Media Bina Iman Katolik
YESAYA
(YESus SAyang saYA)
yesaya.indocell.net


Edisi Mei 2017




"Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau."

(Yesaya 43:1,4)




SELAMAT DATANG di situs YESAYA (YESus SAyang saYA)!

MISI YESAYA:
mewartakan iman Katolik yang benar, yang selaras dengan ajaran Magisterium Gereja, agar umat Katolik semakin tahu dan paham apa yang diyakininya, dan dihantar untuk semakin mencintai imannya; bangga menjadi seorang Katolik!

IJIN RESMI:
Bahan-bahan utama dalam situs ini diterjemahkan dengan ijin resmi dari sumber-sumber berikut:
1.   Straight Answers by Father William P. Saunders; translated by permission of Michael Flach - Editor, The Arlington Catholic Herald; www.catholicherald.com
2.   Saint a Day, by Sr. Susan H. Wallace, FSP, Copyright © 1999, Daughters of St. Paul. Used by permission of Pauline Books & Media, 50 St. Paul's Avenue, Boston, MA 02130.
3.   Father Peffley's Web Site; translated by permission of Father Francis J. Peffley;  www.fatherpeffley.org
4.   Bread on the Waters; translated by permission of Father Victor Hoagland; www.cptryon.org
5.   Catholic1 Publishing Company; translated by permission of (late) Father Richard Lonsdale
6.   Catholic Radio Dramas; translated by permission of Patrick G. O'Neill - Director, Catholic Radio Dramas; www.catholicradiodramas.com
7.   Catholic Tradition; translated by permission of Pauly Fongemie; www.catholictradition.org
8.   Catholic Spiritual Direction; translated by permission of Joe Koz; www.jesus-passion.com
9.   Catholic Information Network (CIN); translated by permission of Maryanne; www.cin.org
10. Sacred Heart Organization Israel; translated by permission of Marianne; http://my.homewithgod.com/israel
11. Catholic Spiritual Direction by Father John Bartunek, LC, ThD and Dan Burke; translated by permission of Dan Burke; www.rcspiritualdirection.com/blog
12. Miracles of the Church, Mystics of the Church, Miracles of the Saints, St Paul of the Cross, St Gemma Galgani; translated by permission of Glenn Dallaire; www.miraclesofthechurch.com; www.mysticsofthechurch.com; www.miraclesofthesaints.com; www.saintpaulofthecross.com; www.stgemmagalgani.com


IKUT SERTA MENYEBARLUASKAN ARTIKEL:
1. Dipersilakan mengutip / menyebarluaskan artikel-artikel yang ada di situs YESAYA dengan ketentuan:
a. tidak mengubah apapun dalam artikel
b. menyebutkan sumber asli dan terjemahan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net
c. untuk tujuan pewartaan non-komersiil
2. Untuk keperluan di luar ketentuan di atas, silakan kontak webmaster: yesaya@indocell.net
3. Pelanggaran point 1 & 2 di luar tanggung-jawab YESAYA. Apabila pembaca mengetahui adanya pelanggaran, mohon kesediaannya untuk menginformasikan kepada Yesaya.

PEMBIMBING ROHANI:

INFO YESAYA:




KALENDER LITURGI: MEI 2017


MINGGU
SENIN
SELASA
RABU
KAMIS
JUMAT
SABTU
1



Kis. 6:8-15
Yoh. 6:22-29
2



Kis. 7:51-8:1a
Yoh. 6:30-35
3


1Kor. 15:1-8
Yoh. 14:6-14
4


Kis. 8:26-40
Yoh. 6:44-51
5


Kis. 9:1-20
Yoh. 6:52-59
6


Kis. 9:31-42
Yoh. 6:60-69
7
HM Paskah IV
HM Panggilan

Kis. 2:14a,36-41
1Ptr. 2:20b-25
Yoh. 10:1-10
8


Kis. 11:1-18
Yoh. 10:11-18
9


Kis. 11:19-26
Yoh. 10:22-30
10

Kis. 12:24-13:5a
 Yoh. 12:44-50
11


Kis. 13:13-25
Yoh. 13:16-20
12

Kis. 13:26-33
Yoh. 14:1-6
13



Kis. 13:44-52
Yoh. 14:7-14
14
HM Paskah V


Kis. 6:1-7
1Ptr. 2:4-9
Yoh. 14:1-12
15


Kis. 14:5-18
Yoh. 14:21-26
16



Kis. 14:19-28
Yoh. 14:27-31a
17



Kis. 15:1-6
Yoh. 15:1-8
18



Kis. 15:7-21
Yoh. 15:9-11
19



Kis. 15:22-31
Yoh. 15:12-17
20


Kis. 16:1-10
Yoh. 15:18-21
21
HM Paskah VI


Kis. 8:5-8,14-17
1Ptr. 3:15-18
Yoh. 14:15-21
22



Kis. 16:11-15
Yoh. 15:26 - 16:4a
23


Kis. 16:22-34
Yoh. 16:5-11
24


Kis. 17:15,22-18:1
Yoh. 16:12-15
25


Kis 1:1-11
Mat 28:16-20
26



Kis. 18:9-18
Yoh. 16:20-23a
27


Kis. 18:23-28
Yoh. 16:23b-28
28
HM Paskah VII
HM Komunikasi
Sedunia
Kis. 1:12-14
1Ptr. 4:13-16
Yoh. 17:1-11a
29



Kis. 19:1-8
 Yoh. 16:29-33
30




Kis. 20:17-27
Yoh. 17:1-11a
31
Zef. 3:14-18a atau Rm. 12:9-16b
Luk. 1:39-56
1



Kis. 22:30; 23:6-11
Yoh. 17:20-26
2


Kis. 25:13-21
Yoh. 21:15-19
3


Kis. 28:16-20,30-31; Yoh. 21:20-25
4
HR Pentakosta


Kis. 2:1-11
1Kor. 12:3b-7,12-13; Yoh. 20:19-23
5



Tob. 1:1a,2a,3
Mrk. 12:1-12
6



Tob. 2:9-14
 Mrk. 12:13-17
7


Tob. 3:1-11a,16-17a
Mrk. 12:18-27
8

Tob. 6:10-11; 7:1,6,8-13; 8:1,5-9
Mrk. 12:28b-34
9



Tob 11: 5-17
Mrk 12:35-37
10


Tob. 12: 1,5-15,20
 Mrk. 12:38-44





PERUMPAMAAN TENTANG ANAK YANG MENGHAMBURKAN HARTA
dikutip dari: Puisi Manusia-Allah, Vol. 3

"Dengarkanlah. Sebuah perumpamaan yang indah yang akan membimbingmu dengan terangnya dalam banyak perkara.

Seorang laki-laki mempunyai dua orang putera. Yang sulung adalah seorang pekerja yang serius, penuh kasih sayang dan taat. Yang bungsu lebih inteligen dari saudaranya yang sesungguhnya agak lamban dan lebih suka dibimbing daripada bersusah-payah mengambil keputusan sendiri, tetapi si bungsu ini juga seorang pemberontak, acuh tak acuh, suka kemewahan, pecinta kesenangan, seorang yang suka menghamburkan uang dan bermalas-malasan. Inteligensi adalah karunia besar dari Allah. Tetapi anugerah yang harus dipergunakan secara bijaksana. Jika tidak, akan seperti obat-obatan tertentu yang, ketika dipergunakan secara salah, malah membunuh dan bukannya menyembuhkan. Sang bapa, sebab adalah hak dan kewajibannya, biasa mengingatkan si bungsu untuk hidup dengan berpikir lebih jernih. Namun semuanya sia-sia, satu-satunya hasilnya adalah bahwa dia membantah dan menjadi semakin berdegil dalam gagasan-gagasan jahatnya.

Akhirnya suatu hari, sesudah suatu pertengkaran yang amat sengit, si bungsu berkata: 'Berilah aku bagian warisanku. Supaya aku tidak akan lagi mendengar teguran-teguranmu dan keluhan-keluhan saudaraku. Biarlah masing-masing mendapatkan bagiannya sendiri dan selesai sudah.'

"Berhati-hatilah,' jawab si bapa, 'sebab kau akan segera kehilangan semuanya. Lalu, apa yang akan kau lakukan? Pikirkanlah bahwa aku tidak akan berlaku tidak adil dengan berat sebelah terhadapmu dan aku tidak akan mengambil barang sepeser pun dari saudaramu untuk diberikan padamu.'

"Aku tidak akan meminta apa pun lagi darimu. Kau dapat pastikan itu. Berikanlah padaku bagianku.'

