulang ke gubug pertapaannya di Brogne. Ijin diberikan. Gerardus wafat dalam damai pada tanggal 3 Oktober 959.
St Gerardus menemukan cukacita doa yang berasal dari hubungan yang akrab mesra dengan Tuhan. Adakah suatu cara di mana aku dapat membina hubungan yang lebih akrab dengan Tuhan dalam hidupku sendiri?
5 Oktober
|
St. Flora dari Beaulieu
|
Orang kudus dari Perancis ini hidup pada abad keempatbelas. Ia berasal dari sebuah keluarga yang harmonis dan di kemudian hari menggabungkan diri dalam sebuah biara para biarawati di Beaulieu pada tahun 1324. Ia seorang gadis yang baik dan polos, yang menolak rencana orangtua untuk menikahkannya. Tetapi, begitu ia mempersembahkan diri kepada Tuhan sebagai mempelai-Nya, Ia memperkenankannya untuk membuktikan kasihnya dengan menghadapi berbagai macam pencobaan dan pergulatan hidup.
Terkadang bagi Sr Flora tampaknya ia sedang melewatkan suatu kehidupan yang teramat nyaman. Di lain waktu, ia harus menghadapi kehidupan yang sulit. Maka ia pun tergoda untuk pulang ke rumah demi menyenangkan diri. Namun demikian, sebab ia tak kenal lelah berusaha mengasihi Tuhan, Sr Flora semakin dan semakin berkenan bagi-Nya. Pada akhirnya, Ia menganugerahinya dengan penglihatan-penglihatan yang menakjubkan dan karunia mengetahui kejadian di masa mendatang. Segera saja, orang banyak menyadari bahwa Sr Flora adalah seorang yang sungguh kudus. Mereka datang untuk meminta doa dan nasehatnya. Santa kita ini juga menerima anugerah istimewa sengsara luka-luka Kristus di salib. Tampaknya ia merasakan sesuatu menembusinya, meninggalkan suatu luka di lambungnya. Dengan sukacita ia menerima sengsara ini demi kasihnya yang teramat besar bagi Yesus.
Bahkan di saat-saat kegelisahan ataupun keraguan, Flora terus berusaha untuk melangkah maju, memberikan yang terbaik yang dapat ia lakukan bagi Tuhan saat itu.
6 Oktober
|
St. Bruno
|
Bruno dilahirkan sekitar tahun 1030. Pendiri Ordo Para Biarawan Kartusian ini pada mulanya sama sekali bukanlah seorang pertapa. Selama delapanbelas tahun ia adalah seorang profesor teologi di tanah kelahirannya, Perancis. Ia berupaya sekuat tenaga membawa para muridnya semakin dekat dengan Tuhan. Kemudian, kepadanya diberikan suatu kedudukan penting di Keuskupan Rheims.
Bruno tidak terkesan dengan kehormatan pun tidak takut memikul tanggung jawab. Ia menjadi sadar bahwa hatinya merindukan kesendirian bersama Yesus. St Hugo dari Grenoble memberikan kepada Bruno dan teman-temannya sebidang tanah di gurun yang tersembunyi yang disebut Chartreuse. Mereka mendirikan sebuah kapel dan gubug-gubug kecil sebagai tempat tinggal. Inilah awal mula Ordo Kartusian. Mereka sangat bahagia di sana, bekerja di ladang, berpuasa dan berdoa, tersembunyi dalam Tuhan.
Akan tetapi, enam tahun kemudian Paus Urbanus II, salah seorang mantan murid Bruno, meminta suatu pengorbanan besar darinya. Bapa Suci memintanya datang ke Roma untuk menjadi penasihat beliau. Hal ini amat menyedihkan hati santo kita, tetapi ia taat. Ia mempercayakan tanggung jawab di Chartreuse kepada salah seorang biarawan. Bruno melayani Paus Urbanus II dengan sebaik-baiknya. Kemudian, akhirnya ia diperkenankan untuk menjalani hidup biarawan kembali dekat Roma. Jadi, dengan pengikut-pengikut baru, Bruno memulai segala sesuatunya lagi di Calabria, Italia.
Seperti kita ketahui dari surat-suratnya, St Bruno senantiasa seorang yang gembira dan giat. Ia tak hendak melihat seorang muridnya pun bersedih hati. Ia menggambarkan kehidupan mereka yang keras dengan ungkapan-ungkapan yang menyenangkan. Bruno bahkan mendesak seorang sahabat untuk datang melihatnya sendiri.
St Bruno wafat pada tahun 1101. Ordonya berlanjut hingga kini. Ordo Kartusian adalah satu-satunya ordo religius dalam Gereja yang tidak pernah perlu direformasi. Para pengikut St Bruno senantiasa memelihara semangat kasih dan pengorbanan diri pendirinya.
Cinta yang istimewa akan keheningan menjadi ciri hidup St Bruno. Berapa seringkah aku menyisihkan sedikit waktu doa dalam keheningan sepanjang hari yang kulalui?
6 Oktober
|
B. Marie Rose Durocher
|
Eulalie Durocher dilahirkan pada tahun 1811 di Quebec, Kanada. Ia adalah anak kesepuluh dari sebelas bersaudara. Ibunya meninggal dunia ketika ia berusia delapanbelas tahun. Saudaranya, seorang imam di sebuah paroki di Beloeil, membawa adiknya ini ke parokinya. Di sana, Eulalie melaksanakan karya kerasulan awam. Ia dipercaya mengurus keperluan rumah tangga bagi saudaranya, sang imam. Ia juga memulai persekutuan doa paroki yang pertama di Kanada. Tigabelas tahun lamanya terlibat dalam kehidupan Gereja dan paroki mempersiapkan jalan baginya untuk suatu karya istimewa bagi Tuhan.
