Media Bina Iman Katolik
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
yesaya.indocell.net
Edisi Oktober 2008
KALENDER LITURGI: OKTOBER 2008
SANTA PERAWAN MARIA - BUNDA EKARISTI
oleh: Paus Yohanes Paulus II
Sementara memuliakan Kristus yang hadir dalam misteri Ekaristi, sungguh teramat penting kita mengenangkan Bunda Allah.Syukur terima kasih atas `fiat'nya yang murah hati sehingga Sabda Allah menjadi manusia oleh karya Roh Kudus. Ia mempersembahkan tubuhnya sendiri kepada sang Sabda agar Ia dapat mengenakannya pada Diri-Nya dan mukjizat Inkarnasi Ilahi terlaksana. Dalam rahimnya yang perawan Maria mengandung Inkarnasi Sabda, menanti penuh cinta tiada terkatakan kelahiran sang Juruselamat….
Setiap Misa Kudus menghadirkan dalam suatu cara yang tak berdarah kurban unik dan sempurna yang dipersembahkan Kristus di pohon salib, di mana Maria ikut ambil bagian, bersatu dalam roh dengan Putranya yang menderita, dengan penuh cinta memberikan pesetujuan atas kurban-Nya dan mempersembahkan dukacitanya sendiri kepada Bapa (bdk Lumen Gentium, no. 58).
Sebab itu, ketika kita merayakan Ekaristi, kenangan Paskah Kristus, kenangan akan dukacita BundaNya juga dihidupkan dan dihadirkan kembali, Bunda ini, yang sebagai teladan unggul tiada tertandingi, mengajarkan kepada umat beriman untuk mempersatukan diri secara lebih akrab mesra dengan kurban Putranya, satu-satunya Penebus.
Melalui persatuan batin dengan dukacita Bunda Allah, orang-orang percaya ikut ambil bagian dalam suatu cara yang istimewa dalam misteri Paskah dan terbuka terhadap tindakan Roh Kudus yang luar biasa ini yang mendatangkan sukacita adikodrati karena persatuan dengan Kristus yang mulia, dalam teladan sukacita yang dianugerahkan kepada Maria dalam kemuliaan surga, sebagai orang pertama yang ikut ambil bagian dalam buah-buah penebusan.
DOA KEPADA BUNDA DARI SAKRAMEN MAHAKUDUS
ST YOSEF - ADORATOR SEJATI
oleh: St Petrus Yulianus Eymard
Selama tiga bulan Santa Perawan menyimpan rahasianya seorang diri. Tiada seorang pun selain dia yang tahu bahwa ia mengandung Tuhan-nya dalam rahimnya. Tetapi ketika Santo Yosef mengetahui hal itu dari malaikat, imannya langsung menerima tanpa syarat dalam ketaatan buta. Selama enam bulan ia mencurahkan segenap jiwanya dalam adorasi luhur kepada Allah yang tinggal dalam Maria.Kata-kata tiada dapat mengungkapkan kesempurnaan adorasinya. Jika St Yohanes melonjak kegirangan dalam rahim ibunya saat kedatangan Maria, betapa terlebih dahsyat perasaan yang bergejolak dalam diri St Yosef selama enam bulan itu kala ada di sisinya dan di depan matanya sendiri, Tuhan yang tersembunyi! Jika ayah Origen biasa mencium anaknya di waktu malam dan menghaturkan adorasi pada Roh Kudus yang tinggal dalamnya, dapatkah kita ragu akan betapa sering pastilah Yosef menghaturkan adorasi pada Yesus yang tersembunyi dalam tabernakel murni Maria? Betapa khusuk dan khidmat adorasi itu, “Tuhan-ku dan Allah-ku, pandanglah hambamu!” Tiada seorang pun dapat menggambarkan adorasi dari jiwa mulia ini. Ia tiada melihat suatupun, namun ia percaya; imannya telah menembus selubung perawan Maria. Demikianlah hendaknya juga dengan kalian! Di bawah selubung Kitab Suci imanmu hendaknya melihat Tuhan kita. Mohonlah kepada St Yosef imannya yang hidup dan teguh.