Si bapa memerintahkan agar properti dan barang-barang berharga miliknya ditaksir nilainya, dan sebab uang dan perhiasan-perhiasan setara nilainya dengan properti, dia memberikan kepada si sulung ladang-ladang dan kebun-kebun anggur, kawanan ternak dan pepohonan zaitun, dan kepada si bungsu uang dan perhiasan-perhiasan, yang oleh si pemuda segera ditukarkan dengan uang. Dan sesudah melakukan itu, dalam beberapa hari, dia pergi ke suatu negeri yang jauh di mana dia hidup bagai seorang tuan, dengan menghambur-hamburkan semua uangnya dalam hidup amoral, meyakinkan orang bahwa dia adalah putera seorang raja, sebab dia malu mengakui bahwa dia adalah seorang desa dan dengan demikian dia memungkiri bapanya. Perjamuan-perjamuan, teman-teman, para perempuan, jubah-jubah, anggur, permainan... dia menempuh hidup bebas. Sebentar saja dia mendapati bahwa uangnya akan segera habis dan bahwa kemiskinan ada di depan mata. Dan semakin memperparah keadaan, negeri itu mengalami bencana kelaparan hebat, yang memaksanya untuk membelanjakan sen terakhirnya. Dia ingin kembali kepada bapanya. Tetapi dia terlalu sombong dan memutuskan tidak. Jadi dia pergi kepada seorang kaya di negeri itu, seorang teman di hari-hari suka-rianya, dan dia memohon dengan berkata: 'Terimalah aku di antara para pelayanmu, mengingat hari-hari ketika engkau menikmati kekayaanku.' Lihatlah, betapa bodohnya dia! Dia lebih memilih cambukan seorang tuan daripada berkata kepada bapanya: 'Ampuni aku. Aku bersalah!' Si pemuda sudah belajar banyak hal sia-sia dengan inteligensinya yang cemerlang, akan tetapi dia tidak mau belajar dari nasehat si Pengkhotbah: 'Serupa penghujat barangsiapa meninggalkan bapanya, dan terkutuklah oleh Tuhan orang yang mengerasi ibunya.' Dia berinteligensi, tetapi tidak bijak.

Laki-laki kepada siapa dia memohon, sebagai ganti saat bersenang-senang yang dinikmatinya bersama si pemuda bodoh itu, menyuruhnya memelihara babi-babi, sebab itu adalah sebuah negeri kafir dan ada banyak babi. Jadi dia disuruh menggembalakan kawanan babi di pertanian. Dekil, compang-camping, bau busuk dan kelaparan - makanan sesungguhnya sangat sedikit untuk seluruh pelayan dan teristimewa untuk para pelayan yang paling rendah dan dia, seorang asing penggembala babi yang diolok-olok dianggap demikian. Dia melihat babi-babi dengan lahap makan buah-buah pohon oak dan dia mendesah: 'Aku berharap aku dapat mengisi perutku dengan buah ini! Tetapi buah-buah ini terlalu pahit! Bahkan kelaparan tidak dapat menjadikan buah ini bisa dimakan.' Dan dia menangis teringat perjamuan mewah ketika dia berlagak sebagai 'seigneur agung' baru beberapa waktu berselang, dengan tertawa-tawa, menyanyi, menari… dan lalu dia teringat akan perjamuan berlimpah di rumahnya yang nun jauh, akan porsi makanan yang biasa dibagikan secara merata oleh bapanya untuk semua orang, dengan menyisihkan porsi yang paling kecil untuk dirinya sendiri, sebab bahagia melihat selera makan putera-puteranya yang lahap… dan dia teringat akan porsi yang diberikan oleh bapanya yang seorang benar kepada para pelayan, dan dia menghela napas: 'Pelayan-pelayan bapaku, bahkan yang paling rendah, punya banyak roti… dan aku di sini mati kelaparan… Suatu permenungan panjang, suatu pergulatan panjang demi menundukkan kesombongannya…