Pada tahun 1843, ketika Eulalie berusia tigapuluh dua tahun, uskup Montreal memintanya untuk memulai suatu misi khusus. Eulalie memulai suatu ordo religius yang baru bagi para perempuan, yang dinamai Suster-suster dari Nama Kudus Yesus dan Maria. Karya khusus mereka bagi Yesus adalah memberikan pendidikan kepada anak-anak yang paling miskin dan terabaikan. Eulalie menjadi Moeder Marie Rose. Yang lainnya mengikuti jejak perempuan yang murah hati ini. Mereka juga percaya akan pentingnya pendidikan anak-anak demi kasih kepada Yesus.
Moeder Marie Rose hidup hanya enam tahun lamanya sesudah ia memulai kongregasinya. Namun demikian, pastilah ia terus membantu para biarawatinya dari surga sebab komunitasnya terus bertumbuh dan bahkan membuka biara-biara baru. Mereka memulai karya misi di Amerika juga. Mereka pergi ke Oregon pada tahun 1859. Sekarang, Suster-suster dari Nama Kudus Yesus dan Maria tersebar di seluruh penjuru dunia.
Moeder Marie Rose Durocher dimaklumkan sebagai “beata” oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 23 Mei 1982.
B Marie Rose melewatkan masa hidupnya dengan melayani Gereja. Setiap anggota Tubuh Kristus dipanggil kepada kasih yang sama ini, yang dinyatakan dalam pelayanan satu sama lain demi kepentingan Injil.
7 Oktober
|
SP Maria Ratu Rosario
|
St. Dominikus-lah yang pada akhir abad keduabelas dan awal abad ketigabelas mendorong semua orang untuk berdoa Rosario. St. Dominikus teramat sedih hatinya oleh karena menyebarnya suatu aliran bidaah yang sangat mengerikan yang disebut Albigensia. Bersama dengan Ordo Pengkhotbah yang baru dibentuknya, ia melakukan yang terbaik untuk membinasakan bidaah yang amat berbahaya tersebut. Ia mohon bantuan Santa Perawan Maria, dan dikisahkan bahwa Bunda Maria memintanya untuk menyebarluaskan devosi kepada Rosario Suci. St. Dominikus mentaati keinginan Bunda Maria dan berhasil dengan gemilang menghancurkan bidaah tersebut.
Rosario adalah suatu devosi yang amat sederhana yang dapat dilakukan oleh semua orang - baik tua maupun muda, terpelajar maupun tidak terpelajar. Doa rosario dapat diucapkan di mana saja, serta kapan saja. Sementara kita mendoakan Bapa Kami, sepuluh Salam Maria serta Kemuliaan, kita merenungkan peristiwa-peristiwa besar yang terjadi dalam hidup Yesus dan Maria. Dengan cara demikian, kita semakin dekat serta akrab kepada Yesus dan kepada Bunda-Nya yang kudus. Kita berusaha untuk meneladani hidup mereka yang kudus.
Bunda Maria amat senang jika kita berdoa Rosario sesering mungkin dengan baik. Bunda Maria biasa mendoakannya bersama St. Bernadette ketika ia menampakkan diri kepadanya di Lourdes. Ketiga anak dari Fatima mengetahui rahasia kekuatan Rosario dari Bunda Maria. Bunda Maria mengajarkan kepada mereka bahwa berdoa Rosario mendatangkan rahmat serta menyelamatkan para pendosa dari api neraka.
Seorang paus Dominikan (Ordo Pengkhotbah), Paus Pius V, menetapkan Pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario dengan tujuan untuk mengungkapkan rasa terimakasih kita kepada Bunda Maria atas kemenangan pasukan Kristen melawan pasukan Turki di Lepanto pada tanggal 7 Oktober 1571.
Dengan merenungkan secara khusuk peristiwa-peristiwa Rosario, kita dapat mencontoh teladan Maria yang “mendengarkan Sabda Tuhan serta menyimpannya dalam hati”.
8 Oktober
|
St. Simeon
|
Simeon yang kudus hidup pada abad pertama. Dalam Injil Lukas bab dua dikisahkan Yosef dan Maria membawa Bayi Yesus ke Bait Allah di Yerusalem. Di sanalah mereka bertemu dengan Simeon. Orang kudus tersebut telah lama menunggu dengan sabar jawab atas permohonannya kepada Tuhan: ia ingin tetap hidup hingga melihat Sang Mesias, Juru Selamat dunia. Tetapi, ia tidak tahu seperti apakah Sang Mesias itu, atau bilakah dan apakah doanya akan dikabulkan.
Pasangan muda dari Nazaret itu menghampirinya bersama dengan bayi mereka. Simeon memandang mata Sang Bayi dan merasakan suatu gejolak sukacita memenuhi hatinya. Matanya bersinar-sinar. Ia menggendong Yesus dalam pelukannya, kemudian menatang-Nya sambil berdoa:
“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa.”
Maria dan Yosef saling berpandang-pandangan. Mereka berdua amat takjub. Kemudian nabi tua itu berpaling kepada Maria. Sinar matanya menjadi sedih sementara ia berkata dengan lembut, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Maria tidak mengerti apa yang dimaksudkannya, dan ia berdoa kepada Tuhan untuk memohon kekuatan. Simeon yang kudus telah dikabulkan doanya oleh Tuhan. Ia tetap dalam keadaan penuh syukur dan sukacita sementara pasangan muda serta Bayi mereka meninggalkannya.
Ketika Simeon menggendong Bayi Yesus dalam pelukannya, ia tahu bahwa Ia adalah Sang Mesias. Bagaimana jika aku mengenali kehadiran Yesus dalam hidupku sendiri dengan lebih sering?
12 Oktober
|
St Felix dan St Siprianus
|
Felix dan Siprianus, keduanya adalah Uskup Afrika yang hidup pada abad kelima. Mereka menderita bersama lebih dari 4900 martir dalam masa penganiayaan yang hebat oleh bangsa Vandal. Huneric, raja Vandal, membuang umat Kristiani ini ke pengasingan di padang gurun Libya. Mereka diperlakukan dengan begitu keji oleh bangsa Moor.
