Beato Carlo Acutis
(1991 - 2006)


“Ekaristi adalah jalan utamaku ke surga.”

Carlo Acutis dilahirkan pada tanggal 3 Mei 1991 di London< inggris, sebagai anak tunggal pasangan Andrea dan Antonia Acutis. Tak lama sesudah kelahirannya, pada bulan September 1991, keluarga Acutis kembali ke Italia dan menetap di Milan. Semenjak bayi, ia sangat cerdas. Ia mengucapkan kata-kata pertamanya saat usianya masih tiga bulan dan bisa mengatakan kalimat-kalimat pendek saat usianya lima tahun. Sementara tumbuh menjadi balita, ia terbuka dan suka berkata-kata. Ia menyapa "Halo" kepada semua orang yang dijumpainya di jalan.

Ketika usianya empat tahun, Carlo memperlihatkan minat yang sangat besar kepada Kristus dan Santa Perawan Maria. Ketika ibunya, Antonia, mengajaknya keluar berjalan-jalan, ia suka masuk ke dalam gereja, mengunjungi Yesus dan mencium salib. Ia memetik bunga-bunga untuk ditempatkan di kaki Santa Perawan Maria. Devosi ini mengejutkan orangtuanya karena mereka bukan orang yang mengamalkan iman Katolik mereka pada waktu itu.

Tergerak oleh kasih Carlo kepada Tuhan, Antonia -yang selama ini hanya tiga kali pergi ke gereja sepanjang hidupya [untuk Komuni Pertama, Penguatan, Perkawinan]- memutuskan untuk kembali ke pelukan gereja. Dan demi menjawab semua pertanyaan puteranya, ia mendaftarkan diri di kelas teologi dan pada akhirnya menjadi seorang katekis. Ketika usianya enam tahun, Carlo menemani ibunya di kelas. Ia adalah anak yang gembira dan murah hati dan menaruh perhatian pada semua orang. Banyak orang berkomentar kepada ibunya bahwa Carlo adalah seorang yang spesial dan Tuhan pastilah punya rencana untuknya.

Imam yang bertanggung jawab atas katekese menemui Carlo dan memutuskan bahwa Carlo siap untuk menyambut Komuni Pertama dalam usia tujuh tahun. Sejak saat itu Carlo pergi ke Misa setiap hari dan sesudah misa ia selalu melewatkan waktu untuk berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus dalam Tabernakel. Katanya, "Jika engkau berjemur di bawah matahari, kulitmu akan menjadi kecoklatan, tetapi jika engkau menempatkan dirimu di hadapan Yesus dalam Ekaristi, engkau akan menjadi seorang kudus." Ia juga sangat berdevosi kepada Santa Perawan Maria dan mendaraskan Rosario setiap hari. "Santa Perawan Maria adalah satu-satunya Perempuan dalam hidupku." Ia menyebut doa rosario sebagai "Kencan yang paling romantis sepanjang hdiupku." Mengenai devosinya kepada para malaikat, Carlo berkata, "Terus-meneruslah minta pertolongan malaikat pelindungmu. Malaikat pelindungmu harus menjadi sahabat baikmu." Ia juga biasa berdoa dan memohonkan indulgensi bagi jiwa-jiwa di purgatorium.

Carlo menyambut Sakramen Pengakuan Dosa seminggu sekali dan biasa menuliskan catatan harian yang merefleksikan perilakunya dan bagaimana ia bisa menyempurnakan diri. Suatu ketika ia berkata, "Apa pentingnya kamu bisa memenangkan seribu pertempuran jika kamu tidak bisa menang melawan kecenderungan-kecenderunganmu sendiri yang rusak. Pertempuran yang sesungguhnya ada dalam diri kita sendiri." "Kesedihan adalah memandang kepada diri sendiri, kebahagiaan adalah memandang kepada Allah. Pertobatan tiada lain adalah suatu gerakan mata." Ia menjadikan para kudus sebagai teladannya, teristimewa: St. Fransiskus dari Assisi, St. Francisco dan St. Jacinta Marto, St. Dominikus Savio, St. Tarsisius, dan St. Bernadette Soubirous.

Carlo terpikat dengan teknologi dan sejak usianya sembilan tahun ia tertarik dengan computer programming. Ibunya mengenang bahwa mereka membelikannya buku-buku komputer untuk tingkat mahasiswa dan ia mulai belajar sendiri program komputer. Ia sangat berbakat dalam segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer, bahkan mereka yang bergelar sarjana komputer pun menganggapnya sebagai seorang genius. Semuanya kagum atas kemampuannya memahami rahasia-rahasia komputer yang normalnya hanya dimengerti oleh mereka yang sudah menamatkan perguruan tinggi. Yang termasuk dalam minatnya adalah computer programming, film editing, website creation, editing and layout of comics.

