Media Bina Iman Katolik
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
yesaya.indocell.net


Edisi Februari 2020




"Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau."

(Yesaya 43:1,4)




SELAMAT DATANG di situs YESAYA (YESus SAyang saYA)!

MISI YESAYA:
mewartakan iman Katolik yang benar, yang selaras dengan ajaran Magisterium Gereja, agar umat Katolik semakin tahu dan paham apa yang diyakininya, dan dihantar untuk semakin mencintai imannya; bangga menjadi seorang Katolik!

IJIN RESMI:
Bahan-bahan utama dalam situs ini diterjemahkan dengan ijin resmi dari sumber-sumber berikut:
1.   Straight Answers by Father William P. Saunders; translated by permission of Michael Flach - Editor, The Arlington Catholic Herald; www.catholicherald.com
2.   Saint a Day, by Sr. Susan H. Wallace, FSP, Copyright © 1999, Daughters of St. Paul. Used by permission of Pauline Books & Media, 50 St. Paul's Avenue, Boston, MA 02130.
3.   Father Peffley's Web Site; translated by permission of Father Francis J. Peffley;  www.fatherpeffley.org
4.   Bread on the Waters; translated by permission of Father Victor Hoagland; www.cptryon.org
5.   Catholic Radio Dramas; translated by permission of Patrick G. O'Neill - Director, Catholic Radio Dramas; www.catholicradiodramas.com
6.   Catholic Tradition; translated by permission of Pauly Fongemie; www.catholictradition.org
7.   Catholic Spiritual Direction; translated by permission of Joe Koz; www.jesus-passion.com
8.   Catholic Information Network (CIN); translated by permission of Maryanne; www.cin.org
9.   Sacred Heart Organization Israel; translated by permission of Marianne; http://my.homewithgod.com/israel
10. Catholic Spiritual Direction by Father John Bartunek, LC, ThD and Dan Burke; translated by permission of Dan Burke; www.rcspiritualdirection.com/blog
11. Miracles of the Church, Mystics of the Church, Miracles of the Saints, St Paul of the Cross, St Gemma Galgani; translated by permission of Glenn Dallaire; www.miraclesofthechurch.com; www.mysticsofthechurch.com; www.miraclesofthesaints.com; www.saintpaulofthecross.com; www.stgemmagalgani.com
12. Testimony of Catalina (Katya) Rivas, translated by permission of Robert Hughes; Love and Mercy Publications; www.LoveAndMercy.org


IKUT SERTA MENYEBARLUASKAN ARTIKEL:
1. Dipersilakan mengutip / menyebarluaskan artikel-artikel yang ada di situs YESAYA dengan ketentuan:
a. tidak mengubah apapun dalam artikel
b. menyebutkan sumber asli dan terjemahan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net
c. untuk tujuan pewartaan non-komersiil
2. Untuk keperluan di luar ketentuan di atas, silakan kontak webmaster: yesaya@indocell.net
3. Pelanggaran point 1 & 2 di luar tanggung-jawab YESAYA. Apabila pembaca mengetahui adanya pelanggaran, mohon kesediaannya untuk menginformasikan kepada Yesaya.

PEMBIMBING ROHANI:

INFO YESAYA:




KALENDER LITURGI: FEBRUARI 2020

Renungan Harian berdasarkan kutipan para paus dan para orang kudus:



KESAKSIAN SINTIKHE, BUDAK YUNANI
dikutip dari: Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku, Jilid 4


Yesus sedang duduk di halaman berserambi, yang berada dalam rumah di Betania, halaman yang aku lihat dipadati dengan para murid pada pagi Kebangkitan Kristus. Duduk di tempat duduk marmer dengan bantal-bantal, dengan punggung-Nya bersandar pada dinding rumah, dan dikelilingi oleh para pemilik rumah, oleh para rasul dan murid-murid Yohanes dan Timoneus, bersama dengan Yusuf dan Nikodemus, dan oleh para perempuan saleh, Ia mendengarkan Sintikhe, yang berdiri di hadapan-Nya, kelihatan sedang menjawab pertanyaan-Nya. Semua orang yang hadir tampak menaruh minat dan mendengarkan dalam berbagai posisi, sebagian duduk di bangku-bangku, sebagian di lantai, sebagian berdiri atau bersandar pada tiang-tiang atau pada dinding.