Seorang uskup yang kudus bernama Victor berusaha menolong umat Kristiani yang malang ini, yang dijebloskan ke dalam sebuah penjara yang ngeri. Mereka dikurung tanpa udara maupun penerangan yang cukup. Uskup Victor menuliskan kisah keberanian dan penderitaan yang mereka alami. Beliau menceritakan bahwa ketika mereka diperintahkan untuk pergi ke tempat pembuangan di padang gurun yang ganas, mereka keluar dari penjara dengan menyanyikan madah pujian. Umat Kristiani lainnya mencucurkan arimata melihat kegagahan mereka. Bahkan para perempuan dan anak-anak ikut pergi bersama mereka ke pembuangan dan tewas di sana. Dalam kisah ini diceritakan pula tentang Uskup St Felix. Ia tua renta dan setengah lumpuh hingga seseorang mengatakan kepada raja Vandal, “Baginda dapat meninggalkan dia mati di sini.” Tetapi Raja Huneric dengan keji menjawab, “Jika ia tidak dapat menunggang kuda, ia dapat diseret dengan lembu.” Pada akhirnya, mereka memutuskan untuk mengikatkan uskup tua yang gagah berani ini pada seekor keledai dan dengan demikian ia dibuang agar mati di padang gurun.
Kita juga merayakan St Siprianus. Uskup Siprianus hidup dua abad sesudah St Siprianus dari Kartago. St Siprianus yang pestanya kita rayakan hari ini mempertaruhkan nyawanya sendiri demi memelihara sebanyak mungkin para tawanan. Ia menghabiskan segenap waktu dan kekuatannya, pula segala yang dimilikinya, demi menolong mereka. Akhirnya, ia sendiri ditangkap juga dan dibuang ke pengasingan. Di sana ia wafat sebagai martir akibat perlakuan keji terhadap umat Kristiani.
Kedua orang kudus ini mengikuti teladan Yesus sebagai pemimpin Gereja. Mereka berusaha melayani umat yang dibimbingnya dengan kemurahan hati yang luar biasa.
13 Oktober
|
St Edward
|
Raja St Edward adalah salah seorang yang paling dikasihi dari semua raja Inggris. Ia hidup pada abad kesebelas. Oleh sebab para musuh di tanah airnya sendiri, ia harus tinggal di Normandy, Perancis, sejak usianya sepuluh tahun hingga empatpuluh tahun. Ketika ia pulang kembali untuk memimpin negeri, segenap rakyat menyambutnya dengan sukacita.
St Edward adalah seorang yang tinggi dan tegap perawakannya, tetapi kesehatannya amat rapuh. Meski begitu ia dapat memimpin negerinya dengan baik dan senantiasa memelihara kedamaian di negerinya. Ini karena ia percaya dan mengandalkan Tuhan. Raja Edward ikut ambil bagian dalam misa setiap hari. Ia adalah seorang yang lemah lembut dan baik hati, yang tidak pernah berbicara kasar. Kepada orang-orang miskin dan orang-orang asing, ia menunjukkan belas kasih yang istimewa. Ia juga membantu para biarawan dengan segala cara yang dapat ia lakukan. Adalah keadilannya kepada setiap orang dan kasihnya kepada Gereja Tuhan yang menjadikan St Edward begitu populer di kalangan rakyat Inggris. Mereka akan bersorak-sorai sementara ia mengendarai kudanya keluar istana.
Meski ia seorang raja dengan kekuasaan yang besar, St Edward menunjukkan kejujurannya dengan jalan menepati janjinya kepada Tuhan dan kepada rakyat. Sewaktu masih tinggal di Normandy, ia mengucapkan suatu ikrar kepada Tuhan. Ia mengatakan bahwa apabila keluarganya berkesempatan melihat masa-masa yang lebih baik, ia akan pergi berziarah ke makam St Petrus di Roma. Setelah dinobatkan sebagai raja, ia rindu untuk menepati ikrarnya ini. Tetapi para bangsawan tahu bahwa tak akan ada siapa-siapa lagi yang akan memelihara perdamaian diantara orang-orang yang gemar berperang di tanah itu. Jadi, meski mereka mengagumi devosi raja, mereka tak hendak membiarkannya pergi. Segala masalah ini disampaikan kepada paus, St Leo IX. Bapa Suci memutuskan bahwa raja dapat tinggal di kerajaannya. Beliau mengatakan bahwa hendaknyalah Raja Edward membagi-bagikan uang yang seharusnya dipergunakannya untuk berziarah kepada orang-orang miskin. Ia hendaknya juga membangun atau memperbaiki suatu biara demi menghormati St Petrus. Dengan taat, raja melaksanakan keputusan paus. Raja wafat pada tahun 1066 dan dimakamkan di sebuah biara indah yang telah ia bangun kembali. Ia dimaklumkan sebagai santo oleh Paus Alexander III pada tahun 1161.
Raja yang kudus ini berusaha sepanjang hidupnya untuk mempergunakan karunia-karunia yang diberikan kepadanya demi menolong sesama. Adakah aku mempergunakan karunia-karunia yang diberikan kepadaku untuk berbuat kebajikan?
14 Oktober
|
St. Kalistus I
|
Paus hebat yang wafat sebagai martir ini hidup pada awal abad ketiga. Dulunya ia seorang budak belian muda di Roma yang terjerumus dalam suatu masalah yang amat serius. Tuannya, seorang Kristen, memberinya tanggung jawab untuk mengelola sebuah bank. Suatu ketika, Kalistus kehilangan uang yang dititipkan kepadanya oleh orang-orang Kristen lainnya. Karena ketakutan, Kalistus melarikan diri dari Roma. Ia tertangkap setelah mencoba meloloskan diri dengan menceburkan diri ke dalam laut. Hukuman yang dijatuhkan kepadanya sungguh sangat mengerikan: ia dirantai dan dihukum kerja paksa di sebuah penggilingan.