Carlo menerima Sakramen Penguatan di usia sebelas tahun dan sesudahnya mulai membantu sebagi katekis di parokinya. Ia memperhatikan bahwa banyak anak sulit memahami karena orangtua mereka tidak pernah membawa mereka ke Misa. Ia juga sedih hati melihat teman-teman sekelasnya tidak hidup sesuai dengan moral Kristiani. Ia biasa berkata, "Setiap orang mencerminkan terang Allah"; "Mengapa orang sangat peduli dengan keindahan tubuh, tetapi tidak mengkhawatirkan jiwa mereka?" Ia mendorong mereka untuk mengerti bahwa tubuh manusia adalah anugerah dari Allah dan bahwa seksualitas harus dihayati sebagaimana dikehendaki Allah. Carlo melihat seksualitas sebagai sesuatu yang spesial, suatu kerjasama dengan Allah dalam penciptaan. Ia dikaruniai pengetahuan akan hal-hal benar untuk dikatakan dan bagaimana mengatakannya. Ia akan mengatakan bahwa ia selalu berusaha untuk hidup di hadapan Allah.

Carlo hidup normal seperti layaknya seorang anak abad ke-21. Ia bersekolah di Instituto Leone XIII yang dikelola para Jesuit. Kendati inteligensinya yang sangat tinggi, ia tidak pernah menjadi pusat kecemburuan teman-temannya karena sikapnya yang begitu positif, suka melucu dan membuat teman-teman dan gurunya tertawa. Ia bahkan membuatkan video-video pendek untuk mereka. Ia juga suka sepak bola, dan main video games, meski ia sendiri menentukan batasan-batasan. Terkadang ia terlalu banyak bicara di kelas dan terkadang ia terlalu memanjakan diri dalam hal makanan. Ia tidak bisa mengatakan "tidak" pada Nutella dan ice cream. Namun, ia sadar akan kelemahan-kelemahannya itu dan sungguh melakukan upaya untuk mengatasinya.

Dalam hidupnya yang singkat, Carlo tiada kenal lelah menghibur dan meringankan beban mereka yang ada di sekitarnya melalui tindakan-tindakan kecil. Sebagai anak keluarga kaya-raya yang punya pelayan-pelayan yang dibayar untuk melayani dan membersihkan rumah, ia tidak mau merepotkan mereka. Ia sengaja memasang weker untuk bangun lebih awal, supaya ia dapat merapikan sendiri tempat tidur dan kamarnya. Rajesh Mohur, seorang pelayan Hindu yang berkerja di rumahnya, begitu terkesan bahwa seorang "yang begitu tampan, muda, dan kaya" berupaya untuk hidup bersahaja. Terpikat oleh iman Carlo yang mendalam, cinta kasih dan kemurniannya, Rajesh memutuskan untuk dibaptis dalam Gereja Katolik.

Sejak kanak-kanak, Carlo menunjukkan cinta kasih yang besar kepada orang-orang lain. Cinta kasihnya yang luar biasa ditujukan terutama kepada orangtuanya, lalu kepada orang-orang miskin, kaum tunawisma, kaum marjinal, dan kaum lanjut usia yang ditinggalkan sendirian dan kesepian. Ia menggunakan hasil tabungan dari uang saku mingguannya untuk membeli kantong-kantong tidur bagi para tunawisma, dan pada sore hari ia membawakan minuman hangat untuk mereka. Di samping ibunya, ia mengumpulkan teman-temannya untuk membantu kegiatan ini dan kegiatan-kegiatan lain di parokinya. "Adalah lebih baik tidak mendapatkan tambahan sepasang sepatu, dan bisa melakukan tambahan pekerjaan baik [dengan uang yang tidak dibelanjakan untuk sepatu]." Carlo juga memberikan diri sebagai sukarelawan di dapur sup di Milan yang dikelola oleh Para Kapusin dan Misionaris Cinta Kasih Moeder Teresa. Satu kebiasaannya, ia selalu memunguti sampah apa saja yang ditemuinya di jalan "Hanya hal-hal kecil untuk menjadikan sudut dunia lebih baik."

Suatu ketika Carlo berkata, "Ekaristi adalah jalan utamaku ke surga." Ia percaya bahwa jika orang memahami kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi dan rahmat-rahmat mengagumkan yang kita terima darinya, hidup mereka akan berubah. Sejak usianya sebelas tahun, ia telah mulai mengumpulkan informasi mengenai mukjizat-mukjizat Ekaristi di seluruh dunia, dan dua setengah tahun kemudian, pada tahun 2005, ia mempublikasikan websitenya "miracolieucaristic.org". Ia melakukan banyak perjalanan ke banyak tempat yang berkaitan dengan mukjizat Ekaristi dan memotretnya untuk membangun suatu museum virtual Mukjizat Ekaristi. Ia juga membuat pameran yang bisa diunduh pada websitenya. Sekali ia berkata, "Semakin banyak Ekaristi yang kita sambut, semakin kita serupa dengan Yesus, jadi di bumi ini kita akan bisa mencicipi surga." Ia percaya bahwa sakramen-sakramen adalah sumber mata air kerahiman yang memungkinkan kita untuk menanggung segala penderitaan kita.