"... adalah perlu. Untuk tidak merasakan semua beban dari situasiku. Adalah perlu untuk tidak diyakinkan, untuk menolak diyakinkan bahwa aku sendirian, seorang budak yang terbuang dari tanah airku. Adalah perlu untuk berpikir bahwa ayah, ibu, saudara-saudara lelakiku dan Ismene yang begitu baik dan tersayang tidak hilang selamanya. Dan bahwa, bahkan meski seluruh dunia bersikukuh memisahkan kami, seperti bangsa Romawi sudah memisahkan dan menjual kami layaknya binatang, walau kami adalah warga negara yang bebas, suatu tempat akan menyatukan kami semua bersama kembali di kehidupan mendatang.

Aku harus berpikir bahwa hidup kami bukan hanya masalah dibelenggu. Sebaliknya hidup punya kuasa kebebasan yang tidak dapat dibelenggu oleh rantai, terkecuali yang secara sukarela hidup dalam kekacauan moral dan dalam pesta pora materi. Engkau menyebut itu 'dosa.' Mereka yang adalah terangku dalam malam-malamku sebagai seorang budak, memberikan definisi yang berbeda. Tetapi mereka juga sependapat bahwa suatu jiwa yang dipakukan pada suatu tubuh oleh nafsu-nafsu jasmani yang jahat tidak akan mencapai apa yang Engkau sebut sebagai Kerajaan Allah, dan kami sebut sebagai hidup bersama para dewa di Hades. Oleh karenanya adalah penting untuk tidak jatuh ke dalam materialisme dan berusaha untuk mencapai kebebasan dari tubuh, dengan membekali diri dengan suatu warisan keutamaan guna memperoleh keabadian yang bahagia dan dipersatukan kembali dengan mereka yang dikasihi.

Dan aku tidak dapat tidak berpikir bahwa jiwa-jiwa orang mati tidak dihindarkan dari menolong jiwa-jiwa orang hidup, sehingga seorang anak dapat merasakan jiwa ibunya dekat dengannya dan melihat wajahnya dan mendengar suaranya yang berbicara kepada puterinya, yang dapat menjawab, 'Ya ibu. Supaya aku datang kepadamu. Ya, tidak membuatmu sedih. Ya, tidak membuatmu menangis. Ya, untuk tidak menggelapkan Hades di mana kau berada dalam damai. Untuk semua itu aku akan menjaga kebebasan jiwaku. Itulah satu-satunya yang aku miliki dan yang tak seorang pun bisa merenggutnya dariku. Dan aku mau mempertahankannya agar tetap murni supaya aku bisa bernalar seturut keutamaan.' Adalah kebebasan dan sukacita berpikir demikian. Dan itulah apa yang aku ingin pikirkan. Dan bertindak sesuai itu. Sebab hanyalah suatu filosofi munafik untuk berpikir dengan satu cara dan lalu bertindak dengan cara yang berbeda.

Berpikir demikian adalah juga membangun kembali tanah air di pembuangan. Suatu tanah air yang karib, dengan mezbah-mezbah, iman, pengajaran, kasih sayang dalam ego orang... Suatu tanah air misterius yang agung, namun tidak demikian, sebab misteri jiwa yang secara sadar tahu akan dunia mendatang, bahkan meski sekarang jiwa mengetahuinya hanya seperti seorang pelaut di lautan bisa melihat detail pantai di pagi yang berkabut: samar-samar, dalam konsep kasar, dengan hanya sedikit tempat yang jelas digambarkan dan yang cukup bagi si pelaut yang letih tersiksa badai untuk mengatakan, 'Ada pelabuhan, damai ada di sana.' Tanah air dari jiwa-jiwa, tempat kita berasal... tempat Hidup.