Kalistus dibebaskan dari hukuman ini hanya karena para nasabahnya berharap bahwa ia dapat mengembalikan sebagian dari uang mereka. Tetapi, sekali lagi ia ditangkap. Kali ini karena ia terlibat dalam suatu perkelahian. Kalistus dikirim ke pertambangan-pertambangan di Sardinia. Ketika kaisar membebaskan semua tawanan Kristen yang dihukum di pertambangan-pertambangan tersebut, Kalistus juga ikut dibebaskan. Sejak saat itu, hidupnya mulai membaik.
Paus St. Zephrinus mengenal serta memberikan kepercayaan kepada budak yang baru dibebaskan itu. Ia menugaskan Kalistus untuk mengurus pemakaman umum umat Kristiani di Roma. Sekarang pemakaman tersebut dinamai sesuai namanya: Katakombe St. Kalistus. Banyak paus dimakamkan dalam katakombe tersebut. Kalistus membuktikan bahwa dirinya pantas mendapat kepercayaan dari Bapa Suci. St. Zephrinus tidak saja mentahbiskannya sebagai seorang imam, tetapi juga menganggapnya sebagai seorang sahabat sekaligus penasehat.
Kelak, St. Kalistus sendiri menjadi seorang paus. Sebagian orang mengeluh karena ia terlalu murah hati kepada orang-orang berdosa. Namun demikian, paus yang kudus itu memutuskan bahwa bahkan para pembunuh pun diperkenankan menerima Komuni Kudus setelah mereka bertobat serta mengakukan dosa-dosa mereka. Paus hebat ini selalu mempertahankan ajaran-ajaran Yesus yang benar. Ia wafat pada tahun 222 dalam kemuliaan seorang martir.
Hidup St. Kalistus mengingatkan kita bahwa Tuhan dapat memilih siapa saja untuk melakukan karya-Nya - yang kita perlukan hanyalah iman dalam kuasa-Nya.
15 Oktober
|
St. Theresia dari Avila
|
Theresia dilahirkan di Avila, Spanyol, pada tanggal 28 Maret tahun 1515. Sebagai seorang gadis kecil di rumah keluarganya yang kaya, Theresia dan kakaknya: Rodrigo suka sekali membaca riwayat hidup para kudus dan para martir. Bagi mereka, tampaknya menjadi martir adalah cara mudah untuk dapat pergi ke surga. Oleh karena itu kedua anak tersebut secara diam-diam berencana untuk pergi ke tanah Moor. Sementara mereka menapaki jalan, mereka berdoa agar mereka boleh wafat bagi Kristus. Tetapi, mereka belumlah jauh dari rumah ketika mereka bertemu dengan paman mereka. Seketika itu juga sang paman membawa mereka pulang ke pelukan ibu mereka yang sudah teramat cemas. Kemudian, anak-anak itu bermaksud untuk menjadi pertapa di pekarangan rumah mereka. Rencana ini pun tidak berhasil juga. Mereka tidak dapat mengumpulkan cukup banyak batu untuk membangun gubug mereka. St. Teheresia sendirilah yang menuliskan kisah masa kecilnya yang menggelikan itu.
Namun demikian, ketika Theresia tumbuh menjadi seorang gadis remaja, ia berubah. Ia banyak membaca buku-buku novel dan kisah-kisah roman picisan hingga ia tidak punya banyak waktu lagi untuk berdoa. Ia lebih banyak memikirkan cara merias serta mendadani dirinya agar tampak cantik. Tetapi, setelah ia sembuh dari suatu penyakit parah, Theresia membaca sebuah buku tentang St. Hieronimus yang hebat. Pada saat itu juga, ia bertekad untuk menjadi pengantin Kristus. Ketika menjadi seorang biarawati, amatlah susah bagi Theresia untuk berdoa. Selain itu, kesehatannya pun buruk. Ia menghabiskan waktunya setiap hari dengan mengobrol tentang hal-hal yang remeh. Suatu hari, di hadapan lukisan Yesus, ia merasakan suatu kesedihan yang mendalam bahwa ia tidak lagi mencintai Tuhan. Sejak itu, ia mulai hidup hanya bagi Yesus saja, tidak peduli betapa pun besarnya pengorbanan yang harus dilakukannya.
Sebagai balas atas cintanya, Kristus memberikan kepada St. Theresia karunia untuk mendengar-Nya berbicara kepadanya. Ia juga mulai belajar berdoa dengan cara yang mengagumkan juga. St. Theresia dari Avila terkenal karena mendirikan biara-biara Karmelit yang baru. Biara-biara tersebut dipenuhi oleh para biarawati yang rindu untuk hidup kudus. Mereka banyak berkurban untuk Yesus. Theresia sendiri memberi teladan kepada mereka. Ia berdoa dengan cinta yang menyala-nyala dan bekerja keras melakukan tugas-tugas biara.
St. Theresia adalah seorang pemimpin besar dan seorang yang sungguh-sungguh mengasihi Yesus serta Gereja-Nya. Ia wafat pada tahun 1582 dan dinyatakan kudus oleh Paus Gregorius XV pada tahun 1622. Ia digelari Pujangga Gereja oleh Paus Paulus VI pada tahun 1970.
St. Theresia mengajarkan bahwa kita harus memiliki kepercayaan yang besar akan kasih penyelenggaraan Tuhan bagi kita. Ia menulis bahwa seseorang yang memiliki Tuhan, tidak kekurangan suatu apa pun; Tuhan saja sudah cukup.
17 Oktober
|
St. Ignatius dari Antiokhia
|
St. Ignatius dari Antiokhia telah dikenal sejak masa gereja perdana. Ia dilahirkan pada tahun 50. St. Hieronimus dan St. Yohanes Krisostomus keduanya berpendapat bahwa makamnya terletak dekat pintu gerbang kota Antiokhia. Ignatius adalah Uskup Antiokhia yang ketiga. Di kota inilah St. Petrus berkarya sebelum ia pindah ke Roma. Di kota ini jugalah pertama kalinya para pengikut Kristus disebut Kristen. Ignatius dijatuhi hukuman mati dalam masa pemerintahan Kaisar Trajan. Ia digiring dari Antiokhia ke gelanggang pertunjukan di pusat kota Roma.