Akhirnya datang harinya, ketika kerendahan hati dan kebijaksanaannya muncul kembali dan dia bangkit berdiri dan berkata: 'Aku akan pulang kepada bapaku! Kesombonganku ini sungguh bodoh, sebab menjauhkanku dari kebebasanku. Dan mengapa? Mengapa aku harus menderita dalam tubuhku dan terlebih dalam hatiku apabila aku dapat diampuni dan mendapatkan kelegaan? Aku akan pulang kepada bapaku. Keputusanku bulat. Dan apakah yang akan aku katakan kepadanya? Apa yang sudah dewasa dalam hatiku di sini, dalam kehinaan ini, dalam keterpurukan ini, menderita perihnya perut akibat kelaparan! Aku akan mengatakan kepadanya: "Bapa, aku telah berdosa terhadap Surga dan terhadap engkau, aku tak lagi pantas disebut puteramu; oleh sebab itu perlakukan aku sebagai yang paling rendah di antara para pelayanmu, tetapi sudi ijinkan aku tinggal di bawah atap rumahmu. Supaya aku dapat melihatmu berlalu-lalang…" Aku tak dapat mengatakan kepadanya: "… sebab aku mengasihimu." Dia tidak akan percaya padaku. Tetapi perilakuku akan mengatakannya padanya dan dia akan mengerti dan sebelum meninggal dia akan sekali lagi memberkatiku… Oh! Aku sungguh berhadap demikian. Sebab bapaku mengasihi aku.' Dan ketika dia kembali ke kota sore harinya, dia berhenti dari pekerjaannya dan mengemis sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Dan dia melihat ladang-ladang milik bapanya… dan rumah… dan bapanya tengah mengawasi pekerjaan… Dia lanjut usia, tubuhnya menjadi kurus oleh dukacita tetapi selalu baik dan lembut hati… Si anak yang bersalah melihat penderitaan bapa yang diakibatkan oleh dirinya dan dia berhenti ketakutan… tetapi si bapa, yang melihat sekeliling, melihatnya dan berlari menyongsongnya, sebab dia masih jauh. Dan ketika sampai padanya, bapa melingkarkan kedua tangannya sekeliling leher puteranya itu dan menciumnya. Hanya si bapa yang telah mengenali puteranya dalam diri seorang pengemis yang terbuang dan dia adalah satu-satunya yang tergerak oleh kasih.  

Si anak, yang direngkuh dalam pelukan bapanya, dengan kepalanya bersandar pada bahu bapanya, berbisik dalam isak-tangis: 'Bapa, biarkan aku menjatuhkan diriku di kakimu.'   

'Tidak, nak! Tidak di kakiku. Beristirahatlah dalam hatiku, yang telah begitu sangat menderita karena ketidak-hadiranmu, dan sekarang perlu dihidupkan kembali dengan merasakan kehangatanmu pada dadaku.'

Dan si anak, menangis dengan terlebih keras, berkata: 'Oh! bapa! Aku telah berdosa terhadap Surga dan terhadap engkau, aku tidak lagi pantas disebut anak olehmu. Tetapi ijinkanlah aku untuk tinggal di antara para pelayanmu, di bawah atap rumahmu, melihatmu, makan rotimu, melayanimu, dan engkau akan menjadi napas hidupku. Setiap saat aku menyantap potongan roti, setiap saat engkau bernapas, hatiku, yang begitu rusak, akan berubah dan aku akan menjadi jujur…'    

Namun si bapa, yang memeluknya sepanjang waktu, menghantarkannya pada para pelayan, yang sudah berkumpul sekeliling menyaksikan di kejauhan dan dia berkata kepada mereka: 'Cepat, bawakan kemari jubah terbaik, dan baskom berisi air wangi, dan basuhlah dia, minyaki dia dengan harum-haruman, kenakan jubah padanya, pasangkan sandal baru pada kakinya dan sebuah cincin pada jarinya. Ambil seekor anak sapi tambun dan sembelihlah. Dan persiapkanlah suatu perjamuan. Sebab puteraku ini sudah mati dan telah hidup kembali, dia hilang dan telah ditemukan kembali. Sekarang aku ingin dia menemukan sekali lagi kasih tak berdosa seorang anak, dan kasihku dan perayaan seisi rumah atas kepulangannya ini haruslah memberikan itu padanya. Dia harus sadar bahwa dia selalu adalah anak bungsuku terkasih, seperti dia dulu di masa kanak-kanaknya lama waktu berselang, ketika dia biasa berjalan tertatih-tatih di sampingku dan membuatku bahagia dengan senyumnya dan celotehannya.' Dan para pelayan pun melakukan yang demikian.

Si putera sulung sedang pergi di desa dan dia tidak tahu apa-apa hingga kepulangannya. Sementara menuju rumah di sore hari, dia melihat bahwa rumah dinyalakan terang-benderang dan dia mendengar suara musik dan tari-tarian dari dalamnya. Dia memanggil seorang pelayan yang sedang sibuk kian kemari dan bertanya padanya: 'Apa yang sedang terjadi?'   