Ketika kemudian ia membuai Kanak-kanak Yesus dalam pelukannya, tindakan iman penuh kasih terus-menerus membanjiri hatinya. Itulah sembah sujud yang berkenan kepada Tuhan lebih dari yang diterima-Nya di surga. Bayangkanlah dalam benakmu Santo Yosef yang menghaturkan adorasi pada Kanak-kanak mungil dalam buaiannya sebagai Tuhan-nya. Ia menyatakan kesiapannya untuk mati bagi Kristus, segala rencananya demi kemuliaan Kristus, dan demi memenangkan semakin banyak jiwa bagi kasih-Nya. Tiada seorang pun yang merancangkan rencana terlebih gemilang bagi dia yang dikasihinya dari seorang kudus. Semakin murni dan semakin bersahaja suatu jiwa, semakin mendalam kasih dan adorasinya. Haturkanlah adorasi pada sang Sabda yang hadir di altar, yang dilahirkan sebagai seorang Kanak-kanak kecil bagimu. Tak peduli apapun yang kau lakukan, adorasimu tiada akan pernah dapat menyamai adorasi Santo Yosef. Persatukanlah dirimu dengan jasa-jasanya. Suatu jiwa yang mengasihi Tuhan mempersembahkan segalanya bagi Dia dalam kasih dan Tuhan mendengarkan jiwa yang demikian, sebab jiwa yang semacam itu seribu kali lebih berharga dari yang lainnya.
ADORASI EKARISTIK
oleh: Uskup Agung Thomas Collins, Edmonton, Canada
Kita dapat berdoa di mana saja dan kapan saja. Kita adalah bait Roh Kudus, sadar akan kehadiran Tritunggal Mahakudus yang diam dalam kita; dan meski kita dapat menjauh dari Tuhan, Tuhan tidak pernah jauh dari kita. Tuhan Yesus mengatakan kepada kita untuk masuk ke dalam kamar kita untuk berdoa, dan itu dapat berarti suatu tempat doa yang tenang di mana yang ada bukan khalayak ramai melainkan Tuhan saja, atau dapat berarti juga disposisi batin kita sendiri, di mana kita dapat masuk ke dalamnya kapan saja (Matius 6:6). Tetapi, ada satu tempat doa yang diberkati secara luar biasa: doa di hadapan Ekaristi Mahakudus. Di sanalah kita secara langsung berhadapan dengan misteri kehadiran Ekaristik Tuhan kita, dan di mana kita dapat meneruskan partisipasi kita dalam Misa melalui kontemplasi.
Ekaristi Kudus disimpan dalam tabernakel terutama agar Komuni Kudus dapat dihantarkan kepada mereka yang sakit. Tetapi sejak masa silam umat Kristiani sadar bahwa berdoa di hadapan Ekaristi yang disimpan dalam tabernakel merupakan suatu pengalaman istimewa di mana kita dapat secara lebih mendalam menyadari misteri kehadiran Ekaristik Yesus.
Setelah pentahbisan saya sebagai imam, saya menulis kepada Uskup Fulton Sheen untuk berterima kasih kepadanya telah menulis “Those Mysterious Priests”, di mana ia menganjurkan adorasi Jam Suci setiap hari di hadapan Sakramen Mahakudus. Uskup Sheen membalas, mengatakan bahwa iman yang kita perlukan untuk mengenali Tuhan yang Bangkit dalam Ekarsiti Kudus sama dengan iman yang diperlukan para murid untuk mengenali Tuhan dalam Tuhan yang Bangkit. Sungguh benar demikian.
Ketika saya masih seorang imam muda yang belajar di Roma, siang hari saya biasa berjalan ke sebuah gereja di mana ditahtakan Sakramen Mahakudus. Di tempat singgah nan damai itu datang banyak umat Kristiani, yang tua dan yang muda, terutama kaum muda, membawa segala persoalan dan masalah mereka ke tempat adorasi hening Tuhan Ekaristik kita. Mereka kemudian kembali ke kesibukan hidup mereka dengan kekuatan dan semangat baru dalam iman.
Tak ada yang pasif dalam Adorasi Ekaristik. Adorasi Ekaristik adalah suatu aktivitas yang menghantar kita ke partisipasi yang terlebih penuh dalam pusat hidup kita sebagai umat Kristiani sejati, yakni perayaan Ekaristi Kudus, teristimewa jika kita melewatkan waktu adorasi kita dengan mendoakan ayat-ayat biblis yang dibacakan dalam Misa. Tiada suatupun yang individualistis dalam Adorasi Ekaristik, sebab kita datang di hadapan Tuhan sebagai anggota keluarga iman, yang dipersatukan melalui Pembaptisan dan melalui Perayaan Ekarsiti.
Di hadirat Tuhan dalam Ekaristi kita mencari terang untuk melihat dunia kita dan segala kepentingannya, untuk menimbang masalah-masalah yang kita hadapi seturut nilai-nilai Injil, dan untuk bersikap tegas sebagai pengikut Yesus. Sungguh, tindakan apostolik yang mendatangkan buah muncul dari adorasi. Kita harus sadar benar siapa kita dan siapa Yesus sebelum kita tahu apa yang harus kita lakukan.