Meskipun kepergiannya ke Roma berada dalam pengawalan ketat pasukan, Ignatius sempat singgah di Smyrna dan Troas. Dari kota-kota tersebut ia menulis beberapa pucuk surat kepada umat Kristiani. Dengan demikian, ia menggunakan cara yang sama dengan St. Paulus dalam mewartakan Kabar Sukacita. Salah satu surat yang ditulis Ignatius dari Troas ditujukan kepada St. Polikarpus, seorang rekan uskup, yang kelak juga menjadi seorang martir.
Ketika Ignatius yang terkasih tiba di Roma, ia bergabung dengan umat Kristiani yang pemberani yang menantinya di penjara. Akhirnya, tibalah hari dimana sang uskup dilemparkan ke arena pertunjukan. Dua ekor singa ganas menerkamnya. St. Ignatius wafat sekitar tahun 107. Ia mewariskan kepada kita kesaksian hidup Kristiani serta surat-suratnya yang indah.
“Berdoalah bagiku, supapa aku jangan jatuh dalam pencobaan.”
Mari menimba keberanian dalam kesaksian hidup serta doa-doa St. Ignatius.
18 Oktober
|
St. Lukas
|
Menurut tradisi, Lukas adalah seorang dokter kafir. Ia seorang yang lembut serta baik hati, yang mengenal Kristus melalui pewartaan Rasul St. Paulus. Setelah menjadi seorang Kristen, ia pergi menyertai Paulus ke berbagai tempat. Lukas merupakan seorang penolong yang banyak membantu Rasul Paulus dalam mewartakan iman. Kitab Suci menyebut Lukas sebagai “tabib Lukas yang kekasih.”
St. Lukas adalah penulis dua buah kitab dalam Kitab Suci, yaitu Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Meskipun Lukas tidak pernah bertemu dengan Yesus semasa Ia hidup di dunia, Lukas ingin menulis tentang Dia bagi umat Kristiani yang baru bertobat. Jadi, ia berbicara dengan mereka-mereka yang mengenal Yesus. Ia mencatat semua perbuatan Yesus yang mereka lihat dan Sabda Yesus yang mereka dengar. Menurut tradisi, Lukas memperoleh sebagian informasi penting dari Santa Perawan Maria sendiri. Bunda Maria merupakan orang yang tepat yang dapat menggambarkan secara jelas kedatangan Malaikat Gabriel kepadanya untuk menyampaikan Kabar Gembira. Bunda Maria-lah yang paling dapat menceritakan secara rinci kisah kelahiran Yesus di Betlehem serta pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir.
Lukas juga menuliskan kisah tentang bagaimana para rasul mulai mewartakan Sabda Yesus setelah Ia kembali ke surga. Dalam kitab tulisan Lukas, Kisah Para Rasul, kita mengetahui bagaimana Gereja mulai tumbuh dan berkembang.
St. Lukas adalah santo pelindung para dokter. Kita tidak tahu pasti bilamana atau di mana Lukas wafat. Ia merupakan salah seorang dari keempat penulis Injil.
Dari Injil Lukas kita mengenal cinta serta belas kasih Yesus. Luangkan sedikit waktu hari ini untuk membaca dengan khidmat sebagian dari Injil yang ia tulis.
19 Oktober
|
St. Yohanes de Brebeuf, St. Isaac Jogues, dkk
|
Lebih dari tiga ratus tahun yang lalu, enam orang imam Yesuit bersama dua orang awam, semuanya berasal dari Perancis, wafat sebagai martir di Amerika Utara. Kedelapan orang kudus ini wafat sebagai martir antara tahun 1642 dan 1649. Mereka adalah sekelompok misionaris yang paling gagah berani. Mereka mengorbankan segala sesuatu yang mereka miliki demi mewartakan Kristus kepada orang-orang pribumi Amerika Utara. Setelah berjuang keras, mereka berhasil mempertobatkan banyak orang dari suku Indian Huron. Tetapi suku Iroquois, musuh bebuyutan suku Huron, membunuh mereka semua.
St. Yohanes de Brebeuf menderita tbc. Di Perancis, sakitnya begitu parah hingga ia bahkan tidak dapat mengajar banyak kelas. Namun demikian, ia menjadi seorang rasul yang gagah berani serta mengagumkan. Keberaniannya menakjubkan suku Iroquois yang biadab sementara mereka menyiksanya hingga tewas.
St. Isaac Jogues dianiaya dengan hebat oleh suku Mohawk, tetapi dibebaskan oleh orang-orang Belanda. Ia pulang ke Perancis, namun segera kembali ke Amerika Utara. Pastor Jogues ditebas dengan tomahawk (kampak perang orang Indian) oleh Kelompok Beruang dari suku Mohawk.
St. Antonius Daniel baru saja selesai mempersembahkan Misa bagi umatnya dari suku Huron, ketika suku Iroquois menyerang desa mereka. Orang-orang Indian Kristen memohon kepadanya agar ia berusaha melarikan diri. Tetapi Pastor Daniel tetap tinggal. Ia ingin membaptis semua orang yang menangis serta memohon dengan sangat kepadanya agar diberi Sakramen Baptis sebelum mereka semua dibunuh. Suku Iroquois membakarnya hingga tewas dalam kapelnya yang kecil. St. Gabriel Lallemont disiksa hingga tewas bersama dengan St. Yohanes de Brebeuf. St. Charles Garnier tertembus peluru suku Iroquois dalam suatu serangan mendadak, tetapi ia masih mencoba merangkak untuk menyelamatkan seorang yang sedang sekarat. Ia sendiri kemudian terbunuh oleh tebasan kampak. St. Noel Chabenel harus mengalami berbagai kesulitan, tetapi ia telah bertekad untuk tetap tinggal di Amerika Utara. Ia dibunuh oleh seorang pengkhianat Huron. Kedua orang pembantu awam, Rene Goupil dan John Lalande, keduanya tewas oleh tebasan tomahawk. Jadi, dengan cara demikianlah para pahlawan Kristus tersebut menyerahkan nyawanya bagi pertobatan orang-orang pribumi Amerika Utara. Setelah kematian mereka, para misionaris yang datang kemudian, dapat mempertobatkan hampir semua suku di mana para martir berkarya. Pahlawan-pahlawan yang gagah berani ini, yang sering disebut sebagai para martir Amerika Utara, dinyatakan kudus oleh Paus Pius XI pada tahun 1931.