Karena hidup dilahirkan oleh kematian... Oh! Aku hanya bisa memahami separuh saja dari hal itu sampai aku mendengar salah satu sabda-Mu. Kemudian sabda itu seolah adalah sinar matahari yang menerjang alam pikiranku. Segalanya menjadi diterangi dan aku mengerti sampai sejauh mana para guru Yunani itu benar dan bagaimana mereka kemudian menjadi bingung, sebab mereka tidak memiliki satu datum [Latin, sesuatu yang diberikan atau diterima sebagai dasar argumentasi], satu saja, untuk memecahkan dalil Hidup dan Mati. Datum itu adalah: Allah Yang Sejati, Tuhan dan Pencipta segala sesuatu yang ada!

Bolehkah aku menyebutkan-Nya dengan bibirku yang kafir? Tentu saja aku boleh. Sebab aku berasal dari-Nya, sama seperti orang-orang lain. Sebab Ia menganugerahi pikiran semua manusia dengan inteligensi, dan mereka yang lebih bijak dengan inteligensi unggul, di mana mereka tampak seperti setengah dewa dengan kekuatan manusia super. Sebab Ia membuat mereka menuliskan kebenaran-kebenaran yang sudah agama, jika bukan agama ilahi seperti agama-Mu, maka yang moral, yang mampu memelihara jiwa 'hidup,' bukan hanya untuk periode masa kita tinggal di sini, di bumi, melainkan selamanya.

Kemudian aku paham arti: 'Hidup dilahirkan oleh kematian.' Dia yang mengatakan itu seperti orang yang tidak sepenuhnya mabuk, yang inteligensinya sudah menjadi tumpul. Dia mengucapkan suatu perkataan yang mulia, namun tidak memahaminya sepenuhnya. Aku, maafkan kesombonganku, Tuhan, aku lebih paham darinya dan aku bahagia sejak saat itu."

"Apa yang kau pahami?"

"Bahwa hidup kita yang sekarang hanyalah embrio awal dari hidup dan bahwa Hidup yang sejati dimulai ketika kematian melahirkan kita... ke Hades, sebagai seorang yang tidak mengenal Allah, ke Hidup kekal, sebagai seorang yang percaya kepada-Mu. Apakah aku salah?"

"Kau benar, perempuan," kata Yesus menyetujui.

Nikodemus menyela, "Tetapi bagaimana kau mendengar sabda Guru?"

"Dia yang lapar, mencari makanan, tuan. Aku mencari makananku. Aku tadinya adalah seorang pembaca, dan sebab aku membaca dengan suara dan pengucapan yang baik, aku punya kesempatan untuk banyak membaca di perpustakaan-perpustakaan para majikanku. Tapi aku belum puas. Aku dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang lain di luar tembok-tembok yang dihiasi dengan pengetahuan manusia, dan sebagai seorang tawanan yang mencari emas, aku menggedor dengan buku-buku jariku, aku mendobrak pintu untuk keluar, untuk menemukan... Ketika aku datang ke Palestina bersama majikan terakhirku, aku  takut kalau-kalau aku akan jatuh ke dalam kegelapan... sesungguhnya, tetapi aku malah menuju Terang. Sabda Orang yang di Kaisarea itu bagai dera hantaman sebuah beliung yang meruntuhkan tembok-tembok dengan membuat lubang-lubang yang semakin lebar melalui mana Sabda-Mu masuk. Dan aku memungut sabda dan kabar itu. Dan seperti seorang anak merangkai manik-manik, aku menguntainya dan menghiasi diriku dengannya, menimba kekuatan untuk menjadi semakin dan semakin dimurnikan demi menerima Kebenaran. Aku merasa bahwa dengan memurnikan diriku aku akan menemukannya. Bahkan di bumi ini. Dengan harga hidupku, aku mau menjadi murni demi berjumpa dengan Kebenaran, Kebijaksanaan, Keilahian. Tuhan-ku, aku mengucapkan kata-kata yang bodoh. Mereka menatapku seolah mereka sama sekali bingung. Tapi Engkau menanyakannya padaku..."

"Bicaralah. Teruslah bicara. Itu perlu."