BEATA KATERI TEKAKWITHA - LILI DARI EKARISTI KUDUS
Seorang gadis muda bangkit segera, meninggalkan kamarnya sebelum fajar dalam cuaca musim dingin yang menusuk. Dengan menyusuri timbunan salju tebal, ia tiba di depan pintu kapel, menanti pintu dibuka agar ia dapat melewatkan waktu bersama Yesus dalam Sakramen Mahakudus. Dia inilah gadis yang bijaksana dan setia, yang membawa pelita bernyala menyongsong Tuhan-nya.Pada tanggal 14 Juli, Gereja merayakan Pesta Beata Kateri Tekakwitha, “Lili dari Mohawk.” Ada dua pokok terjalin indah dalam hidupnya: devosi kepada Yesus dalam Sakramen Mahakudus dan perkanjangan pada hidup perawan yang dipersembahkan kepada Tuhan. Ekaristi Kudus begitu penting dalam hidup Beata Kateri, bagai matahari di langit bagi kita. Sebab Ekariti Kudus adalah detak jantung hidupnya. Seperti ditulis Ruth Oswald, “mengingat devosinya kepada Sakramen Mahakudus, ia pantas digelari `Lili dari Ekaristi Kudus.'”
Sejak masih amat muda, Beata Kateri memiliki kasih mendalam kepada Tuhan. Meski ibundanya wafat ketika ia baru berusia empat tahun, dari ibunyalah Kateri belajar berdoa. Di kemudian hari, ketika para Misionaris Yesuit datang ke dusunnya, percikan kasih kepada Tuhan yang menyala dalam hatinya menjadi Kobaran Api Kasih yang bernyala-nyala. Kateri rindu menjadi seorang Kristen, dan lebih dari segalanya, rindu menyambut Yesus dalam Komuni Kudus. Para imam Yesuit amat terkesan oleh kasih gadis muda ini kepada Tuhan. Ketika suatu hari nama Kateri muncul dalam percakapan di antara mereka, Pater Claude Chauche-tiere mengatakan, “Aku sungguh percaya bahwa ia adalah seorang santa. Ia nyaris hidup dalam kapel, melewatkan setiap waktu luang dari kesibukannya di hadapan Sakramen Mahakudus. Pada hari-hari Minggu dan hari-hari raya, ia melewatkan sepanjang harinya di gereja, hanya pulang untuk makan. Meski ia belum menyambut Komuni Kudus-nya yang Pertama, cintanya kepada Ekaristi sungguh luar biasa. Ia hidup bagi hari di mana ia akan dapat menyambut Ekaristi.” Orang-orang lain juga tertarik dan terinspirasi oleh kasih Kateri kepada Yesus dalam Komuni Kudus, bahkan “orang-orang berusaha berada di dekatnya apabila ia menyambut Komuni Kudus, sebab kesalehannya membangkitkan devosi” (Oswald).
Sesudah menyambut Komuni Kudusnya yang Pertama, Kateri menemui beberapa biarawati dan dengan penuh kerinduan berharap dapat melewatkan hidupnya bagi Yesus seperti mereka. Ia tak dapat melakukannya, tetapi dengan dorongan seorang teman, Kateri mengucapkan kaul keperawanan. Seperti panggilan kepada hidup religius, kaul keperawanan dipandang sebagai “pernikahan” dengan Tuhan. Sebagaimana ditulis St Ambrosius mengenai panggilan ini, “dia adalah perawan yang dinikahkan dengan Tuhan”. Seperti Gereja dalam Liturgi bagi Para Perawan, dalam kaul keperawanan orang berdoa, “Engkau Sendiri, ya Kristus, segalanya bagiku. Bagi-Mu aku memelihara kemurnian diriku, dan dengan menatang pelitaku yang bernyala aku berlari menyongsong Engkau, ya Mempelai-ku.” Demikianlah juga doa Kateri.
Dalam ensiklik “Sacra Virginitas” pada tahun 1954 Paus Pius XII menulis mengenai panggilan kepada kaul keperawanan dan peran pokok Ekaristi dalam panggilan yang demikian. Sebab, “semakin bersih dan murni suatu jiwa, semakin jiwa lapar akan roti ini, yang darinya jiwa mendapatkan kekuatan untuk melawan segala pencobaan dosa ketidakmurnian, dan dengan mana jiwa semakin terlebih akrab mesra bersatu dengan Mempelai Ilahi; `Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia' (Yohanes 6:56).” Panggilan inilah yang ditanggapi Kateri - panggilan kepada suatu hubungan perkawinan, suatu hubungan pribadi yang akrab mesra dan suatu persatuan mistik dengan Yesus dalam Sakramen Mahakudus yang diberikan dan terbuka juga bagi kita semua.