Kerinduan terbesar dari para martir kudus ini adalah agar orang lain mengenal cinta kasih serta persahabatan dengan Yesus. Suatu ketika St. Isaac Jogues menyatakan tekadnya untuk mewartakan Injil dengan berkata, “Aku hendak melakukan apa pun yang dikehendaki Tuhan, meskipun itu harus dibayar dengan seribu nyawa.”
19 Oktober
|
St. Paulus dari Salib
|
Paulus Danei dari Ovada, Italia, dilahirkan dalam sebuah keluarga pedagang pada tahun 1694. Ia seorang Kristen yang baik serta saleh. Ketika usianya sembilan belas tahun, Paulus memutuskan untuk menjadi seorang tentara. Setahun kemudian ia meninggalkan dinas kemiliteran. Pada musim panas tahun 1720, Paulus memperoleh suatu pengalaman rohani. Ia memperoleh tiga penglihatan untuk membentuk suatu ordo religius baru. Paulus tidak dapat membayangkan apa yang bakal terjadi, jadi ia pergi kepada Bapa Uskup untuk mohon bimbingan. Bapa Uskup mempelajari masalahnya dan percaya bahwa penglihatan tersebut adalah benar. Ia mengatakan kepada Paulus untuk terus maju dengan panggilan khususnya. Ia patut melakukan apa yang diperintahkan kepadanya melalui penglihatan-penglihatan tersebut.
Paulus melewatkan empatpuluh hari lamanya untuk berdoa dan bermatiraga. Selama waktu itu ia menuliskan regula yang akan menjadi dasar hidupnya serta para pengikut kongregasinya yang baru. Yohanes, saudara Paulus, dan dua orang muda lain ikut bergabung dengannya. Paulus dan Yohanes ditahbiskan sebagai imam oleh Paus Benediktus XIII pada tahun 1727.
Sepuluh tahun kemudian, Biara Passionis (CP = Kongregasi Biarawan Passionis) yang pertama berdiri. Paus Klemens XIV menyetujui ordo baru tersebut. Ia juga menyetujui regula biara selang beberapa waktu kemudian. Disamping ketiga kaul kekal, yaitu: kemiskinan, kemurnian dan ketaatan, Paulus dari Salib menambahkan kaul keempat, yaitu: devosi kepada Sengsara Kristus. Pada tahun 1747, Passionis telah memiliki tiga biara. Mereka berkhotbah serta memberikan retret dan bimbingan rohani kepada umat di seluruh Italia.
Ketika ia wafat ada tahun 1775, Paulus dari Salib sedang mulai membentuk Kongregasi Biarawati Passionis. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius IX pada tahun 1867.
St. Paulus dari Salib mengajarkan bahwa dalam Salib Yesus kita menemukan kebijaksanaan sejati. Jika kita sedang mengalami kesulitan atau penderitaan, marilah kita berdoa memohon kebijaksanaan sejati.
21 Oktober
|
St. Hilarion
|
Hilarion hidup pada abad keempat. Ia seorang remaja yang tidak percaya ketika meninggalkan rumahnya di Palestina. Ia sedang dalam perjalanan ke Mesir untuk bersekolah. Di sana ia belajar mengenai iman Kristiani, dan segera ia dibaptis. Hilarion baru berumur limabelas tahun pada waktu itu. Pertobatannya merupakan awal dari suatu perjalanan gemilang yang menghantarnya semakin akrab dengan Tuhan. Tak lama berselang, ia pergi mengunjungi St Antonius yang terkenal itu di padang gurun. Hilarion ingin bersendiri dan melayani Yesus yang baru saja ia kasihi dengan begitu mendalam.
Hilarion tinggal bersama St Antonius selama dua bulan lamanya, tetapi tempat itu tidak cukup tenang baginya. Banyak orang berdatangan mohon pertolongan St Antonius. Hilarion tidak dapat menemukan kedamaian yang ia rindukan, sebab itu ia pergi. Setelah memberikan segala yang ia miliki kepada orang-orang miskin, ia pergi ke alam liar untuk hidup sebagai seorang pertapa.
Hilarion harus berjuang melawan banyak pencobaan. Kadang kala, ia merasa, seolah tak satu pun dari doa-doanya yang didengarkan Tuhan sama sekali. Walau demikian ia tidak membiarkan godaan-godaan ini membuatnya berhenti berdoa dengan terlebih sungguh. Setelah duapuluh tahun di padang gurun, orang kudus ini mengadakan mukjizatnya yang pertama. Segera saja banyak orang mulai berdatangan ke gubugnya untuk memohon pertolongan. Beberapa orang minta diperbolehkan tinggal bersamanya untuk belajar darinya bagaimana berdoa dan bermatiraga. Dalam kedalaman kasihnya kepada Tuhan dan sesama, ia mengundang mereka untuk tinggal. Tetapi, pada akhirnya, ketika usianya enampuluh lima tahun, ia mulai berkelana. Ia pergi dari satu negeri ke negeri lainnya demi mencari kedamaian dan ketenangan. Namun demikian, mukjizat-mukjizat belas kasihnya yang tersohor senantiasa mengundang banyak orang berdatangan. Beberapa tahun menjelang wafatnya pada tahun 371, Hilarion pada akhirnya merasakan bahwa ia sungguh-sungguh sendiri bersama Tuhan. Usianya delapanpuluh tahun ketika ia wafat.
Nilai kesendirian sungguh berarti bagi orang kudus ini. Adakah aku menyisihkan suatu waktu sepanjang hari yang aku lewatkan di mana aku dapat sendiri bersama Tuhan?