"Aku melawan tekanan eksternal dengan kekuatan dan moderasi. Aku bisa saja bebas dan, bahagia, seturut dunia, jika aku mau. Tapi aku tak hendak menukar pengetahuan dengan kesenangan. Sebab adalah sia-sia memiliki keutamaan-keutamaan lain tanpa kebijaksanaan. Dia, sang filsuf, mengatakan: 'Keadilan, moderasi dan kekuatan yang terpisah dari pengetahuan adalah seperti pemandangan yang dilukis, keutamaan yang cocok untuk para budak, tanpa suatu pun yang mantap dan nyata.' Aku ingin punya hal-hal yang nyata. Tuan, seorang yang dungu, biasa berbicara tentang Engkau di hadapanku. Kemudian tembok-tembok seolah menjadi sebuah tabir. Sudahlah cukup untuk ingin mengoyakkan tabir dan menggabungkan diri dengan Kebenaran. Aku sudah melakukannya."

"Kau tidak tahu apa yang akan kau dapati," kata Iskariot.

"Aku tahu bagaimana percaya bahwa Allah mengganjari keutamaan. Aku tidak menginginkan emas, atau kehormatan, atau kebebasan fisik, tidak, bahkan tidak itu. Tetapi aku menginginkan kebenaran. Aku memohon itu kepada Allah atau mati. Aku ingin diselamatkan dari penghinaan menjadi 'objek,' dan bahkan lebih lagi, untuk setuju menjadi objek. Menyangkal semua yang jasmani demi mencari Engkau, ya Tuhan, sebab suatu pencarian melalui indera tidak pernah sempurna - seperti Engkau lihat, ketika melihat-Mu, aku melarikan diri, aku tertipu oleh mataku - aku menyerahkan diriku kepada Allah Yang di atas kita dan dalam kita dan memberitahu jiwa-jiwa tentang Diri-Nya. Dan aku menemukan Engkau sebab jiwaku menghantarku kepada-Mu."

"Jiwamu adalah jiwa yang tidak mengenal Allah," sekali lagi Iskariot berkomentar.

"Tetapi suatu jiwa selalu punya sesuatu yang ilahi dalam dirinya, teristimewa ketika ia berjuang untuk dijauhkan dari kesalahan... Jiwa, karenanya, condong pada hal-hal yang dari sifat dasarnya sendiri.

"Apa kau membandingkan dirimu sendiri dengan Allah?"

"Tidak."

"Jadi, kenapa kau berkata begitu?"

"Apa? Apa kau, seorang murid dari Sang Guru, bertanya kepadaku? Aku, yang seorang perempuan Yunani dan yang hanya baru-baru ini saja dibebaskan? Tidakkah kau mendengarkan-Nya ketika Ia berbicara? Ataukah huru-hara dalam tubuhmu sedemikian rupa hingga menumpulkan pikiranmu? Bukankah Ia selalu mengatakan bahwa kita adalah anak-anak Allah? Jadi kita adalah allah-allah jika kita adalah anak-anak dari Bapa, Bapa-Nya dan Bapa kita, Yang selalu Ia bicarakan kepada kita. Kau boleh mencelaku karena bersikap tidak rendah hati, tetapi tidak karena tidak percaya atau tidak memperhatikan."

"Jadi menurutmu kau lebih berharga daripada aku? Apakah kau pikir kau sudah mempelajari segalanya dari buku-buku Yunanimu?"

"Tidak, tidak keduanya. Tetapi buku-buku para bijak, dari mana pun itu berasal, telah memberiku yang minimum dibutuhkan untuk menopang dirku. Aku tidak ragu bahwa seorang Israel lebih berharga daripada aku. Tetapi aku bahagia dengan takdir yang datang kepadaku dari Allah. Apa lagi yang bisa aku inginkan? Dengan menemukan Guru aku menemukan segalanya. Dan aku pikir itu adalah takdirku, sebab aku benar-benar melihat suatu Kuasa yang mengawasiku dan yang telah menetapkan nasib besar bagiku dan aku tidak melakukan apa pun selain menaatinya, sebab aku merasa itu adalah yang baik."