Carlo selalu sadar diri untuk tidak membuang-buang waktu. Orang bertanya kepadanya, apa yang dicita-citakannya ketika ia dewasa. Ia akan mengalihkan pertanyaan ini dengan mengatakan, "Siapa yang tahu," atau, "Dekat dengan Yesus, itulah rencana hidupku." Seolah-olah ia telah mendapatkan firasat bahwa masa hidupnya tidaklah panjang. Suatu ketika ia mengatakan, "Tujuan kita haruslah tak terbatas, dan bukannya terbatas. Yang tak terbatas itu ialah tanah air kita. Kita selalu dinantikan di surga," "Semua orang dilahirkan sebagai asli, tetapi banyak yang mati sebagai fotokopi." Untuk maju mencapai tujuan yang tak terbatas ini dan tidak "mati sebagai fotokopi' Carlo mengatakan bahwa kompas kita haruslah Sabda Allah yang kita meditasikan setiap hari. Namun, cara-cara yang paling ekstrim diperlukan untuk mencapai tujuan yang begitu luhur mulia itu: sakramen-sakramen dan doa. Secara istimewa Carlo menempatkan Sakramen Ekaristi sebagai pusat hidupnya dan menyebutnya "jalan utamaku ke surga."

Ketika usianya 15 tahun, banyak teman-teman sekelasnya terjangkit flu. Ia merasa sakit juga, dan menyangka bahwa dia menderita penyakit yang sama. Akan tetapi, ketika kesehatannya tak kunjung membaik, orangtuanya membawanya ke dokter. Ia didiagnosa menderita leukemia akut - Acute Myeloid Leukemia. Dalam waktu sangat singkat, ia menanggung banyak sekali kesakitan; ketika dokter yang merawatnya bertanya apakah ia sangat menderita, ia menjawab, "Ada banyak orang yang menderita lebih banyak dariku." Ia selalu memikirkan orang-orang lain: para dokter dan perawat yang merawatnya, dan orangtuanya yang dipersiapkannya untuk menghadapi kematiannya.

Carlo berkata kepada ibunya, "Mama, aku akan meninggalkan rumah sakit ini. Tetapi aku tahu bahwa aku tidak akan melakukannya dalam keadaan hidup. Meski begitu, aku akan memberimu tanda bahwa aku bersama Tuhan. Aku mati dalam keadaan bahagia, sebab aku tidak melewatkan hidupku dengan menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berkenan bagi Tuhan." Ia terus tersenyum dan berusaha untuk tidak mengeluh. "Aku mempersembahkan semua penderitaan yang akan harus aku tanggung kepada Tuhan, kepada Bapa Suci (saat itu Paus Benediktus XVI), dan kepada Gereja."

Seminggu setelah diagnosis leukimia, pada tanggal 12 Oktober 2006, Carlo wafat di Monza, Italia. Ia dimakamkan di Assisi sesuai keinginannya sebab kasihnya yang sangat besar kepada St Fransiskus Assisi, santo pelindung kaum miskin. Pemakamannya dipenuhi dengan teman-teman, orang-orang miskin yang pernah ditolongnya, dan orang-orang asing juga, sebagian bahkan berdiri di luar gereja. Dari jenazah Carlo, orang bisa mencium aroma bunga lily. Semuanya tersentuh oleh hidup Carlo. Kekudusan hidupnya sudah dikenal dan orang mulai berdoa mohon perantaraannya. Ibunya menerima banyak catatan mengenai orang-orang yang berubah hidupnya karena kesaksian hidup Carlo.

Pada peringatan tepat empat tahun wafat Carlo, ibunya melahirkan sepasang bayi kembar pada usianya yang ke-44 tahun, suatu tanda yang telah dijanjikan sebelumnya bahwa ia telah tiba di rumah surgawi.

Pada tanggal 23 Januari 2019 makam Carlo Acutis digali kembali dan didapati jenazahnya tidak rusak. Pada tanggal 13 Mei 2013, Carlo Acutis dimaklumkan sebagai Abdi Allah [Servant of God]. Pada tanggal 5 Juli 2018 Paus Fransiskus memaklumkannya sebagai Venerabilis, dan pada tanggal 10 Oktober 2020, Carlo Acutis dibeatifikasi di Assisi. Pestanya dirayakan pada tanggal 12 Oktober.


Jenazah Beato Carlo Acutis yang tidak rusak setelah dimakamkan selama 14 tahun, sekarang disemayamkan di Basilika Kepausan St Fransiskus Assisi.


Sumber: 1.“The Life of Blessed Carlo Acutis; https://www.youtube.com/watch?v=yC_oZIY_f5w; 2.“Biography of Carlo Acutis”; https://carloacutis-en.org; 3.“Carlo Acutis”; Wikipedia; en.wikipedia.org; 4.“Carlo Acutis: Millenial generation has a Blessed”; Vatican News; 5. berbagai sumber

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”