23 Oktober
|
St. Yohanes dari Capestrano
|
St. Yohanes dari Capestrano dilahirkan di Italia pada tahun 1386. Ia seorang pengacara dan gubernur kota Perugia. Ketika para musuh yang menyerang kotanya menjebloskannya ke dalam penjara, Yohanes mulai berpikir tentang arti hidup yang sebenarnya. Para musuh politik Yohanes tidak ingin segera membebaskannya. Jadi, Yohanes punya banyak waktu untuk menyadari bahwa hal yang paling penting adalah keselamatan jiwa. Ketika pada akhirnya sekonyong-konyong ia dibebaskan, Yohanes masuk ke sebuah biara Fransiskan. Usianya tiga puluh tahun ketika itu. Bagi Yohanes, hidup sebagai seorang biarawan miskin sungguh merupakan suatu tantangan yang berat. Ia harus mengorbankan kebebasannya demi cintanya kepada Yesus. Dan ia berusaha melakukannya dengan segenap hatinya.
Setelah ditahbiskan menjadi seorang imam, Yohanes diutus untuk berkhotbah. Ia dan St. Bernardinus dari Siena, yang tadinya pembimbing novisnya, menyebarluaskan devosi kepada Nama Yesus yang Tersuci ke berbagai tempat. Yohanes berkhotbah menjelajahi Eropa selama empat puluh tahun. Semua orang yang mendengar khotbahnya tergerak hatinya untuk mengasihi serta melayani Kristus dengan lebih baik.
Suatu peristiwa terkenal dalam hidup orang kudus ini terjadi saat peperangan Belgrade. Turki telah bertekad untuk menguasai Eropa serta membinasakan Gereja Yesus. Paus mengutus St. Yohanes dari Capestrano untuk pergi menghadap semua raja Kristen di Eropa untuk memohon agar mereka bersatu dalam menghadapi pasukan Turki yang amat kuat. Para raja taat kepada biarawan yang miskin serta bertelanjang kaki ini. Ia mengobarkan cinta mereka kepada Tuhan serta menyemangati mereka dengan kata-katanya yang berapi-api. Namun demikian, meskipun suatu balatentara Kristen yang besar bersatu untuk melawan Mohamad II dan pasukan Turkinya, tampaknya mereka akan kalah. Pasukan musuh jauh lebih besar jumlahnya. Pada saat itulah Yohanes sendiri, meskipun usianya telah tujuhpuluh tahun, lari ke garis depan untuk membakar semangat pasukannya agar terus bertempur. Dengan mengangkat salibnya tinggi-tinggi, orang tua yang kurus kecil ini terus berteriak, “Menang, Yesus, menang!” Dan para laskar Kristen itupun merasa jauh lebih bersemangat dari sebelumnya. Mereka bertempur hingga pasukan musuh lari ketakutan.
St. Yohanes dari Capestrano meninggal tidak selang lama kemudian, pada tanggal 23 Oktober 1456. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1724.
“(Para imam) telah ditempatkan di sini untuk memberikan perhatian kepada sesamanya. Hidupnya sendiri haruslah menjadi teladan bagi sesamanya, dengan menunjukkan bagaimana mereka harus hidup di dalam rumah Tuhan.”
24 Oktober
|
St. Antonius Maria Claret
|
Antonius dilahirkan di Spanyol pada tahun 1807. Pada tahun yang sama Napoleon menyerbu Spanyol. Mungkin itu adalah “pertanda” akan peristiwa-peristiwa mendebarkan yang akan terjadi sepanjang hidupnya. Antonius ditahbiskan menjadi seorang imam pada tahun 1835 dan ditugaskan di paroki kota asalnya. Kemudian ia pergi ke Roma dan membantu karya misi. Ia menggabungkan diri dengan Serikat Yesus sebagai novis, tetapi kesehatannya tidak mendukungnya. Ia kembali ke Spanyol dan bertugas sebagai imam. Pastor Antonius melihat seluruh dunia sebagai suatu daerah misi yang luas. Ia memiliki hati seorang misionaris. Ia seorang imam yang berdedikasi tinggi di parokinya. Ia mengadakan seminar-seminar bagi para imam.
Pastor Antonius yakin akan kekuatan karya tulis. Ia menulis sedikitnya 150 buah buku. Bukunya yang paling terkenal, Jalan yang Benar, telah dibaca jutaan orang. Sebagian orang tidak dapat mengerti pemikiran Pastor Antonius. Kesuksesan serta semangatnya membuat mereka khawatir. Mungkin pertentangan tersebut memang diijinkan oleh Tuhan agar imam yang penuh semangat ini dapat mengunjungi Kepulauan Canary pada tahun 1848. Pastor Antonius tinggal di sana selama satu tahun dengan mewartakan Kabar Gembira. Kemudian Pastor Antonius kembali ke Catalonia, Spanyol dan kepada karya penginjilannya di sana. Pada tahun 1849, Pastor Antonius membentuk suatu ordo religius baru yang disebut Putera-putera Misionaris dari Hati Maria Yang Tak Bernoda atau lebih dikenal dengan nama Kongregasi Misionaris Claretian, CMF.
Ratu Isabela II dari Spanyol amat menghormati St. Antonius. Ratu berpendapat bahwa St. Antonius adalah orang yang paling tepat untuk menjadi Uskup Agung Santiago, Kuba. Karya kerasulannya di Kuba menjadi suatu pengalaman selama tujuh tahun yang mendebarkan. Uskup Agung Antonius mengunjungi paroki-paroki, berkhotbah menentang kejahatan sosial, terutama perbudakan. Ia memberkati pernikahan serta membaptis anak-anak. Ia seorang pembaharu dan karenanya mempunyai banyak musuh. Beberapa kali ia menerima ancaman pembunuhan. Namun demikian, ancaman tersebut tidak mampu menghalangi karyanya yang mengagumkan itu hingga ia dipanggil kembali ke Spanyol pada tahun 1857.