"Baik? Selama ini kau telah menjadi seorang budak, dan budak dari para majikan yang kejam... Jika yang terakhir, misalnya, menangkapmu kembali, bagaimana kau bisa taat pada takdirmu, kau perempuan yang sangat bijak?"

"Namamu Yudas, bukan?"

"Ya, dan kenapa?"

"Dan lalu... tidak apa-apa. Aku ingin mengingat namamu selain ironimu. Ingatlah bahwa ironi tidak dianjurkan bahkan pada orang-orang yang saleh... Bagaimana aku akan bisa taat pada takdirku? Mungkin aku akan bunuh diri. Sebab dalam kasus-kasus tertentu adalah lebih baik mati daripada hidup, meski sang filsuf mengatakan bahwa itu tidak benar dan adalah tidak saleh untuk mengakhiri hidup sendiri sebab hanya para dewa yang berhak untuk memanggil kita untuk tinggal bersama mereka. Dan penantian akan suatu tanda dari para dewa untuk melakukannya ini, selalu mencegahku untuk tidak melakukannya, bahkan dalam belenggu nasibku yang sengsara. Tetapi sekarang, sebab ditangkap kembali oleh majikanku yang cemar, aku akan sudah melihat tanda tertinggi. Dan aku akan lebih suka mati daripada hidup, aku, juga punya martabat, kawan."

"Dan jika dia menangkapmu kembali sekarang? Kau akan masih berada dalam situasi yang sama..."

"Sekarang aku tidak akan bunuh diri. Sekarang aku tahu bahwa kekerasan terhadap daging tidak melukai roh yang tidak menyetujuinya. Sekarang aku akan melawan hingga aku ditundukkan oleh kekuatan dan dibunuh oleh kekerasan. Sebab aku akan menganggap itu sebagai suatu tanda dari Allah bahwa melalui kekerasan yang demikian Ia akan memanggilku kepada Diri-Nya. Dan sekarang aku akan mati dengan tenang, dengan tahu bahwa aku hanya akan kehilangan apa yang dapat binasa."

"Kau sudah menjawab dengan sangat baik, perempuan," kata Lazarus dan Nikodemus memberikan persetujuannya juga.

"Bunuh diri tidak pernah diizinkan," kata Iskariot.

"Banyak hal yang dilarang, tetapi larangan itu tidak ditaati. Tetapi, Sintikhe, kau harus berpikir bahwa sebab Allah selalu membimbingmu, maka Ia akan sudah mencegahmu dari melakukan kekerasan terhadap dirimu sendiri. Pergilah sekarang. Aku akan berterima kasih kepadamu jika kau mencari si bocah dan membawanya kemari," kata Yesus lembut.

Perempuan itu membungkuk hingga ke tanah dan pergi. Mereka semua mengikutinya dengan mata mereka.
Selengkapnya silakan baca "Injil Sebagaimana Diwahyukan Kepadaku" [Puisi Manusia-Allah]





"Publikasikan karya ini [Puisi Manusia-Allah] seperti apa adanya. Tidaklah perlu memberikan pendapat mengenai asal-usulnya, apakah luar biasa atau tidak. Barangsiapa membacanya akan mengerti."

~ Paus Pius XII

Instruksi disampaikan di Vatican di hadapan saksi-saksi resmi pada tanggal 26 Februari 1948. Patut dicatat, approval Paus Pius XII ini lebih dari sekedar Imprimatur.
(pontifikat: 1939-1958)




"INJIL SEBAGAIMANA DIWAHYUKAN KEPADAKU"

oleh: Maria Valtorta


III. TAHUN KEDUA YESUS DI HADAPAN PUBLIK
276.
Di Kebun Maria dari Magdala: Kasih kepada Sesama
277.
Yesus Mengutus Ketujuhpuluh-Dua Murid
278.
Yesus Bertemu Lazarus di Padang Galilea
279.
Ketujuhpuluh Dua Murid Melaporkan kepada Yesus Apa yang Telah Mereka Lakukan
280.
Di Bait Allah Merayakan Hari Raya Pondok Daun
281.
Di Bait Allah Mereka Tahu Tentang Ermasteus, Yohanes dari En-Dor, dan Sintikhe
282.
Sintikhe Berbicara di Rumah Lazarus
283.
Misi Empat Rasul di Yudea
...




