YESAYA    
Edisi YESAYA   |   Bunda Maria   |   Santa & Santo   |   Doa & Devosi   |   Serba-Serbi Iman Katolik   |   Artikel   |   Anda Bertanya, Kami Menjawab
Dalam Bimbingan Roh Kudus
oleh: Romo Victor Hoagland, C.P.
berdasarkan Katekismus Gereja Katolik 2568-2589
Pentakosta
Tuhan memberikan kepada semua orang karunia doa. Tentu saja, kita harus menerima karunia ini serta mempergunakannya dengan setia. Juga kita harus senantiasa belajar berdoa.
Bagaimana kita dapat senantiasa belajar berdoa? Melalui Roh Kudus.

Roh Kudus: Pengajar Doa
Roh Kudus adalah pengajar doa yang hebat. Pada hari Pentakosta, menurut Kisah Para Rasul, Roh Kudus mengumpulkan para pengikut Yesus yang pertama dalam suatu persekutuan doa. Roh Kudus mengajar mereka untuk senantiasa ingat akan Yesus, mengingat kembali Kitab-Kitab Yahudi, memecahkan roti Ekaristi, mengenali ciptaan baru dalam pembaptisan. “Roh membantu kita dalam kelemahan kita,” demikian kata St. Paulus, “sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa…” (Roma 8:26).

Sekarang Roh Kudus melaksanakan perannya itu di dalam diri kita juga. Roh Kudus adalah “Guru Besar doa Kristiani”, pembimbing serta pelatih kita. Kita belajar berdoa dari ilham Roh Kudus.

Berdoa lewat Perjanjian Lama: para Tokoh dan para Nabi

Salah satu cara Roh Kudus mengajar kita berdoa adalah melalui Perjanjian Lama yang, bersama dengan Perjanjian Baru, merupakan buku doa Roh Kudus. Para tokoh serta para nabi, sejarah bangsa Israel, doa-doa mashyur yang kita sebut Mazmur, mengajar kita berdoa. Yesus Sendiri belajar berdoa lewat Kita-kitab Yahudi dan doa-Nya sendiri mencerminkan tradisi mereka.

Mari kita lihat para tokoh Perjanjian Lama, tokoh-tokoh besar seperti Habel dan Nuh, yang diilhami oleh Roh Kudus. Bagaimana mereka berdoa? Hidup menyatu dengan alam serta dengan makhluk-makhluk hidup di dalamnya, mereka melihat karunia Tuhan dalam kawanan ternak mereka, hasil panen di ladang mereka, langit yang mengirimkan hujan. Bagi mereka, alam semesta ciptaan Tuhan adalah karunia, yang tidak hanya untuk dimanfaatkan, tetapi juga untuk dikagumi keindahannya. Dengan menghargai karya ciptaan, mereka belajar mengenal Tuhan serta memuji Sang Pencipta.

Menghargai Ciptaan Tuhan

Bukankah Nuh menghargai ciptaan Tuhan ketika ia membangun bahteranya? Ia membangun bahtera bukan hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi untuk menyelamatkan makhluk-makhluk hidup lainnya yang terancam punah karena air bah. Doa Nuh serupa dengan doa-doa para tokoh lainnya; ia sangat menghargai karya ciptaan Tuhan. Dalam Perjanjian Lama kita masih dapat mendengar gema doa penyembahan mereka yang bersumber pada puji-pujian karya ciptaan: “Pujilah Tuhan, hai matahari dan bulan, segala bintang di langit, api dan panas terik, unggas di udara, segala binatang buas dan ternak di bumi, nyanyikanlah dan tinggikanlah Dia selama-lamanya.” (Daniel 3, 57)

Memanglah benar bahwa kita dapat mengenal Pencipta dari apa yang Ia ciptakan. Jika kita mengamati karya ciptaan Tuhan, dan memeliharanya dengan baik, serta mengagumi keindahannya, kita terdorong untuk berdoa dengan baik. Karya ciptaan Tuhan, begitu beraneka-ragam, begitu memikat dengan warna-warni kemolekannya yang mempesona, akan mengangkat hatimu kepada Sumber segala keindahan.  