Dan pelayan menjawab: 'Saudaramu telah pulang kembali! Bapamu menyuruh menyembelih seekor anak sapi tambun sebab puteranya telah kembali kepadanya dalam keadaan selamat dan sembuh dari kejahatannya dan dia memerintahkan diadakan sebuah perayaan. Mereka hanya menunggu engkau untuk memulai perayaan.'

Akan tetapi si sulung murka sebab dia pikir bahwa pesta yang demikian bagi adiknya adalah tidak adil, sebab bukan saja dia lebih muda, tetapi dia telah berperilaku jahat. Dan dia tidak mau masuk, sebaliknya di hendak berjalan pergi dari rumah.

Namun si bapa, yang mendengar kabar mengenainya, berlari keluar dan menyusulnya dan berupaya meyakinkan puteranya, memohonnya untuk tidak merusakkan sukacitanya. Si sulung menjawab kepada bapanya: 'Dan engkau berharap aku tidak marah? Engkau tidak adil terhadap putera sulungmu dan kau membuatnya muak. Aku sudah melayanimu sejak aku dapat bekerja, dan aku sudah melakukan itu selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah tidak mentaati perintahmu, bahkan untuk suatu keinginan yang sepele. Aku selalu ada dekatmu, dan telah mengasihimu duakali lipat, demi menyembuhkanmu dari luka yang diakibatkan adikku atasmu. Dan kau berlum pernah memberiku bahkan seekor anak domba untuk berpesta bersama teman-temanku. Sekarang engkau memuja adikku dan engkau telah menyembelih anak sapi terbaik untuk dia, yang sudah menghina dan meninggalkanmu, dan yang selama ini adalah seorang pemalas yang menghambur-hamburkan harta, dan sekarang telah pulang kembali sebab dia terdesak oleh kelaparan. Sungguh bernilai menjadi seorang pekerja keras yang jujur! Engkau tidak sepatutnya berlaku demikian terhadapku.'

Lalu si bapa, dengan mendekapkan si sulung pada dadanya, berkata: 'Nak! Dapatkah kau percaya bahwa aku tidak mengasihimu, sebab aku tidak merayakan perilakumu? Perbuatan-perbuatanmu itu sendiri adalah kudus, dan dunia memujimu karenanya. Saudaramu, sebaliknya, butuh dipulihkan baik di hadapan dunia maupun di hadapan dirinya sendiri. Dan apakah kau pikir bahwa aku tidak mengasihimu sebab aku tidak memberimu ganjaran yang kasat mata? Tetapi siang dan malam, dalam setiap saat hidupku, kau ada dalam hatiku, dan aku memberkatimu setiap saat. Kau punya ganjaran yang terus-menerus dari keberadaanmu yang selalu bersamaku, dan apa yang adalah milikku adalah milikmu. Tetapi adalah adil untuk mengadakan suatu pesta, suatu perayaan untuk saudaramu yang sudah mati dan sudah kembali pada hidup yang benar, hilang dan telah kembali kepada kasih kita.'

Dan si sulung pun menyerah pada kehendak bapanya.

Dan itulah, sahabat-sahabat-Ku, apa yang terjadi di Rumah Bapa. Dan barangsiapa merasa bahwa dia seperti si bungsu dari perumpamaan itu, haruslah percaya bahwa jika dia meneladaninya dengan pergi kepada Bapa, maka Bapa akan berkata kepadanya: 'Tidak di kaki-Ku. Beristirahatlah dalam hati-Ku, yang telah menderita karena ketidak-hadiranmu dan sekarang bahagia sebab kau telah kembali.' Barangsiapa ada dalam situasi si sulung dan tanpa kesalahan apapun terhadap Bapa, janganlah iri akan sukacita Bapa, melainkan haruslah ikut ambil bagian di dalamnya dan mengasihi saudara yang ditebus."
Selengkapnya silakan baca "PUISI MANUSIA-ALLAH"





"Publikasikan karya ini [Puisi Manusia-Allah] seperti apa adanya. Tidaklah perlu memberikan pendapat mengenai asal-usulnya, apakah luar biasa atau tidak. Barangsiapa membacanya akan mengerti."