Setahun sebelum wafat Padre Pio, seorang perempuan bernama Ny Elisa Lucchi menanyakan kepadanya apakah ia menganjurkannya membaca "Puisi Manusia-Allah" oleh Maria Valtorta. Padre Pio menjawab, "Aku tak hanya menganjurkannya, aku mendesakmu untuk membacanya!"

Pater Leo, yang menjadi imam pribadi Beata Teresa dari Calcutta selama tiga tahun, memperhatikan bahwa sang biarawati selalu membawa tiga buku bersamanya, ke manapun ia pergi. Yang satu adalah Kitab Suci dan yang lain adalah Brevir. Pater Leo menanyakan buku yang ketiga, dan itu adalah "Puisi Manusia-Allah" oleh Maria Valtorta. Ia menanyakan kepada Moeder Teresa buku tentang apa itu, dan sang beata mengatakan kepadanya "Bacalah." Sang imam bertanya lagi, dan ia menanggapi dengan jawaban yang sama, "Bacalah." Lebih lanjut, pada tahun 1996, Beata Teresa mengajukan satu permintaan pribadi kepada seniman Susan Conroy untuk menggambarkan lukisan Bunda Maria sebagaimana Ia tampak menurut penggambaran Maria Valtorta.

Penglihatan dan Dikte Yesus kepada Uskup Agung Don Ottavio Michelini, "Aku telah mendiktekan kepada Maria Valtorta, suatu jiwa yang berkurban, suatu karya yang mengagumkan. Mengenai karya ini, Aku-lah Pengarangnya."

Vicka Ivankovic-Mijatovic, Visionaris Medjugorje: "Bunda Maria mengatakan bahwa jika seorang ingin mengenal Yesus dia hendaknya membaca Puisi Manusia-Allah oleh Maria Valtorta. Buku itu adalah kebenaran." (Wawancara dengan Attorney Jan Connell dari Pittsburgh Center for Peace, 27 Januari 1988)





"Dukacita Sengsara Tuhan Kita Yesus Kristus"
dari Meditasi B. Anna Katharina Emmerick
mistikus, stigmatis, visionaris (1774 - 1824)

diterbitkan oleh
Marian Centre Indonesia


dengan Nihil Obstat dan Imprimatur




Yang Tetap:
 EDISI YESAYA SEBELUMNYA
 ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS
 GEREJA KATOLIK (Hierarki, Magisterium, )
 SAKRAMEN & SAKRAMENTALI
 SAKRAMEN EKARISTI (Perayaan Ekaristi, Komuni Kudus, Adorasi, Mukjizat, Kesaksian )
 KITAB SUCI, KEUTAMAAN, SPIRITUALITAS & KOMUNITAS KRISTIANI
 MASA ADVEN & NATAL
 MASA PRAPASKAH & PASKAH
MENGUNJUNGI GEREJA KATOLIK (Tempat Ibadat, Perangkat Liturgis,)
 SERBA-SERBI IMAN KATOLIK
 DOA & DEVOSI (Macam2 Doa, Devosi, Meditasi, )
 BUNDA MARIA (Dogma, Devosi, Penampakan, )
 ST YOSEF, PARA MALAIKAT & PARA KUDUS
 RIWAYAT SANTA & SANTO
 ZIARAH IMAN BERSAMA PARA KUDUS
 HIDUP MANUSIA (Keluarga, Feminisme, Seksualitas, Kontrasepsi, Aborsi, Eutanasia, Kematian, )
 KEHIDUPAN SESUDAH MATI (Api Penyucian, Surga, Neraka, )
 KATEKESE (berbagai topik)
 SUARA GEMBALA
 ANDA BERTANYA, KAMI MENJAWAB
 TANYA JAWAB IMAN KATOLIK
 YANG MENARIK & YANG LUCU


Kontak Webmaster : yesaya@indocell.net



Website Media Bina Iman Katolik YESAYA
Sejak November 2000
Last updated : Februari 2020