Menyambut Gembira Kehadiran Tuhan Hari demi Hari

Melalui Abraham, Roh Kudus mengajarkan kepada kita cara lain untuk berdoa. Tuhan meminta Abraham untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan pergi ke suatu tempat yang akan ditunjukkan Tuhan kepadanya. Hidupnya adalah suatu perjalanan panjang dari hari ke hari. Di segala tempat di mana ia singgah, Abraham membangun altar untuk Tuhan, sebagai pengingat bahwa Tuhan menyertai perjalanannya ke tempat yang belum diketahuinya. Dari hari ke hari ia berdoa dan menyambut gembira apa yang diberikan Tuhan.

Suatu hari, demikian menurut Kitab Suci, Abraham menyambut tiga tamu asing yang datang pada waktu hari panas terik ke kemahnya (Kej 18, 1-16). Dengan menyambut mereka, ia menyambut Tuhan, demikian dikisahkan, dan menerima berkat. Bukankah Roh Kudus mengajarkan kepada kita melalui teladan Abraham bahwa kita harus senantiasa menyambut gembira kehadiran Tuhan dalam kehidupan kita hari demi hari dengan doa, meskipun kehadiran-Nya tidak selalu nampak jelas?

Doa harian umat beriman kepada Tuhan senantiasa dianjurkan dalam Perjanjian Lama. Dengarlah ayat-ayat mazmur berikut ini:

“Setiap hari aku hendak memuji Engkau,
dan hendak memuliakan nama-Mu untuk seterusnya dan selamanya.” (Mzm 145)

“Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku;
Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku.” (Mzm 138)

Bergulat dengan Tuhan, Berdoa bagi Orang Lain, Berdoa bagi Sesama

Tokoh-tokoh Kitab Suci lainnya memberikan pelajaran-pelajaran lain dalam berdoa. Yakub bergulat dalam gelap dengan seorang asing yang misterius. Doa kita kadang-kadang merupakan suatu pergulatan dengan Tuhan sementara kita bimbang dan ragu (Kej 32, 22-32).

Doa Musa adalah doa perantara. Musa mendaki gunung dan memohon kepada Tuhan bagi umatnya yang menyimpang, yang lapar dan yang patah semangat. Dan Tuhan mendengarkan doa-doanya. Sama seperti Musa, kita harus berdoa dalam semangat kesetiakawanan dengan mereka yang ada di sekitar kita.

“Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN…
Dengan kasih setia-Mu Engkau menuntun umat yang telah Kautebus;
dengan kekuatan-Mu Engkau membimbingnya ke tempat kediaman-Mu yang kudus.”
(Kel 15: 11,13)

Raja Daud, yang doa-doanya yang termashyur dicatat dalam Kitab Mazmur, memuji serta memohon dengan khusuk kepada Tuhan yang dilihatnya hadir dalam kenisah, dalam Kota Suci, dalam kesejahteraan bangsanya. Sama seperti Daud, kita berdoa kepada Tuhan, yang telah mengutus Putera-Nya, Yesus Kristus, dan yang kehadiran-Nya kita rayakan dengan sukacita dalam Gereja-Nya dan dalam masyarakat.

"Dengan nyaring aku berseru kepada TUHAN,
dan Ia menjawab aku dari gunung-Nya yang kudus.
Aku membaringkan diri, lalu tidur;
aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mzm 3: 4-5)

Resapkanlah doa-doa kesaksian yang sungguh luar biasa itu dan camkanlah apa yang mereka ajarkan. Roh Kudus mengajar kita berdoa melalui mereka. Dengan hidup menurut teladan mereka, kehidupan doa kita sendiri akan tumbuh serta bertambah kuat.


sumber : "Taught by the Holy Spirit" by Fr. Victor Hoagland, C.P.; Copyright 1997-1999 - The Passionist Missionaries; www.cptryon.org/prayer
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Victor Hoagland, CP.”