Melalui keindahan kuasa Yesus dalam Ekaristi Mahakudus, Kateri dikuatkan dalam menanggung aniaya hebat akibat pilihannya untuk hidup selibat, juga penderitaannya akibat penyakit cacar. Yesus dalam Sakramen Mahakudus, yang adalah kemurnian itu sendiri, mengubah Kateri ke dalam citra-Nya Sendiri - citra Anak Domba yang tak bercela. Paus Pius XII menjelaskan dalam ensikliknya bahwa para perawan dan jiwa-jiwa yang demikian digambarkan dalam Kitab Wahyu sebagai mereka “yang mengikuti Anak Domba itu [Yang adalah Yesus Ekaristik] ke mana saja Ia pergi.” Dan jiwa-jiwa inilah, tulisnya, yang akan menyanyikan suatu nyanyian baru, yakni nyanyian mereka yang telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Yesus dalam Sakramen Mahakudus, Anak Domba yang tak bercela (Wahyu 14:4, 14:3 & 7:14).
Marilah mengikuti jejak langkah Beata Kateri Tekakwitha - Lili dari Mohawk dan Lili dari Ekaristi Kudus - menuju Tahta Kasih Anak Domba Ekaristik, menyanyikan bersamanya nyanyian hari yang baru, “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa” (Wahyu 4:11). Sebab mereka yang menyambut dan menghaturkan adorasi kepada-Nya, yang dicuci putih bersih dalam Ekaristi Kudus, akan diubah menjadi bunga-bunga lili dari Ekaristi, dan “Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka” (Wahyu 7:17b). Dan mereka akan melihat fajar di mana “kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya” (Wahyu 21:23b).
Lili kemurnian, penghibur dari Hati Ekaristik Yesus, terang cemerlang bagi segenap kaum Indian, keberanian dari mereka yang tertindas, kekasih dari Salib Yesus, bunga yang gagah perkasa dari mereka yang dianiaya yang mengasihi Yesus dalam Sakramen Mahakudus - doakanlah kami.
Yang Terbaru:
Yang Tetap:
Belum menemukan informasi yang Anda butuhkan? Silakan pergunakan fasilitas Google Search untuk mempermudah pencarian dengan mengetikkan kata kunci, misalnya “perpuluhan”.
Kontak Webmaster : yesaya@indocell.net
Website Media Bina Iman Katolik YESAYA
Sejak November 2000
Last updated : 1 Oktober 2008
Best Viewed : 1024 by 768
Main Sources :
1. The Young Saints Club; translated by permission of Joseph Roalef CC; www.geocities.com/Athens/1619
2. Catholic1 Publishing Company; translated by permission of Fr. Richard Lonsdale; www.catholic1.com
3. Bread on the Waters; translated by permission of Fr. Victor Hoagland; www.cptryon.org;
4. Karya Kepausan Indonesia; materi KKI dikutip atas ijin Rm. Terry Ponomban, Pr, Direktur Nasional KKI 1998-2003
5. Father Peffley's Web Site; translated by permission of Fr. Peffley; www.transporter.com/fatherpeffley
6. Saint a Day, by Sr. Susan H. Wallace, FSP, Copyright © 1999, Daughters of St. Paul. Used by permission of Pauline Books & Media, 50 St. Paul's Avenue, Boston, MA 02130. All rights reserved.
7. Ave Maria; materi dari majalah Ave Maria dikutip atas ijin Marian Centre Indonesia
8. Catholic Tradition; translated by permission of Pauly Fongemie; www.catholictradition.org
9. Straight Answers by Father William P. Saunders; translated by permission of Michael Flach - Editor, The Arlington Catholic Herald; www.catholicherald.com
10. Catholic Radio Dramas; translated by permission of Patrick G. O'Neill - Director, Catholic Radio Dramas; www.catholicradiodramas.com
11. Catholic Information Network (CIN); translated by permission of Maryanne - webmaster; www.cin.org
12. Catholic Spiritual Direction; translated by permission of Joe Koz; www.jesus-passion.com
13. Sacred Heart Organization Israel; translated by permission of Marianne; http://my.homewithgod.com/israel/
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||