~ Paus Pius XII

Instruksi disampaikan di Vatican di hadapan saksi-saksi resmi pada tanggal 26 Februari 1948. Patut dicatat, approval Paus Pius XII ini lebih dari sekedar Imprimatur.
(pontifikat: 1939-1958)




"PUISI MANUSIA-ALLAH"
(INJIL SEBAGAIMANA DIWAHYUKAN KEPADAKU)

Maria Valtorta (1897-1961)

198.
Yesus Bertemu BundaNya di Betania
199.
Yesus Pergi Kepada Para Penderita Kusta di Siloam dan Ben-Hinom. Kuasa Perkataan Maria
200.
Aglae Menemui sang Guru
201.
Marjiam Diuji
202.
Di Bait Allah Pada Malam Paskah
203.
"Bapa Kami"
204.
Yesus kepada Orang-orang Bukan Yahudi: Iman Dibangun Seperti Kuil Kalian
205.
Perumpamaan Tentang Anak Yang Menghamburkan Harta
...




Setahun sebelum wafat Padre Pio, seorang perempuan bernama Ny Elisa Lucchi menanyakan kepadanya apakah ia menganjurkannya membaca "Puisi Manusia-Allah" oleh Maria Valtorta. Padre Pio menjawab, "Aku tak hanya menganjurkannya, aku mendesakmu untuk membacanya!"

Pater Leo, yang menjadi imam pribadi Beata Teresa dari Calcutta selama tiga tahun, memperhatikan bahwa sang biarawati selalu membawa tiga buku bersamanya, ke manapun ia pergi. Yang satu adalah Kitab Suci dan yang lain adalah Brevir. Pater Leo menanyakan buku yang ketiga, dan itu adalah "Puisi Manusia-Allah" oleh Maria Valtorta. Ia menanyakan kepada Moeder Teresa buku tentang apa itu, dan sang beata mengatakan kepadanya "Bacalah." Sang imam bertanya lagi, dan ia menanggapi dengan jawaban yang sama, "Bacalah." Lebih lanjut, pada tahun 1996, Beata Teresa mengajukan satu permintaan pribadi kepada seniman Susan Conroy untuk menggambarkan lukisan Bunda Maria sebagaimana Ia tampak menurut penggambaran Maria Valtorta.

Penglihatan dan Dikte Yesus kepada Uskup Agung Don Ottavio Michelini, "Aku telah mendiktekan kepada Maria Valtorta, suatu jiwa yang berkurban, suatu karya yang mengagumkan. Mengenai karya ini, Aku-lah Pengarangnya."

Vicka Ivankovic-Mijatovic, Visionaris Medjugorje: "Bunda Maria mengatakan bahwa jika seorang ingin mengenal Yesus dia hendaknya membaca Puisi Manusia-Allah oleh Maria Valtorta. Buku itu adalah kebenaran." (Wawancara dengan Attorney Jan Connell dari Pittsburgh Center for Peace, 27 Januari 1988)




25 Mei
HR KENAIKAN TUHAN
26 Mei - 3 Juni
NOVENA ROH KUDUS
31 Mei
SP MARIA MENGUNJUNGI ELISABET
4 Juni
HR PENTAKOSTA




Yang Tetap:
 EDISI YESAYA SEBELUMNYA
 ALLAH TRITUNGGAL MAHAKUDUS
 GEREJA KATOLIK (Hierarki, Magisterium, …)
 SAKRAMEN & SAKRAMENTALI
 SAKRAMEN EKARISTI (Perayaan Ekaristi, Komuni Kudus, Adorasi, Mukjizat, Kesaksian …)
 KITAB SUCI, KEUTAMAAN, SPIRITUALITAS & KOMUNITAS KRISTIANI
 MASA ADVEN & NATAL
 MASA PRAPASKAH & PASKAH
MENGUNJUNGI GEREJA KATOLIK (Tempat Ibadat, Perangkat Liturgis,…)
 SERBA-SERBI IMAN KATOLIK
 DOA & DEVOSI (Macam2 Doa, Devosi, Meditasi, …)
 BUNDA MARIA (Dogma, Devosi, Penampakan, …)
 ST YOSEF, PARA MALAIKAT & PARA KUDUS
 RIWAYAT SANTA & SANTO
 ZIARAH IMAN BERSAMA PARA KUDUS
 HIDUP MANUSIA (Keluarga, Feminisme, Seksualitas, Kontrasepsi, Aborsi, Eutanasia, Kematian, …)
 KEHIDUPAN SESUDAH MATI (Api Penyucian, Surga, Neraka, …)
 KATEKESE (berbagai topik)
 SUARA GEMBALA
 ANDA BERTANYA, KAMI MENJAWAB
 TANYA JAWAB IMAN KATOLIK
 YANG MENARIK & YANG LUCU



Kontak Webmaster : yesaya@indocell.net






Website Media Bina Iman Katolik YESAYA
Sejak November 2000
Last updated : Mei 2017