Selama menjadi imam, St Antonius juga memimpin sebuah seminari di Madrid. Ia mendirikan sekolah St. Mikhael untuk memajukan karya seni dan kesusasteraan dan bahkan berusaha mendirikan sebuah sekolah pertanian. Ia pergi ke Roma untuk membantu mempersiapkan Konsili Vatikan Pertama pada tahun 1869 dan wafat pada tahun 1870. St. Antonius Maria Claret dinyatakan kudus oleh Paus Pius XII pada tahun 1950.
St. Antonius mendorong yang lain, terutama kaum awam, untuk setia kepada Injil dalam hidup mereka sehari-hari. Berapa sering saya memikirkan apakah kehidupan saya sendiri telah sesuai dengan ajaran Kristus?
28 Oktober
|
St. Simon dan St. Yudas Tadeus
|
Kedua orang rasul Yesus ini kita rayakan pestanya pada hari yang sama. St. Simon disebut “orang Zelot (setia)” karena ia amat taat kepada hukum Yahudi. Suatu ketika, Simon dipanggil oleh Yesus untuk menjadi rasul-Nya. Simon menyerahkan jiwanya serta mengerahkan tenaganya untuk mewartakan Injil. Bersama para rasul yang lain, Simon menerima karunia Roh Kudus pada hari Pentakosta. Kemudian, menurut tradisi, ia pergi ke Mesir untuk mewartakan iman. Selanjutnya, ia pergi ke Persia bersama dengan rasul St. Yudas, dan keduanya wafat sebagai martir di sana.
St. Yudas disebut juga Tadeus, artinya “si pemberani”. Yudas-lah yang mengajukan kepada Kristus pertanyaan yang terkenal pada Perjamuan Malam Terakhir. St. Yudas bertanya, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” Jawab Yesus, "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”
St. Yudas dikenal sebagai santo pelindung “perkara yang sulit atau hampir tidak ada harapannya.” Umat beriman mohon bantuan doanya ketika tampaknya hampir tidak ada harapan sama sekali atas persoalan mereka. Seringkali Tuhan menjawab doa-doa mereka oleh karena bantuan doa rasul yang terkasih ini.
St. Simon dikenal sebagai “orang Zelot” dan St. Yudas Tadeus disebut “si Pemberani”. Marilah kita berdoa mohon semangat perutusan dan cinta yang menyala-nyala seperti mereka di dalam hati kita.
31 Oktober
|
St. Alfonsus Rodriquez
|
Orang kudus dari Spanyol ini dilahirkan pada tahun 1553. Ia mengambil alih usaha jual beli kain wol milik keluarganya ketika usianya duapuluh tiga tahun. Tiga tahun kemudian ia menikah. Tuhan mengaruniakan kepada Alfonsus dan Maria - isterinya, dua orang anak. Tetapi banyak penderitaan yang kemudian datang menimpa Alfonsus. Usahanya mengalami kesulitan, puterinya yang masih kecil meninggal dunia, disusul oleh isterinya. Sekarang, pengusaha ini mulai berpikir tentang apa yang kira-kira dirancangkan Tuhan baginya. Dari dulu Alfonsus adalah seorang Kristen yang saleh. Tetapi sekarang, ia berdoa, bermatiraga, dan menerima sakramen-sakramen lebih banyak dari sebelumnya.
Ketika usianya menjelang empatpuluh tahun, putera Alfonsus meninggal dunia juga. Bukannya membenamkan diri dalam kesedihan, tetapi Alfonsus semakin khusuk berdoa serta memohon karunia percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Segera kemudian Alfonsus mohon diijinkan bergabung dengan Serikat Yesus. Tetapi, ia diberitahu bahwa ia harus belajar terlebih dahulu. Jadi, ia kembali bersekolah. Anak-anak kecil menertawakan Alfonsus. Ia harus meminta-minta untuk makan, sebab ia telah memberikan seluruh uangnya kepada kaum miskin papa. Demikianlah, pada akhirnya Alfonsus diterima sebagai frater dan diberi tugas sebagai penjaga pintu di sebuah seminari Yesuit. “Frater yang itu bukanlah seorang manusia - ia seorang malaikat!” demikian kata superiornya mengenai Alfonsus bertahun-tahun kemudian. Para imam yang mengenalnya selama empat puluh tahun tidak pernah mendapatinya mengatakan atau melakukan sesuatu yang tidak baik. Kebaikan hatinya serta ketaatannya telah diketahui semua orang. Suatu kali, semua kursi dalam biara, bahkan juga kursi-kursi dari kamar tidur, dipergunakan untuk suatu Devosi Empat Puluh Jam. Karena suatu kesalahan, kursi Frater Alfonsus tidak dikembalikan kepadanya hingga tahun berikutnya. Namun demikian, ia tidak pernah mengeluh atau pun membicarakan masalah tersebut kepada siapa pun.
Selama masa hidupnya yang panjang, St. Alfonsus harus menaklukkan pencobaan-pencobaan yang berat. Selain itu, ia juga mengalami penderitaan jasmani yang menyakitkan. Bahkan pada saat ia terbaring mendekati ajalnya, ia harus melewatkan setengah jam lamanya bergumul dengan penderitaan yang luar biasa. Kemudian, sesaat sebelum wafat, ia dipenuhi dengan damai dan sukacita. Ia mencium Salibnya dan memandang teman-teman sebiaranya dengan penuh kasih. St. Alfonsus wafat pada tahun 1617 dengan nama Yesus di bibirnya.
Meskipun banyak penderitaan berat yang harus ditanggunggnya, Alfonsus tetap berpegang teguh pada harapan serta kepercayaannya kepada Tuhan. Marilah berdoa memohon harapan serta kepercayaan yang sama untuk menopang kita.
Saint a Day, by Sr. Susan H. Wallace, FSP, Copyright © 1999, Daughters of St. Paul. Used by permission of Pauline Books & Media, 50 St. Paul's Avenue, Boston, MA 02130. All rights reserved.
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan sebagian / seluruh artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Pauline Books & Media.”